
Resepsi bagian kedua pun akhirnya digelar. Dalam resepsi kali ini mereka hanya mengundang keluarga, kerabat, dan teman dekat.
Pesta aut door dengan tema negeri dongeng tersebut terlihat begitu mewah dan meriah. Semua tamu yang hadir diwajibkan memakai gaun dengan tokoh dari negeri dongeng.
Kedua mempelai pengantin dirias ala tokoh dalam cerita Snow White. Ira menggunakan kostum snow white berikut aksesorisnya demikian juga Alvin, lelaki berparas tampan yang menjadi suami Ira itu menggunakan kostum pangeran Ferninind. Pangeran Ferninad adalah Pangeran yang berhasil membangunkan Si Putri Tidur dengan ciumannya. Ira dan Alvin terlihat mempesona dengan kostum-kostum tersebut.
Pesta berlangsung tertib dan meriah. Semua tamu yang datang juga datang sesuai dengan tema yang diusung. Senyum kebahagian tidak hanya terukir di bibir kedua mempelai, tetapi juga tamu undangan, semuanya menikmati pesta itu dengan gembira.
Tepat jam 00.00 WIB, pesta berakhir. Semua orang sudah masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat, termasuk kedua mempelai.
"Alhamdulillah ya, Pak, pestanya berjalan lancar sesuai rencana. Semua keluarga dan tamu undangan juga tampak menikmati pesta itu. Aku bahagia sekali," ukar Ira dengan sudut bibir tertarik ke samping.
"Kamu melakukan pelanggaran dan harus dihukum." Alvin menarik pinggang Ira dan membuat posisi mereka berdempetan.
Ira mengerti maksud dengan kata dihukum oleh Alvin. Wanita yang sudah sah menjadi istri Alvin beberapa hari yang lalu itu pun mengalungkan kedua tangannya di leher Alvin.
"Aku siap menerima hukuman itu, Pak," ucap Kyra sambil tersenyum.
"Baguslah, jadi bersiaplah untuk menerima hukuman dariku."
Sepasang suami istri tersebut sedikit memeringkan kepala mereka agar bibir mereka bisa mendarat dengan sempurna di tempat yang tepat.
Ira dan Alvin terus menggerakkan bibir mereka dengan rakus. Keduanya sama-sama merefleksikan perasaan cinta mereka pada pergerakan bibir tersebut.
Lenguhan keluar dari bibir mungil Ira dan membuat hasrat kelaki-lakian Alvin yang tadi pagi sempat tertunda itu kini kembali muncul berkali-kali lipat.
"Kamu masih wangi, kita bisa mandi setelah semuanya selesai," jawab Alvin. Dia sudah tidak bisa menahan hasratnya yang sudah berada di ubun-ubun.
Tangan Alvin mulai aktif menurunkan resleting gaun yang Ira kenakan, gaun itu pun langsung meluncur ke bawah dan hanya menyisakan sesuatu yang menutupi bagian penting dari tubuh Ira itu.
Ira melengos dengan wajah kemerahan menahan malu ketika mendapati Alvin yang sudah mengkungkungnya di atas tempat tidur itu menatapnya.
"Kamu makin menggemaskan ketika malu-malu seperti itu," ucap Alvin. Dia kembali mendaratkan kecepun di bibir Ira setelah berhasil melepaskan pakaian yang menempel di tubuhnya.
Mata Ira membulat ketika merasakan benda sakral milik suaminya tersebut sudah mengeras.
"Mas," pekik Ira sambil melotot.
"Aku sudah menahannya sebelum pesta dimulai, jadi kali ini aku tidak akan melepaskanmu."
Sesuai dengan yang Alvin katakan dia tidak membiarkan Ira lepas begitu saja. Pertarungan panas itu pun dimulai. Cuaca dingin di puncak Bogor tidak dirasakan oleh sepasang suami istri yang sedang bertarung di atas ranjang tersebut. Lenguhan dan erangan yang keluar dari mulut mereka menandakan betapa sengitnya pertarungan tersebut. Tidak ada yang kalah atau pun yang menang dalam pertarungan itu. Yang ada hanya kepuasan yang akhirnya dirasakan oleh keduanya.
Alvin mengecup kening Ira ketika pertarungan panas itu selesai. "Terima kasih ya, Sayang," ucap Alvin sambil menatap kedua bola mata Ira yang meneduhkan.
"Aku harap di sini akan segera hadir Alvin junior," ungkap Alvin sambil mengusap perut Ira yang masih rata. Ia juga mengecup perut itu bertubi-tubi.
"Mas, geli," ucap Ira karena Alvin mengusap perutnya yang belum dilapisi pembatas karena keduanya masih dalam keadaan polos seperti bayi.
"Sekali lagi ya," bisik Alvin. Ira tersenyum kemudian mengangguk. Sama halnya seperti dirinya yang masih ingin menikmati surga dunia itu, Alvin pun pasti merasakan hal yang sama. Keduanya kembali melanjutkan pertarungan tersebut.