
Deretan gedung pencakar langit terlihat indah di malam hari dengan banyaknya lampu warna warni yang menerangi. Dari salah satu gedung itulah seorang pria berparas tegas nan tampan sedang duduk bersedekap di singgasananya. Dia menatap tajam pria yang saat ini berdiri di depannya untuk meminta penjelasan atas artikel yang ia temukan di beberapa media cetak dan online. Dialah Arvin.
"Katakan padaku kenapa sampai ada berita seperti ini!"
"Maaf, Vin, sepertinya berita itu dibuat setelah rekaman cctv di restoran waktu itu tersebar," jawab Vano, pria yang saat ini berdiri di depan Arvin. Dia adalah sahabat, sekretaris, sekaligus asisten pribadi dari Arvin.
"Aku minta kamu segera singkirkan berita itu bagaimana pun caranya! Aku tidak mau Ira salah paham dengan berita ini!" titah Arvin.
"Tapi, sepertinya akan sulit. Soalnya berita itu sudah menjadi trending di twitter dan media online."
"Sulit bukan berarti tidak bisa kan?" tanya Arvin lagi.
"Iya, tapi.... "
"Aku tidak mau tahu kamu harus segera singkirkan berita itu," sela Arvin dan membuat Vano terpaksa mengiyakan.
"Aku harus menghubungi Ira agar dia tidak membuka twitter." Arvin mengambil telepon genggamnya dari dalam saku jas. Sayangnya telepon genggam miliknya itu kehabisan daya.
"Kamu punya charger?"
Vano menggeleng. "Tidak aku bawa," jawabnya. "Kenapa kamu tidak telepon dia menggunakan telepon kantor atau kamu bisa pakai ponselku."
"Ira itu tipikal cewek yang gak mau nerima telepon dari nomor asing. Jangankan menjawab panggilan, menerima pesan dari nomor yang tidak dia kenal saja langsung didelete tanpa dibaca lebih dulu," terang Arvin. Untuk kebiasaan Ira yang satu ini entah ini bisa dinilai sebagai kelebihan kekasihnya atau justru kekurangannya. Entahlah.
Arvin menimbang ide dari Vano barusan. "Aku hanya tahu nomor milik Hana, nanti kalau aku menelpon ke nomornya, Ira malah makin marah lagi karena aku hapal nomor cewek lain selain dia," ucap Arvin. Arvin sangat hapal sifat kekasihnya tersebut, selain ceroboh, dia juga pencemburu.
"Sudahlah, nanti saja pas sampai rumah aku telepon dia. Semoga saja dia nggak baca artikel aneh itu."
Arvin bangun dari tempat duduknya. "Kita pulang sekarang! Kamu sudah pesankan aku tiket ke Jogja untuk besokkan?"
"Sudah. aku sudah pesankan tiket pesawat untuk penerbangan paling pagi," jawab Vano.
"Lo setirin mobil gue sekarang, gue ngantuk!" Sambil berjalan Arvin melempar kunci mobilnya ke arah Vano dan langsung dengan cekatan ditangkap oleh sahabatnya itu.
Arvin sering menggunakan bahasa non formal untuk berbicara dengan Vano saat mereka sudah berada di luar jam kerja. Dan Vano bisa langsung mengikuti cara bicara bosnya itu sesuai dengan tempat dan keadaan.
"Hei, memangnya lo saja yang ngantuk? Gua juga ngantuk tahu, kenapa gak minta disetirin sama sopir sih?" protes Vano.
"Memangnya lo nggak kangen sama Queen? Harusnya lo bersyukur karena gue ngasih lo alasan agar lo bisa bertemu dengan adik gue," jawab Arvin sambil melenggang meninggalkan ruang kerjanya.
Hendak protes tetapi yang dikatakan.Arvin ada benarnya. Vano memang merindukan adik dari bosnya itu. Sudah hampir dua minggu dia tidak bertemu dengan Queen karena sibuk membantu pekerjaan Arvin.
"Buruan, Van! Gue udah ngantuk pengen cepet sampai rumah!" terdengar teriakan Arvin dari luar.
Vano yang masih bergeming di ruang kerja Arvin, akhirnya beranjak dari sana dengan sedikit berlari. "Iya, ini gue datang!"