
Siang sudah berganti menjadi malam. Kejadian yang terjadi di hari itu menjadi perbincangan mereka saat menghabiskan waktu bersama di depan televisi. Semua tertawa dengan ketidak tahuan Ira dalam membedakan antara micin dan gula, apalagi saat Arvin memberitahu kepada adiknya bahwa kejadian tersebut bukan kejadian yang pertama kali Ira lakukan. Tawa semua orang yang ada di sana kembali pecah, terutama Arvin. Pria itu menjadi orang yang suara tawanya paling keras.
"Kak Ira, memang selama ini Kak Ira nggak pernah membuat kopi atau teh gitu? Minimal buat diri sendiri lah?" tanya Queen. Gadis yang baru berumur 17 tahun itu merasa penasaran dengan wanita yang akan menjadi calon kakak iparnya tersebut.
"Enggak pernah. Kan di rumah ada banyak embak yang kerja, ngapain aku capek-capek bikin sendiri. Entar kalau semua bisa aku kerjain sendiri, embak-embak di rumah nggak akan ada pekerjaan lagi dong, kan kasihan," jawab Ira dengan pedenya.
Queen menatap ke arah kakaknya, kali ini dia merasa ada yang salah dari diri kakaknya. Nggak mungkin kan seorang Arvin Narendra yang memiliki standar tinggi dalam memilih pacar menurunkan standar kriterianya.
"Kenapa kalian menatapku begitu? Apa ada yang salah?" tanya Arvin saat melihat tatapan aneh yang diperlihatkan oleh adik dan sahabatnya, Vano.
"Ar, lo nggak lagi mabok kan?"
"Enggak."
"Kakak juga nggak baru saja jatuh atau kejedot gitu?" Queen ikut bertanya.
"Enggak juga, emang kenapa?" Arvin balik bertanya. Dia menatap adik dan sahabatnya itu bergantian.
"Kak Ira, kamu nggak pakai guna-guna atau susuk buat pelet Kak Arvin kan?" Kini giliran Ira yang mendapat pertanyaan dari Queen.
"Sepertinya aku memakai itu," jawab Ira.
"Eh, beneran, Kak?" Queen yang bertanya justru Queen juga yang terkejut dengan jawaban calon kakak iparnya.
"Kalian itu yang aneh. Jaman sudah modern masih aja percaya dengan hal mistis kayak gitu." Ira menggelengkan kepalanya. "Lagian nih tanpa aku pakai guna-guna atau susuk pun kakakmu itu udah tertarik sama aku. Dia kan ngajak aku jadian cuma gara-gara pengen nyium aku. Itu artinya bibirku ini lebih mujarab dibanding dengan guna-guna ataupun susuk."
Arvin yang saat itu sedang minum langsung tersedak mendengar jawaban dari Ira.
"Kak, apa itu benar?"
"Ar, apa itu benar?"
Queen dan Vano menanyakan hal yang sama.
"Kalian percaya aku kayak gitu?" tanya Arvin pada adik dan sahabatnya tersebut.
"Kalau dulu sih mungkin aku nggak akan percaya. Tapi sekarang kayaknya aku lebih percaya sama omongannya Kak Ira dibanding omongannya kakak," sahut Queen.
"Lho kok? Kenapa begitu?" tanya Arvin.
"Soalnya selera Kak Arvin aja udah beda jauh dari yang dulu."
"Eh, kita nggak sotoy ya. Ingat nggak dulu Kak Arvin suka sama Kak Nadin karena apa? Kan karena menurut Kak Arvin Kak Nadin itu perempuan yang sempurna. Dia cantik, pinter, bisa mengurus diri dengan baik, mandiri, apalagi ya yang disukai Kak Arvin dari Kak Nadin dulu," ucap Queen sambil mencoba mengingat kembali hal yang disukai oleh kakaknya dari Nadin dulu. "Oh iya, sama, Kak Arvin bilang, Kak Nadin itu selalu bisa diandalkan dalam segala hal."
"Iya, saking mandiri dan sempurnanya dia sampai nggak butuh kakak kamu dan selingkuh," sungut Ira. Dia begitu kesal karena semua yang ada di sana malah membicarakan kelebihan mantannya Arvin. "Udah ah, aku ngantuk mau tidur. Kalau kalian masih pengen menertawakan kebodohanku silakan, permisi!" Ira langsung masuk ke kamarnya tanpa bersuara.
Arvin sedikit tercengang dengan sikap yang ditunjukkan kekasihnya barusan. Tidak biasanya dia sampai marah seperti itu. Apalagi saat ini selain nonton tivi, mereka juga sambil makan malam.
"Kak, apa Kak Ira marah?" tanya Queen.
"Entahlah. Biar aku lihat!" jawab Arvin.
Arvin berdiri di depan kamar kekasihnya sambil mengetuk pintu.
"Ra, kamu marah?" tanya Arvin dari balik pintu. Namun, tidak ada jawaban dari dalam. "Ra," panggil Arvin lagi.
Arvin semakin merasa bersalah ketika mendengar suara tangisan dari kamar kekasihnya tersebut.
"Ra, kamu nggak apa-apakan? Ira tolong maafin adikku, dia gak bermaksud buat ngebandingin kamu sama Nadin. Ra, ayo dong keluar!" bujuk Arvin. Namun, lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam kamar. "Kalau kamu nggak keluar aku buka pakai kunci cadangan nih."
Karena tidak juga mendapat jawaban dari Ira, Arvin pun mengambil kunci cadangan dari kamarnya. Dia ingat kalau dia menyimpan semua kunci duplikat villa itu. Tanpa banyak bicara lagi, Arvin pun membuka kamar Ira dengan kunci duplilat yang ia miliki.
Dengan mata sembab karena baru saja menangis, Ira menatap wajah Arvin.
"Maafin aku ya, kita nggak akan bicara soal mantan lagi. Jadi jangan nangis ya!" ucap Arvin. Dia memeluk tubuh kekasinya.
"Kenapa dia jahat sih? Kenapa?" rengek Ira yang kembali menangis.
"Sayang, Queen nggak jahat kok. Dia hanya sedang becanda tadi."
Ira menatap wajah Arvin dengan tatapan bingung. "Pak, barusan Bapak ngomong apa ya? Terus apa hubungannya adik Bapak dengan drama yang barusan aku tonton?" tanya Ira.
"Jadi maksudmu kamu nangis bukan gara-gara perkataan Queen tadi?"
Ira mengangguk.
"Terus kalau bukan karena ucapan Queen tadi, kenapa kamu sampai nangis?"
"Pak aku kasihan sama Cha Ensang, kenapa dia harus mati sih di akhir cerita. Padahal diakan udah berjuang keras untuk bisa selamat dari zombi," jawab Ira yang kembali menangis.
Mendengar jawaban Ira, Arvin, Queen, dan Vano hanya bisa memukul keningnya sendiri. "Capek, deh!" ucap ketiganya bersamaan.