
"Sepertinya kedatanganku tidak kamu harapkan," keluh orang itu. Ira menutup layar ponselnya, dia kemudian memeluk orang itu.
"Ku kira hari ini aku tidak akan melihatmu setelah ujian," ucap Ira sambil memukul dada bidang kekasihnya.
Iya, orang yang baru saja datang itu adalah Arvin.
"Maafkan aku, aku betul-betul ada urusan mendadak pagi tadi," ucap Arvin dengan manisnya.
"Sekarang urusannya sudah selesai?"
"Sebenarnya belum, tapi aku sengaja datang ke sini untuk memberikanmu dukungan. Tapi, maaf ya aku terlambat," ucap Arvin lagi.
"Tidak apa-apa. Kamu bisa datang saja aku sudah ssneng banget," jawab Ira. "Tapi.... "
Sebelum Ira selesia memgucapkan kalimatnya, sebuah mobil warna putih berhenti di depan mereka.
"Atas nama Mbak Ira?" tanya driver taksi online tersebut kepada keduanya.
"Iya, saya, Ira."
"Kamu pesan taksi online Sayang?" tanya Arvin.
"Kan aku kira Pak Arvin nggak bakalan datang. Makanya pas keluar tadi aku langsung pesan taksi online."
"Maaf ya, Pak, gak jadi." Justru Arvin yang menjawab.
"Yah, Mbak kenapa nggak jadi padahal saya sudah sampai di depan Mbaknya?" driver taksi online itu masih enggan untuk pergi. Bagaimanapun, dia sudah sampai di tempat orang yang memesan taksinya, pantang hukumnya untuk menyerah tanpa mendapatkan uang. Apalagi ini adalah penumpang pertamanya.
"Pak, maaf ya. Aku naik taksi aja nggak apa-apakan? Kasihan kalau dibatalin apalagi dia sudah sampai ke sini," ucap Ira kepada Arvin.
Arvin mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari dalam dompetnya kemudian memberikan uang tersebut kepada sang driver taksi online.
Driver taksi online itupun tersenyum senang, dia menerima uang itu dari tangan Arvin. Namun, beberapa detik kemudian dia mengembalikan uang itu kembali.
"Kenapa? Kurang?" tanya Arvin sambil menatap sang driver.
"Bukan, Pak. Bukan itu. Tapi, saya takut begitu saya terima uang itu, Mbaknya ngasih bintang satu. Nanti saya nggak bisa nyari rezeki buat istri dan anak saya di rumah, Pak," jelas driver tersebut.
"Kenapa berpikiran kalau saya bakal ngasih bintang satu?"
"Di berita saja ada, Mbak. Gara-gara manggil penumpangnya dengan sebutan Mbak, penumpang itu ngasih bintang satu. Saya takut. Udah deh nggak apa-apa kalau memang nggak jadi, doakan saja semoga saya dapat penumpang lain," jawab driver tersebut.
"Nggak apa-apa, Pak. Ambil saja. Tenang saja aku nggak akan ngasih Bapak bintang satu." Ira memberikan kembali uang yang sempat ditolak oleh sang sopir taksi.
"Beneran ini, Mbak?"
"Iya, bener. Ambil saja. Sekarang Bapak bisa pergi dari sini," jawab Ira sambil tersenyum.
"Kalau begitu terima kasih ya, Mbak. Permisi."
Akhirnya driver taksi online pun pergi dari hadapan Ira dan Arvin.
"Ohiya, mobil Pak Arvin mana?" tanya Ira sambil mencari keberadaan mobil kekasihnya tersebut.
"Ada di sebelah sana, Kok," jawab Arvin sambil menunjuk ke arah kanan tangan kanannya.
"Yang mana, Pak? Btw, kali ini Bapak nyewa mobil punya siapa?" tanya Ira yang masih mencari keberadaan mobil kekasihnya.
"Punya Pak penjaga villa," jawab Arvin.
"Memangnya penjaga villa itu punya mobil? Perasaan dia cuma punya motor bebek butut warna merah sama .... " Ira tidak melanjutkan kata-katanya saat menemukan kendaraan yang dimaksud. Ira mengedipkan matanya beberapa kali berharap hal yang dilihatnya hanya sebuah ilusi.