Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Amarah



"Siapa Vano?" tanya Arvin lagi, dia sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa dalang dibalik drama penculikan adik dan kekasihnya.


"Dia laki-laki yang waktu itu menggoda Nadin di kafe," jawab Vano.


"Apa?! Lo yakin dia?!" tanya Arvin, dia tidak percaya kalau dalang dari semua hal buruk yang terjadi hari ini adalah orang itu. Dilihat dari sisi mana pun, orang itu tidak akan memiliki keberanian untuk melawan dua dari sepuluh pengusaha yang memiliki pengaruh besar di industri intertainer. Dion ayahnya Ira selain memeliki beberapa rumah sakit dan usaha lain, ia juga memiliki perusahaan di bidang intertainment yang cukup besar dan disegani oleh berbagai kalangan. Sementara keluarganya, Narendra meski tidak berhubungan secara langsung di bidang intertainment, tetapi salah satu perusahaan finansial milik kakeknya merupakan investor terbesar di dunia hiburan tanah air.


"Aku sudah mengeceknya di kepolisian dan pihak kepolisian membenarkan jika pemilik mobil dengan plat nomor tersebut adalah Hendarso orang yang waktu itu sempat lo pukuli karena menolong Nadin," Vano memberikan penjelasan.


"Kalau begitu kita datangi orang itu sekarang, jika memang benar dia adalah dalang dibalik semua kejadian buruk hari ini, maka aku pastikan, aku akan menghukum dengan tanganku sendiri," ucap Arvin dengan sorot mata penuh amarah.


"Ar, kamu boleh menghajarnya sepuas hatimu. Tapi, ayah ingatkan jangan sampai kamu membunuh orang itu, serahkan dia pada polisi." Alvin mencoba mengingatkan putranya agar tidak gegabah dalam mengambil tindakan. Dia tidak mau melihat putranya harus mendekam dibalik jeruji besi karena tidak mampu mengendalikan emosi.


"Iya, Yah. Aku akan mencobanya," jawab Arvin, meski sebenarnya dia sendiri tidak tahu seberapa kuat ia bisa menahan emosinya.


"Ingatlah, Ar. Tidak ada orang yang mampu membuat Queen merasa aman selain kamu." Sekali lagi Alvin mengingatkan.


Arvin mengangguk.


"Ar, apa gue boleh ikut menjenguk Queen?" tanya Vano. Sejak kembali dari gudang tempat Queen disekap, Vano belum sempat melihat keadaan Queen karena dia langsung ke kantor polisi untuk mencari tahu siapa pemilik kendaraan dengan plat nomor yang disebutkan oleh Arvin.


"Tentu. Aku juga ingin menemuinya lagi sebelum bertemu dengan keparat itu," jawab Arvin.


Arvin dan Vano masuk ke kamar Queen. Keduanya menatap nanar gadis yang selalu mereka anggap anak kecil yang masih terbaring lemah di tempat tidur.


Queen terlihat tidak tenang saat tidur, kedua bola matanya terlihat bergerak meski matanya tertutup. Bahkan beberapa kali ia mengigau.


"Ar, apa kata dokter? Apa dokter sudah bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi pada Queen di ruangan itu?" tanya Vano.


"Dokter belum menyimpulkan apa pun karena Queen terus histeris saat dokter mencoba untuk memeriksa keadaannya," jawab Arvin.


Arvin mendongakkan kepalanya, dia tidak mau terlihat lemah. Dia harus kuat untuk membalas perbuatan orang-orang itu kepada adiknya. Apalagi sampai sekarang Ira juga belum diketahui keberadaannya.


"Ayo, Van, kita ke tempat Hendarso sekarang. Lo tahu dimana keberadaannya saat ini, kan?" ajak Arvin.


Vano mengangguk. Kedua laki-laki itu bergegas pergi untuk menemui Handarso.


***


Di sebuah tempat hiburan malam di salah satu hotel kenamaan, Hendarso sedang menikmati minumannya dengan ditemani beberapa wanita panggilan. Satu wanita sedang meminjit punggungnya, satu wanita lagi bertugas menuangkan minuman ke gelas, dan dua wanita yang lain duduk di pangkuan pria dengan tubuh gempal itu entah untuk melakukan apa.


Namun, kesenangan pria bertubuh gempal yang memiliki pikiran kotor itu harus dinodai dengan kedatangan Arvin dan Vano yang tanpa permisi. Dengan penuh amarah, Arvin melayangkan tinjuan ke wajah Hendarso.


Sementara Vano menyuruh para wanita itu untuk keluar dari sana, dia memberi peringatan kepada para wanita itu untuk tidak ikut campur dan berpura-pura tidak tahu menahu tentang kejadian yang saat ini sedang terjadi.


"Apa yang sudah kamu lakukan kepada adikku? Dan katakan dimana kamu menyembunyikan Ira?" tanya Arvin penuh amarah. Dia mencekik leher Hendarso hingga pria itu kesuliatan untuk bernapas.


"Ar, hentikan! Jangan gegabah! Kalau begini dia bisa mati, Ar!" Vano berusaha melepaskan cengkraman tangan Arvin di leher Hendarso. Sayangnya cengkraman itu terlalu kuat dan membuatnya kewalahan untuk melepaskannya.


"Ar, sadar, Ar!" teriak Vano sambil terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Arvin di leher Hendarso.