Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Artikel (#Nadinbalikan)



Tanpa terasa sudah tiga tahun Arvin dan Ira bertunangan. Dan selama itu juga tidak banyak waktu yang bisa mereka habiskan bersama karena kesibukan masing-masing. Ira lebih sering berada di Jogjakarta karena memang kampus tempat ia menimba ilmu ada di kota yang terkenal dengan kota gudeg tersebut. Sedangkan Arvin, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di Jakarta karena banyaknya pekerjaan. Bahkan hampir tiap minggunya dia harus bolak balik ke luar negeri untuk urusan bisnis. Kadang hal itulah yang membuat Ira dan Arvin bertengkar.


Oh iya, Ira sudah tidak tinggal di villa milik Arvin lagi selama menempuh pendidikan Jogja. Bukan karena tidak diperbolehkan, tetapi karena Arvin jarang berada di Jogja dan tidak bisa menemani Ira selama dia di sana, Arvin menyuruh kekasihnya tersebut untuk tinggal di kosan bersama temannya yang lain. Selain itu jarak antara villa ke kampus terbilang cukup jauh. Jika Ira bersikeras tinggal di villa itu, maka dia harus berangkat minimal srtelah salat subuh. Selain itu kondisi villa yang hanya ramai di waktu musim liburan, membuat Arvin tidak tenang jika harus membiarkan kekasihnya itu tinggal di villa sendirian.


Hari ini adalah hari dimulainya libur semester, biasanya Ira akan langsung ke Jakarta untuk bertemu dan berkumpul dengan orang tua dan keluarganya yang lain. Tetapi, karena kali ini Arvin akan menemuinya di Jogja, Ira memilih tetap berada di kosan smbil menunggu kekasihnya itu datang.


"Ra, tumben kamu nggak langsung berkemas biasanya paling cepet kalau soal urusan balik ke rumah?" tanya Hana yang memang satu kosan bersama Ira. Saat tahu jika Arvin sudah menolak perjodohan dengannya, Hana memang agak menjauh dari Ira. Namun, seiring berjalannya waktu, hubungan keduanya kembali dekat walau tidak sedekat waktu mereka SMA dulu.


"Aku nggak langsung balik ke Jakarta sekarang soalnya Pak Arvin mau datang ke Jogja besok," jawab Ira sambil memainkan benda pipih di tangannya.


"Oh." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Hana.


Ira langsung menghentikan pergerakan jari-jarinya yang saat itu sedang bermain di atas layar benda pipih yang saat ini ia pegang. Dia merasa tidak enak karena telah menyebut nama Arvin di depan Hana, wanita yang gagal menjadi tunangan kekasihnya itu.


"Maaf, ya, Han," ucap Ira.


Hana menatap Ira sambil mengulas senyum. "Nggak apa-apa kok. Aku udah nggak masalah kok kalau kamu nyebut nama Kak Arvin."


Meski Hana berkata seperti itu, Ira tahu kalau sahabatnya itu berbohong. Apalagi Hana sudah mencintai Arvin sejak lama.


"Kamu langsung ke Jakarta malam ini?" Ira berusaha mengalihkan pembicaraan, melepas suasana canggung diantara mereka.


"Tidak, mungkin besok karena mama dan papa ngelarang aku balik ke Jakarta sendirian," jawab Hana. "Hah, padahal aku sudah dewasa tetapi mengapa masih memperlakukanku seperti anak kecil," keluhnya.


"Sabar saja, kamu kan anak tunggal, wajar mereka bersikap over protectif sama kamu. Aku saja baru diizinkan pulang pergi Jogja-Jakarta sendiri baru-baru ini, padahal aku bukan anak tunggal."


Hana tersenyum.


"Ohya, Ra, bagaimana hubunganmu dengan Kak Arvin? Kapan kalian akan melanjutkan ke pelaminan?" Hana kembali membuka pembicaraan lagi.


"Setelah aku mendapat gelar dokter. Daddy nggak ngizinin aku nikah sebelum mendapatkan gelar itu."


"Aku nggak punya maksud apa-apa, Ra. Kak Arvin itu kan pengusaha kaya, dia juga tampan. Aku yakin selain aku, banyak wanita di luaran sana yang naksir sama dia." Hana memcoba menjelaskan maksud pertanyaannya.


"Tapi, jika Pak Arvin cintanya sama aku, semua itu bukan masalah sih," jawab Ira enteng.


"Syukur deh kalau kamu sepercaya itu sama Kak Arvin. Ku kira kabar tentang Kak Arvin yang balikan lagi sama Kak Arvin mempengaruhi hubungan kalian," lanjut Hana.


"Maksudmu?" Kembali Ira menatap Hana.


"Jadi, kamu belum baca artikel tentang itu?"


Ira menggeleng.


"Maaf ya kukira kamu sudah membacanya dan itu nggak mempengaruhi hubungan kalian," ucap Hana, dia merasa bersalah karena sudah memberitahukan sesuatu yang bukan kapasitasnya untuk memberitahu.


"Dimana kamu baca artikel itu?"


"Sudah lupakan saja, lagian artikel itu nggak penting juga kan buat hubungan kalian?"


Ira tidak memperdulikan perkataan Hana, dia mulai mencari tentang artikel itu di google. Dan benar saja gosip tentang mereka balikan menjadi trending pencarian nomor lima di google. Bahkan tagar Nadin balikan di media sosial seperti twitter juga menjadi trending nomor satu.


"Berita apaan ini? Benar-benar ya media sekarang hanya asal buat berita tanpa konfirmasi dengan yang bersangkutan." Ira terlihat kesal setelah membaca artikel tentang kekasihnya itu.


"Aku harus menghubungi Pak Arvin sekarang." Ira segera menelpon ke nomor kekasihnya, sayangnya sudah beberapa kali mencoba, nomor itu tidak dapat dihubungi.


"Awas saja, besok saat dia datang, aku akan membuat perhitungan sama dia," gerutu Ira.


Hana hanya bisa tersenyum kaku, dia mentesal karena telah memberitahu Ira tentang arrikel yang memuat berita tentang Arvin dan Nadin.