Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Jangan panggil "Bapak"



Drama wanita hamil sudah berlalu, meski sempat terjadi kesalahpahaman yang membuat Ira sempat meminta putus dari kekasih yang baru dua hari menjalin kasih. Namun pada akhirnya semua bisa terselesaikan dengan baik.


"Pak, nanti siang bantu aku daftar supaya bisa ikut ujian masuk dong! Aku kan pengen kayak cewek lain di luaran sana yang apa-apa serba dibantu sama cowoknya!" pinta Ira ketika mereka dalam perjalanan pulang menuju villa.


"Memangnya aku nggak ada kerjaan. Siang ini aku ada meeting zoom sama direksi di Jakarta. Harusnya kamu juga ikut menghandle kerjaanku dong, bukan aku yang malah ikut menghandle tugasmu. Ingat, selain pacar kamu itu adalah asisten pribadiku yang aku gaji, jadi, kamu tempatkan dirimu sebagai asisten pribadi yang kompeten."


"Yaelah, Bapak sama pacar sendiri aja pakai hitung-hitungan. Lagian ya Pak, Bapak itu baru ngasih aku gaji dua juta yang seharusnya gaji seorang asisten pribadi itu lebih besar dari itu lho, Pak. Kakek Nando aja gaji bulanannya lebih dari dua puluh juta. Masa aku cuma digaji segitu," protes Ira.


"Sekarang aku tanya sama kamu dari awal kamu menjadi asiten pribadiku hal apa yang sudah kamu lakukan sebagai asistenku?"


Ira mencoba mengingat hal-hal yang ditugaskan oleh Arvin kepadanya. Dan sepanjang ingatannya, tidak satu pun pekerjaan yang Arvin berikan kepadanya mampu dia selesaikan dengan baik, malahan semua pekerjaan itu berujung dengan insiden. Dan akhirnya Arvin sendirilah yang harus menyelesaikan pekerjaan tersebut tanpa bantuan Ira.


"Tidak ada sih, Pak."


"Nah, kan. Masih untung aku nggak meminta kamu ngembaliin tuh gaji."


"Iya deh, Pak, iya. Aku nggak akan minta tambahan gaji lagi."


Tiba-tiba saja Arvin menghentikan mobilnya.


"Ada apa, Pak? Kenapa berhenti? Apa ada sesuatu yang ketinggalan?" tanya Ira.


Ira semakin bingung saat Arvin menghadap ke arahnya.


"Pak ada ap.... "


Arvin menaruh jari telunjuknya diatas bibir Ira dan membuat bibir wanita itu langsung terkatup.


"Kita ini udah jadian kan?"


Ira mengangguk.


"Tapi, kenapa kamu terus memanggilku dengan sebutan Pak? Apa tidak ada panggilan lain selain panggilan itu?"


"Memangnya Bapak mau aku panggil dengan panggilan apa, Pak?" tanya Ira yang justru bertanya balik kepada Arvin.


Ira memikirkan perkataan bos sekaligus pacarnya tersebut.


"Iya sih, tapi kenapa aku malah ngerasa aneh ya, Pak, kalau aku manggil Bapak dengan sebutan yang lain.


"Ya sudah deh terserah kamu, tapi jangan salahkan aku jika ada orang yang salah paham dengan hubungan kita ini." Arvin kembali menyalakan mesin mobilnya, dia kembali menjalankan.benda yang terbuat dari besi itu menuju ke villa.


"Salah paham gimana sih, Pak?"


Arvin tidak menjawab. Tidak lama mobil yang mereka kendarai itu pun tiba di depan villa tempat mereka menginap. Keduanya turun dari mobil tersebut dan berjalan menuju villa. Namun, sebelum keduanya sempat membuka pintu seorang gadis menghentikan langkah keduanya. Wanita itu langsung memeluk tubuh Arvin.


"Kenapa kamu ada di sini?"


"Kebetulan sekolahku sedang mengadakan darmawisata di kota ini, karena aku merindukanmu makanya aku menemuimu di sini."


Ira yang melihat itu lansung waspada.


"Kamu ke sini sendiri? Memang wali kelasmu ngizinin kamu pergi memisahkan diri dari rombongan?"


"Kan kegiatannya baru dimulai besok pagi. Lagian aku sudah bilang kok aku bakalan kembali ke rombongan sebelum kegiatan dimulai."


"Dan wali kelasmu ngizinin?"


Gadis itu mengangguk.


"Pak siapa dia?" tanya Ira. Wanita itu terlihat tidak suka melihat kedekakatan Arvin dengan gadis kecil yang baru saja datang tadi.


"Eh, apa jangan-jangan dia.... "


Belum selesai gadis itu berbicara, Ira sudah menyelanya. "Aku pacarnya Pak Arvin," potong Ira.


"Beneran dia pacarmu?"


Arvin terlihat bingung untuk menjawabnya.