Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Goyang



Rencananya setelah mengunjungi beberapa tempat wisata, Arvin dan Ira akan langsung berangkat ke Jakarta. Selain karena memang libur semester telah tiba, Ira juga sangat merindukan kedua orang tua dan adiknya. Sudah hampir enam bulan Ira tidak bertemu dengan mereka karena kesibukannya. Dia ingin menghabiskan waktu bersama keluarga sebelum semester berikutnya tiba.


Dengan memakai kaos polos berwarna navy yang dipadu padankan dengan celana chino dan sepatu snaker berwarna putih, Arvin sudah siap untuk melalui liburannya kali ini bersama Ira. Pria itu sudah berdiri di depan pintu kosan sambil memainkan ponsel di tangan.


"Ra, ayo cepetan dong! Nanti keburu makin panas!" Arvin menyuruh kekasihnya untuk mempercepat dandanannya.


"Iya, sebentar," sahut Ira dari dalam kosan. Lima menit kemudian wanita berambut panjang dengan mata kecoklatan itu keluar. Ira yang mengenakan perpaduan atasan off-shoulder top hitam yang polos dan bawahan palazzo merah maroon membuat penampilan Ira juga tidak kalah menarik. Wanita itu juga memakai sepatu sneker berwarna putih.


"Ish, kenapa Pak Arvin kelihatan tampan banget sih?" keluh Ira dalam hati. Ia mencebik kesal saat ada beberapa penghuni kosan lain yang tiba-tiba datang menghampiri kekasihnya tersebut.


"Kamu bosnya Ira ya?" tanya seorang perempuan yang diketahui bernama Zeva, penghuni kosan yang baru saja datang kemarin. Dia tinggal tepat di sebelah kamar Ira. "Ganteng banget sih," puji Zeva sambil menyentuh dagu Arvin dengan gaya centil.


Zeva adalah janda muda berumur dua puluh dua tahun yang ditinggal nikah suaminya karena berselingkuh. Sudah dua kali wanita itu menikah dan dua kali pula ia bercerai. Entah itu benar atau tidak, setidaknya itulah yang ia ceritakan kemarin pada saat pertama kali datang dan menyapa penghuni kosan lama.


"Mbak Zeva jangan suka godain cowok orang, nanti tambah lama lho nyandang predikat jandanya," sinis Ira. Dia tidak suka melihat wanita yang sok cantik itu bersikap genit dengan kekasihnya.


"Ih, apaan sih kamu, Ra, pakai bawa-bawa status janda gue segala. Justru ini itu bentuk usaha gue buat segera menanggalkan status gue. Lo siap-siap aja jadi adik ipar gue," jawab Zeva dengan kepercayaan dirinya yang tinggi.


"Adik ipar? Apa maksudnya aku jadi adik ipar Mbak? Jangan ngadi-ngadi deh, Mbak," protes Ira.


"Siapa yang ngada-ngada? Cowok ganteng ini kan kakak lo, jadi wajar dong kalau gue bilang lo bakalan jadi adik ipar gue."


"Mbak Zeva yakin amat kalau dia bakalan mau sama Mbak."


"Harus percaya diri dong. Selain gue memang cantik, jaman sekarang itu, cowok lebih suka janda karena lebih banyak pengalaman."


"Pengalaman hidup maksud, Mbak? Cewek lajang juga punya kok pengalaman hidup."


"Salah satunya itu. Tapi yang paling utama adalah janda lebih berpengalaman soal goyang di atas ranjang. Iyakan, Mas." Zeva mengerlingkan sebelah matanya pada Arvin.


"Uhuk! Uhuk!" Arvin langsung terbatuk mendengarnya.


Ira mengernyit. "Aku juga bisa kali Mbak goyang di atas ranjang."


Mata Arvin dan Zeva membulat mendengar jawaban Ira.


"Beneran lo bisa goyang di atas ranjang?" tanya Zeva memastikan. Meskipun Ira dikenal sebagai gadis yang pandai, tetapi gadis itu terlihat sangat polos di mata Zeva. Wanita yang sudah pernah menikah dua kali itu menatap Ira dengan tatapan tidak percaya.


"Bener lah, Mbak, masa aku bohong," jawab Ira penuh percaya diri.


"Mbak, apa hubungannya bokong sama goyang di atas ranjang? Kalau Mbak nggak percaya, aku bisa kok nunjukin di sini," ujar Ira dengan pongah.


"Ra, kamu mau ngapain?" tanya Arvin panik.


"Pak Arvin tenang saja, aku mau membuktikan sama Mbak Zeva yang genit ini kalau aku juga bisa kok goyang di atas ranjang. Memangnya cuma janda saja yang bisa goyang."


"Tapi, Ra... " Ira tidak memberikan kesempatan untuk Arvin melanjutkan ceritanya.


"Sssttt!" Ira meletekkan jari telunjuknya di atas bibir. "Bapak diam saja!" Gadis itu mengambil telepon genggam dari dalam tasnya kemudian menyetel salah satu musik yang saat ini sedang viral di aplikasi tok tok. Meski kaku Ira menirukan gerakan sesuai dengan yang ia lihat di aplikasi tersebut hingga selesai.


"Bagaimana, Mbak? Aku bisa kan goyang?" ujar Ira dengan pedenya. "Aku bisa sih goyang seperti tadi sambil naik di atas ranjang, itu mah gampang, Mbak. Kecil!" Ira menjentikan jarinya.


Zeva mengedipkan matanya beberapa kali. Dia masih shock dengan yang baru saja dilihatnya. Ternyata dugaannya tidak salah, gadis itu memang lugu bahkan terlalu lugu.


"Sudah ah, Ra. Yuk jalan sekarang!" ajak Arvin. Dia tidak mau lagi Ira beradu argumen lagi dengan wanita yang tinggal di sebelah kamar kekasihnya itu.


"Tunggu tunggu tunggu!" cegah Zeva saat Arvin hendak membawa Ira pergi dari tempat tersebut.


"Ada apa?"


"Kita kan belum kenalan," ujar Zeva. "Kenalkan gue Zeva." Wanita itu mengulurkan tangannya untuk mengajak Arvin bersalaman.


Arvin menatap tangan Zeva sebentar. "Maaf, aku tidak bisa berkenalan dengan wanita mana pun karena aku sudah memiliki tunangan."


"Yah sayang sekali," keluh Zeva. "Tapi, nggak apa-apa deh. Pasti tunangan Anda sangat cantik."


"Iya, benar. Tunanganku memang sangat cantik. Dan aku sangat mencintainya." Arvin mengatakan itu sambil menatap Ira dengan tatapan penuh cinta. Dia menngecup punggung tangan Ira dengan lembut.


"Jadi tunanganmu itu.... " Tanpa Arvin harus menjawab pun, Zeva akhirnya tahu bahwa Ira-lah tunangan yang dimaksud.


Arvin membawa tunangannya pergi meninggalkan dari hadapan Zeva.


🍂🍂🍂


Gaes, jangan lupa mampir di karya baru otor dong, judulnya DIMADU KARENA WASIAT. Makasih. Lope you pull sekebon milik tetangga.