Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Hari pertama



Pagi itu Qilla yang mengganti namanya menjadi Ira sudah berada di kamar Arvin sejak satu jam yang lalu. Dia membantu Arvin untuk mengemasi barang-barangnya.


"Maaf, Pak. Bukankah Bapak sudah menyewa kamar ini untuk tiga hari ke depan kenapa kita harus pergi sekarang?" tanya Ira yang tidak mengerti isi dari kepala bos barunya itu.


"Sudah, tidak usah banyak tanya! Tugasmu hanya menuruti perintahku."


"Apa ini ada hubungannya dengan asisten dari mantan kekasih Bapak kemarin?" tanya Ira dengan berhati-hati.


"Nah, itu kamu tahu. Aku malas kalau tiba-tiba harus bertemu dengan Nadin." Ira mengangguk paham.


"Tunggu!" tiba-tiba Arvin menginterupsi pergerakan Ira. Dia menatap gadis di depannya lekat-lekat.


"Ada apa, Pak?" tanya Ira bingung.


"Sepertinya penampilanmu nggak sama dengan kemarin. Kemarin kamu nggak pakai kaca mata kan? Kenapa sekarang kamu memakai kaca mata seperti itu?" tanya Arvin ketika melihat penampilan Ira yang berbeda dari yang dia lihat kemarin.


"Ouh... kemarin aku pakai softlens, Pak. Tapi, tadi pagi softlens ku jatuh di kamar mandi, jadi terpaksa aku kembali memakai kaca mataku," jawab Ira berbohong. Padahal alasan dia mengganti penampilannya agar orang suruhan daddy-nya tidak bisa menemukannya.


"Oiya, bisa nggak kamu jangan memanggilku Pak, aku berasa tua kalau kamu memanggilku begitu."


"Tapi, Bapak kan memang lebih tua dariku," jawab Ira keceplosan. Dia langsung menutup mulutnya karena takut Arvin akan marah kepadanya.


"Setidaknya jangan panggil aku Pak dihadapan wanita yang kemarin."


"Oke. Tapi aku harus memanggil Bapak dengan sebutan apa ya? Om? Kakak? Atau Abang?"


"Terserah."


"Baiklah, aku akan manggil Bapak Kakak saja bagaimana?"


"Terserah," jawab Arvin ketus. "Yang penting saat ada wanita yang kemarin atau orang selain rekan bisnisku jangan panggil aku Bapak. Oke."


"Oke." Ira mengacungkan dua jempolnya. "Oiya, memangnya kita mau pindah kemana?"


"Iya, Pak, aku tahu kok. Semalam aku sudah membaca semua hal-hal yang harus aku lakukan selama menjadi asisten pribadi Bapak."


Semalam sebelum pergi tidur, Arvin sudah menuliskan hal-hal apa saja yang harus dilakukan oleh Ira selama menjadi asisten pribadi dari pria itu.


"Awas saja ya kalau sampai kamu sampai melakukan kesalahan!" Arvin memperingatkan.


Arvin adalah orang yang perfectionis dalam pekerjaan. Dia tidak ingin ada keluhan apa pun dari orang yang diajaknya bekerja sama. Hal itulah yang menjadi alasana Arvin menjadikan Vano sebagai asisten, sekretaris, sekaligus menejernya. Karena hanya dialah satu-satunya orang yang bisa memahami cara kerja pria itu. Dan kali ini untuk pertama kalinya Arvin bekerja tanpa membawa Vano bersamanya.


"Pak, kita pergi sekarang atau sebentar lagi?" tanya Ira setelah selesai mengemasi barang bawaan bosnya itu.


Arvin melihat ke arah jam tangannya. "Sekarang saja," jawab Arvin.


"Pak, kenapa kita nggak pindah tiga hari lagi saja? Kan sayang udah bayar untuk tiga hari harus ditinggal begitu saja," ucap Ira. Namun, gadis itu tidak melanjutkan perkataannya saat Arvin memberikan tatapan tajam kepadanya.


"Kamu masih ingat catatan yang kuberikan semalam kan?"


Ira ingat kalau dalam catatan yang diberikan oleh Arvin semalam ada hal yang tidak boleh dia lakukan yaitu membantah perintah dari Arvin.


"Iya, Pak, iya. Maaf." Ira mengkerucutkan bibirnya.


Ira dan Arvin segera menuju ke tempat resepsionis untuk mengembalikan kunci kamar mereka. Setelah itu keduanya segera berjalan keluar meninggalkan hotel.


Sudah hampir setengah jam mereka berdiri di depan hotel. Namun, taksi yang mereka pesan belum juga datang dan itu membuat Arvin sedikit kesal.


"Kenapa taksinya belum datang juga sih?" gumam Arvin.


"Ira, kamu udah pesan taksi untuk kita pergi dari sini kan?" tanya Arvin kepads gadis bernama Ira yang sekarang menjadi asisten pribadinya.


Ira yang saat itu sedang memainkan ponselnya langsung berhenti.


"Kenapa?" tanya Arvin sambil menatap asisten barunya itu.