Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Jadian



"Kenapa kamu tidak memejamkan matamu sih?" keluh Arvin yang langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Ira.


"Lho kenapa aku harus memejamkan mata, Pak?"


"Katanya penggila drakor, masa hal sekecil itu nggak paham," gumam Arvin.


"Maksud Pak Arvin, barusan itu Bapak mau menciumku?"


"Nggak jadi."


"Yah, padahal aku sudah mengharapkannya sejak tadi," ujar Ira dengan suara sangat pelan.


Ciiittt!


Arvin mengerem mobilnya secara tiba-tiba.


"Pak, kalau mau bunuh diri nggak usah ngajak-ngajak. Bikin aku jantungan saja." Ira mengusap dadanya.


"Tadi kamu bilang apa?"


"Bikin aku jantungan."


"Sebelum itu."


Ira diam sambil mengingat hal yang baru saja ia katakan. "Kalau mau bunuh diri nggak usah ngajak-ngajak," jawabnya kemudian.


"Sebelumnya lagi."


"Sebelumnya lagi mah itu hanya keluhanku saja, Pak."


"Keluhan apa?"


"Aku hanya agak kecewa karena Bapak enggak jadi menciumku." Ira langsung menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan ketika menyadari hal yang baru saja diucapkannya.


Arvin tersenyum mendengarnya. "Jadi, sejak tadi kamu berharap aku menciummu?"


"Tidak," elak Ira.


"Terus barusan apa?"


"Bapak salah dengar kali. Maksudku ingin dicium sama aktor korea favaritku, bukan Pak Arvin." Ira masih menyangkal.


"Benarkah? Yah, padahal aku baru saja memutuskan untuk menciummu."


"Kalau begitu cium sa.... " Lagi-lagi Ira tidak melanjutkan perkataannya. Dia merasa menjadi wanita bodoh yang mengharapkan ciuman dari laki-laki yang bukan kekasihnya.


Arvin menghadap ke arah Ira dan menatap wajah yang masih malu-malu di hadapannya tersebut.


Arvin menarik napas kemudian menghembuskannya. "Sebenarnya aku juga sudah ingin menciummu sejak di pantai tadi. Aku tidak tahu alasannya apa, tetapi bibirmu itu selalu membuatku tertarik untuk menciumnya," ucap Arvin. "Tapi, akan aneh jika kita berciuman tanpa status bukan?"


"Iya, sih. Aneh."


"Ira, bagaimana kalau mulai hari ini kita pacaran saja!" ajak Arvin.


"Pak Arvin mengajakku pacaran hanya gara-gara ingin menciumku?"


"Terus, kenapa Bapak tiba-tiba ngajak aku pacaran?"


"Kamu sudah punya pacar belum?"


"Belum, sih. Bapak sendiri?"


"Belum juga. Jadi, nggak salah dong kalau kita pacaran," jawab Arvin.


"Emang nggak salah sih, Pak. Tapi, biasanya orang ngajak pacaran itu karena sudah saling tertarik, saling jatuh cinta, saling nyaman, dan sudah merasa saling membutuhkan."


"Kamu tertarik padaku tidak?"


"Lumayan sih soalnya wajah Bapak tampan."


"Kamu nyaman tinggal bareng aku selama beberapa hari ini?"


"Nyaman. Apalagi saat ada petir dan mati lampu, aku merasa sangat terlindungi saat Pak Arvin bersamaku," jawab Ira jujur.


"Kalau begitu nggak ada salahnya kan kita pacaran?" tanya Arvin lagi.


"Tapi kan kita nggak saling jatuh cinta, Pak."


"Itu soal gampang. Aku yakin cinta itu akan datang seiring berjalannya waktu."


"Kalau Bapak atau aku nggak juga jatuh cinta bagaimana?"


"Tinggal putus, kenapa ribet? Bagaimana apa kamu mau berpacaran denganku?" tanya Arvin sekali lagi.


Ira memikirkan ucapan bosnya sebentar. Semua hal terasa simpel saat dipikirkan.


"Misalkan kita putus, apa sikap Bapak kepadaku akan berubah?" tanya Ira lagi.


"Kenapa?"


"Aku takut sikap Bapak akan dingin saat kita putus nantinya. Aku nggak mau Bapak memperlakukan aku sama seperti mantan Bapak. Bukankah sejak putus dari mantan Bapak itu, sikap Bapak dingin sama dia, Bapak juga selalu menghindari wanita itu."


"Itu beda kasus, Ira. Dia membohongiku, makanya aku bersikap dingin sama dia. Bagaimana, kamu mau nggak jadi pacar aku?"


"Baiklah, aku setuju pacaran sama Bapak. Tapi, ingat ya, Pak, aku nggak mau ada orang ketiga diantara kita." Ira memberi peringatan kepada bosnya.


"Oke, deal ya mulai hari ini kita pacaran."


Ira dan Arvin berjabat tangan sebagai bentuk kesepakatan.


"Kalau begitu kita sudah bisa dong berciuman?" tanya Arvin dan mendapat anggukan dari Ira.


Arvin meletakkan tangan Ira agar melingkar di lehernya. Sepasang kekasih yang baru saja jadian itu sudah tidak sabar ingin mempertemukan bibir mereka yang sejak tadi sudah ingin dipertemukan.


Ira sudah memejamkan matanya, jantungnya bertalu membayangkan bibir seksi bosnya akan mendarat diatas bibirnya. Hal yang sama pun dirasakan oleh Arvin. Pemuda yang memiliki selisih umur enam tahun itu merasa gugup saat hendak mendaratkan bibirnya di ataa bibir tipis yang sedari tadi menggodanya. Ini bukanlah hal pertama bagi Arvin, tetapi entah kenapa dia seperti orang yang baru mau belajar berciuman saat sedang bersama Ira saat ini.


Denyut jantung Arvin dan Ira semakin kencang seiring mengikisnya jarak wajah diantara kedunya.