
"Maaf ya, Ga, aku angkat telepon dulu." Ira menjawab teleponnya terlebih dulu. Ternyata yang menelepon adalah Arvin.
"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Ira.
"Kamu di mana? Awas ya jangan jauh-jauh dari villa kalau jalan. Aku nggak mau harus mencarimu saat kamu tersesat nantinya," omel Arvin dari seberang sana.
"Iya, Pak. Aku tahu, aku nggak akan jauh-jauh kok dari villa," jawab Ira.
"Siapa? Arvin?" tanya Arga setelah mendengar suara Arvin di ujung sana.
Ira menjawabnya dengan anggukan.
"Kamu keliahatannya tunduk bnget sama Arvin, apa kamu takut sama dia?" tanya Arga kepada Ira.
"Bukan takut, tapi, emang selama aku di kota yang asing ini dia adalah satu-satunya orang yang menjadi tempat aku bersandar. Ya, meski kadang dia nyebelin sih," jawab Ira.
"Hei, apa yang kamu bilang barusan? Siapa yang nyebelin?" tanya Arvin dari ujung sana saat itulah Ira menyadari kalau dia belum mengakhiri pembicaraan dengan bosnya.
"Eh, nggak kok Pak. Itu yang nyebelin tukang becak waktu itu," jawab Ira. "Sudah nggak ada yang ingin Bapak katakan lagi kan? Aku tutup sekarang ya, Pak?" Tanpa menunggu jawaban dari Arvin, Ira sudah menekan tombol merah pada layar ponselnya.
"Oiya, tadi kamu bilang kalau kamu pernah bertemu denganku waktu aku umur 6/7 tahun kan? Kalau boleh tahu dimana dan kapan? Jujur aku nggak ingat apapun soal kamu?" tanya Ira. Dia berusaha mengingat kejadian ketika dia berumur sekitar itu. Namun, dia tidak mendapatkan gambaran apapun.
"Ternyata benar kalau kamu memang lupa dengan kejadian itu. Padahal waktu itu kamu menyuruhku untuk berjanji."
"Benarkah? Memang aku menyuruhmu untuk berjanji apa?" tanya Ira yang penasaran dengan janji yang pernah diucapkannya waktu kecil.
"Kamu memintaku untuk menikahimu saat dewasa nanti," jawab Arga.
"Sungguh aku menyuruhmu begitu?" tanya Ira lagi.
"Benar. Kamu bahkan menyuruhku untuk tidak dekat dengan gadis lain," jawab Arga lagi.
"Apa aku juga seperti itu?" tanya Ira lagi dan dijawab dengan anggukan oleh Arga.
"Ya, Tuhan, ternyata aku secentil itu. Tapi, kenapa aku tidak mengingatnya ya." Ira berusaha kembali untuk mengingat kejadian masa kecilnya itu.
"Ohya, Arga. Kamu nggak seperti Pak Lee yang ada di drama itu kan yang percaya dengan janji anak kecil?" tanya Ira sambil menatap ke arah Arga.
"Sayangnya aku percaya. Dan itulah yang membuatku menyusulmu ke sini." Jawaban Arga membuat Ira langsung terdiam. Dia tidak tahu harus berbicara apa lagi karena dia memang tidak mengingat janji yang pernah diucapkannya semasa kecil.
"Kamu jangan khawatir, karena kamu tidak mengingat janjimu, anggap saja kita baru kenal. Jadi, jangan merasa risih atau tidak enak gara-gara janji itu," timpal Arga.
"Tapi, tetap saja. Kamu kan ke sini karena janji itu. Maafkan aku ya, Ga, karena aku nggak ingat apapun soal janji itu," ucap Ira, dia merasa tidak enak hati karena sudah membuat Arga menyusulnya ke Jogja.
"Baiklah, aku akan terima maaf darimu asal.... " Arga menggantung kalimatnya.
"Asal apa?"
"Asal hari ini kamu mau menemaniku jalan-jalan," jawab Arga. "Kamu tidak ada pekerjaan kan hari ini?"
Ira memikirkan permintaan Arga barusan.
"Bagaimana?" tanya Arga lagi.
Dari kejauhan ada seseorang yang diam-diam memperhatikan mereka.
πΈπΈπΈ
Nah lho kira-kira Ira mau nggak ya diajak jalan-jalan sama Arga?π€