
Gara-gara Ira takut gelap, hampir semalaman Arvin tidak bisa tidur karena dia harus meladeni asistennya itu ngobrol di ruang tamu. Padahal perjanjian awalnya, Ira hanya meminta bosnya itu menemaninya saja dan dia boleh tidur di sofa karena yang penting bagi Ira, ada orang lain di dekatnya. Namun, kecerewetan Ira membuat Arvin mau tidak mau menjawab semua hal yang gadis itu bicarakan, meski dia hanya menjawab dengan jawaban iya dan tidak.
Pagi itu Arvin dan Ira baru bangun saat jarum jam berhenti diangka delapan. Beruntung hari ini tidak ada jadwal bertemu dengan klien. Keduanya langsung menuju ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Tidak lama kemudian, Arvin dan Ira sama-sama keluar dari kamar mereka.
"Pak, Bapak mau ke mana?" tanya Ira saat melihat bosnya tersebut hendak membuka pintu.
"Mau keluar cari sarapan," jawab Arvin, mendengar hal itu, Ira langsung menekuk wajahnya. "Kenapa wajah kamu ditekuk gitu?"
"Pak Arvin jahat!"
"Eh, apa maksudmu bilang aku jahat?" tanya Arvin sambil menatap Ira bingung.
"Pak Arvin mau keluar cari makanan, tetapi tidak mau ngajak aku, apa artinya itu kalau tidak jahat?"
"Memangnya kalau aku nggak ngajak kamu, kamu gak bakalan ikut?" tanya Arvin sambil menatap asistennya itu.
"Walau Pak Arvin nggak ngajak aku, aku tetep bakalan ngikutin Pak Arvin."
"Nah kan. Sudah tahu jawabannya kenapa aku gak ngajak kamu kan? Aku tahu, meski tanpa aku ajak pun kamu pasti bakalan ikut. Jadi, aku aku gak perlu nawarin kamu mau ikut apa enggak karena ujung-ujungnya kamu pasti tetep bakalan ikut." Mendengar jawaban Arvjn Ira hanya menunjukan deretan gigi-gigi putihnya.
"Lagian harusnya cari sarapan itu tugas kamu sebagai asistenku. Eh, ini malah kebalikannya, aku yang harus nyari makanan buat asistenku," oceh Arvin.
"Ya udah Pak Arvin duduk aja, biar aku yang cariin sarapan buat kita. Kalau soal nyari makan doang aku bisa kok, Pak."
"Bener kamu bisa?" tanya Arvin. Dia menatap asistennya itu dengan tatapan ragu.
"Bisa Pak, tinggal beli makan doang kan?"
Arvin mengangguk.
"Ya udah, Pak, sini biar aku yang beli!" Ira meminta uang kepada Arvin untuk membeli makanan tersebut.
"Yakin kamu bisa membeli makanan itu?" tanya Arvin sekali lagi.
"Bisa, Pak. Jangan khawatir," jawab Ira penuh percaya diri. Dia yakin bisa melaksanakan tugas kecil dari bosnya itu.
"Nasi saja," jawab Arvin. Dia segera mengambil uang seratus ribuan dari dalam dompet dan menyerahkannya kepada Ira.
"Ini kamu beli dua nasi. Satu untukku dan satu lagi buat kamu. Ingat! Aku minta nasi pakai gudeg dan sate ayam. Kamu sendiri terserah mau nasi pakai lauk apa," ujar Arvin.
"Oke, aku beliin sekarang ya, Pak!" pamit Ira.
"Ingat jangan sampai kamu salah beli, aku mau nasi dengan lauk gudeg dan sate ayam, bukan sate kambing ya." Sekali lagi Arvin mengingatkan.
"Iya, Pak, tenang saja. Aku berangkat sekarang ya, Pak!" pamit Ira.
Arvin mengangguk. Ira segera berjalan keluar dari villa untuk membeli makanan sesuai pesanan bosnya.
"Semoga saja dia benar-benar bisa diandelin," gumam Arvin setelah asistennya tersebut pergi meninggalkan villa. Namun, belum ada satu menit asistennya itu meninggalkan villa, dia sudah kembali berdiri di hadapan Arvin.
"Kok sudah balik?" tanya Arvin sambil menatap asistennya itu.
"Pak.... "
"Jangan bilang kalau duitnya jatuh terus ilang lho ya," sela Arvin.
"Tenang, Pak. Kalau masalah duit mah aman."
"Terus?"
"Anu, Pak. E... apa itu namanya.... "
"Ada apa?" tanya Arvin. "Katakan saja!"
"Aku tidak tahu di mana letak restorannya." Jawaban Ira sontak membuat Arvin menepuk jidatnya sendiri.
🌸🌸🌸
Nb: Hai gaes, maaf ya karena sudah beberapa hari otor gak up🙏🏼. Otor pengen banget bisa up tiap hari lebih dari satu bab. Tapi, jujur kemarin itu tiap lihat layar kepala otor pusing dan ujung-ujungnya mau muntah. Makanya otor kurangin lihat layarnya. Sekarang udah mulai mendingan, semoga mulai sekarang bisa up tiap hari. Terima kasih.