
Begitu tiba di villa, Arvin langsung masuk ke kamarnya. Dia juga merasa bodoh dengan hal yang baru saja dilakukannya terhadap Ira.
"Kenapa aku bisa sebodoh ini sih?" omel Arvin pada dirinya sendiri.
"Ini nggak masuk akal. Gue nggak mungkin jatuh cinta sama cewek ceroboh itukan? Apalagi kita baru dua hari bersama. Iya, ini pasti salah. Gue tadi merasa kesal karena tuh cewek sok centil sama bos restoran itu dan karena gue gak suka karyawan gue kecentilan, makanya gue marah. Iya benar, pasti gara-gara itu." Arvin berusaha memberikan alasan pembenaran terhadap hal yang tadi dilakukannya.
"Pak, Pak Arvin," panggil Ira sambil mengetuk pintu kamar bosnya. Ira sendiri tidak mengerti kenapa bosnya malah masuk ke kamar dan meninggalkannya. Padahal tadi dia menyuruh dirinya untuk membuat kontrak kerjasama dengan perusahaan milik pamannya, Tama.
"Bagaimana aku membuat kontrak itu kalau detail kerjasamanya saja aku nggak tahu," gumam Ira.
"Pak Arvin, Pak. Bisa lihat contoh surat kerja sama yang biasa bapak tulis nggak? Sekalian aku mau tahu perusahaan Pak Arvin dan perusahaan Pak Tama kerjasama dalam hal apa aja. Pak Arvin." Panggil Ira dari luar pintu. Dia berdiri sambil menyandarkan badannya pada daun pintu. Ira tidak mengerti kenapa bosnya langsung masuk ke kamar begitu turun dari mobil.
"Jangan-jangan bener lagi kalau Pak Arvin jatuh cinta sama aku dan tadi dia cemburu. Terus karena aku nggak peka, Pak Arvin putus asa dan dia mau bunuh diri." Ira mengkhayalkan sebuah kejadian yang akhir-akhir ini sedang viral di televisi dimana seorang selebgram mencoba bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangannya di dalam kamar.
"Tidak. Pak Arvin nggak boleh bunuh diri," ucap Ira. Dia benar-benar takut kalau hal yang dibayangkannya betul-betul terjadi. Ira kembali mengetuk pintu kamar bosnya itu. Karena tak kunjung dibuka, Ira pun segera mencari kunci serep dari kamar bosnya itu.
"Dimana ya kuncinya? Aku harus segera menemukan kunci itu sebelum terlambat. Aku nggak mau jadi tersangka karena menjadi penyebab Pak Arvin bunuh diri," Ira berbicara pada dirinya sendiri sambil mencari kunci di laci lemari yang ada di ruang kerja bosnya.
"Dimana ya aku bisa menemukan kunci cadangan kamar Pak Arvin?" Ira mencoba memikirkan tempat dimana kira-kira kunci cadangan itu berada.
"Lebih baik aku cari penjaga villa untuk mendobrak pintu kamar Pak Arvin. Aku tidak mau terlambat menyelamatkannya," ujar Ira. Dia segera berlari keluar dari villa untuk mencari penjaga villa.
***
"Kenapa Ira keluar dari villa dengan terburu-buru ya? Apa dia kelupaan sesuatu?" ucap Arvin. Dia melihat Ira yang sedang berlari meninggalkan villa melalui jendela kamarnya.
"Dasar cewek aneh, disuruh buat surat malah keluyuran. Dia benar-benar harus dimarahin nanti," gumam Arvin lagi.
"Woy, Ar. Lo ngomong apaan sih?" tanya Vano dari seberang sana.
"Itu asisten gue tiba-tiba saja meninggalkan villa," jawab Arvin.
"Lho kok?"
"Gue juga nggak ngerti sama dia. Dia itu sudah ceroboh, nggak tahu apa-apa lagi. Padahal kalau dilihat dari pakaian dan tas yang dimiliki kelihatannya dia bukan orang biasa."
"Tumben selera lo berubah, Ar. Biasanya lo selalu nyari yang perfect. Jangan-jangan bener lagi ucapan tuh cewek kalau kamu jatuh cinta sama dia," sahut Vano.
"Nggak mungkinlah gue jatuh cinta sama cewek ceroboh kayak dia. Aneh lo," jawab Arvin.
"Itu ngapain tuh cewek bawa penjaga villa ke sini?" gumam Arvin lagi ketika melihat Ira kembali ke villa bersama dengan penjaga villa.
"Ada apa, Ar?" tanya Vano lagi.
"Gue tutup bentar ya, Van. Kayaknya ada yang urgent." Arvin segera menutup teleponnya, dia juga melepas headset yang dipakainya dan meletakkannya di atas meja. Buru-buru dia membuka pintu kamarnya saat mendengar seseorang hemdak mendobrak pintu kamarnya.