
Ira mendongak menatap paras tampan yang sedang ia peluk.
"Ada apa? Katakan padaku apa yang membuatmu menangis!" suruh Arvin sambil menatap manik kecoklatan milik Ira. Namun, dia kembali panik saat kekasihnya rersebut kembali menangis.
"Cup cup, Sayang. Jangan nangis!" Arvin membawa wanitanya kedalam dekapan. Mengusap dengan lembut rambut panjang kekasihnya tersebut.
"Kenapa... kenapa Pak Arvin bohong?" tanya Ira dengan sesegukan.
"Bohong? Soal apa?" Arvin merasa bingung dengan perkataan Ira barusan. Dia merasa tidak ada hal yang ia sembunyikan kepada gadis itu kecuali soal perjodohannya dengan Hana. Dan itu pun ia ingin menjelaskannya sekarang.
"Pak Arvin bilang kalau nasi goreng buatanku enak, tapi kenyataannya apa nasi goreng itu rasanya aneh."
"Aneh? Bukannya kamu tidak memakan nasi goreng buatanmu itu? Bagaimana kamu tahu kalau rasanya aneh?" ucap Arvin yang keceplosan. Padahal dia ingin merahasiakan rasa nasi goreng tadi dari sang pembuatnya.
"Tuh kan." Tangis Ira semakin kencang menyadari betapa tidak bergunanya dia yang tidak bisa membuat apa pun. Dia tidak pantas disebut pacar yang baik, apalagi calon istri yang baik karena dia tidak bisa melakukan hal apa pun.
"Maaf, Sayang. Bukan begitu maksudku."
"Tapi, memang benar kok kalau nasi goreng buatanku tadi rasanya aneh." Ira membenarkan.
Arvin menatap wajah kekasihnya itu.
"Aku sudah mencicipinya, kebetulan masih ada sisa di dapur," jawab Ira yang paham arti tatapan kekasihnya tersebut.
"Yah... kenapa kamu harus mencicipinya sih? Kan jadi sia-sia pengorbanan aku." Arvin berpura-pura mengeluh.
"Kenapa Pak Arvin nggak jujur aja sih? Padahal kan kamu bisa delivery?"
"Bagaimana bisa aku melakukan itu. Kamu sudah susah payah membuatkan nasi goreng itu dengan cinta. Ya... meskipun rasanya sedikit aneh," jelas Arvin. Dia menyatukan jari telunjuk dan jempolnya menjadi satu sebagai lambang sedikit.
"Pak, bagaimana dengan perutmu? Apa masih aman?" tanya Ira. Kali ini dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan perut kekasihnya itu.
Arvin diam sebentar sambil mencoba merasakan apa yang terjadi dengan perutnya. "Hmm, sepertinya sedikit sakit," jawab Arvin.
"Tuh kan. Harusnya kamu nggak maksain diri buat makan nasi goreng itu. Sekarang lihat, perut kamu sakit kan?" Wajah Ira semakin cemas mendengar Arvin sakit perut. Dia yang baru saja berhenti menangis kembali sesegukan karena merasa bersalah sudah membuat sang kekasih sakit perut. "Pak, kita ke dokter sekarang, yuk! Aku nggak mau Bapak kenapa-napa. Ayo, Pak, kita ke dokter sekarang!" ajak Ira sambil sesegukan. Sesekali ia menyeka air matanya dengan menggunakan punggung tangan.
Baru kali ini Arvin melihat sisi lain dari seorang Ira. Dia yang biasanya terlihat ceroboh, cuek, dan ceria, bisa sesedih itu hanya karena merasa bersalah.
"Ayo, Pak, kita ke dokter sekarang!" ajak Ira sambil mencoba menarik tangan kekasihnya.
Arvin menggenggam kedua tangan Ira. "Sayang, kamu benar-benar mengkhawatirkan aku?"
"Tentu saja. Kalau kamu kenapa-napa bagaiman? Makanya sekarang kita ke dokter yuk, Pak!"
"Jangan nangis lagi," ujar Arvin sambil menyeka air mata kekasihnya. "Aku tidak kenapa-napa sayang. Meski nasi gorengmu rasanya aneh, itu kan dibuat dengan bahan yang halal dan higenis, jadi nggak masalah."
"Tapi, tadi katanya perut Pak Arvin sakit?"
"Enggak aku bercanda, Sayang." Bukannya berhenti menangis, tangis Ira justru semakin pecah.
Akhirnya drama nasi goreng cinta yang rasanya aneh itu pun berakhir. Namun, gara-gara Arvin sempat berpura-pura sakit perut dan membuat Ira khawatir. Gadis tersebut menghukum kekasihnya untuk bernyanyi sambil berjoged sampai dirinya tertidur.
🌺🌺🌺
Gaes, jam 21.00 nanti aku up lagi. Makasih ya yang udah setia menunggu. Cinta kalian banyak-banyak.