
"Baiklah. Sepertinya akan memakan waktu yang lama kalau aku harus mencari tempat lain lagi," jawab Arvin yang akhirnya setuju untuk makan di restoran milik pria yang bernama Arga tersebut.
"Tuh Pak Arga, Pak Arvin sudah setuju," ujar Ira.
"Kalau begitu ayo ikut ke ruanganku!" ajak Arga kepada dua orang di depannya.
Arga membawa Ira dan Arvin ke ruangan kerjanya. Mereka duduk di sofa sudut berwarna biru yang ada di ruangan Arga karena Arga memang penyuka warna biru.
"Pak Arvin, Ira, kalian bisa ngobrol dulu, aku akan menyuruh orang untuk membawa makanan ke ruanganku ini." Arga menyuruh dua orang yang diajaknya masuk ke ruang kerjanya untuk ngobrol terlebih dulu sementara dia sendiri berjalan ke arah meja kerjanya untuk menelpon orangnya membawakan makanan untuk mereka. Setelah beberapa menit dia berbicar dengan bawahannya, Arga pun kembali duduk di sofa bersama Arvin dan Ira.
"Aku senang karena bisa bertemu lagi denganmu di sini, Ira. Kemarin aku mau bertanya di mana kamu tinggal, tapi, kamu sudah pergi," ucap Arga kepada Ira.
"Ouh, kemarin aku agak buru-buru," jawab Ira.
"Begitu ya? Sekarang kan kamu sedang tidak terburu-buru, kamu bisa kan ngasih tahu aku kamu tinggal dimana sekarang!"
Ira menatap bosnya sebentar. Dia tidak mau membuat bosnya marah karena dia sedang membutuhkan pekerjaan dan tempat tinggal sementara selama berada di Jogja.
"E... maaf Pak Arga, kalau soal tempat tinggal.... "
"Dia tinggal di salah satu villa yang ada dekat pantai," sela Arvin. Arga tersenyum senang karena kebetulan dia juga memiliki villa di sana. Namun, senyumnya mendadak hilang saat mendengar perkataan Arvin selanjutnya.
"Ira tinggal bersamaku di villa itu," tambah Arvin.
"Begitu, ya? Ku kira dia hanya bekerja sebagai asistenmu saja tiap pagi hingga sore."
"Pekerjaanku memang itu, Pak Arga. Tapi, aku kan tidak punya tempat tinggal lain di kota ini. Lumayanlah bisa dapat tempat tinggal gratis," jawab Ira polos. "Btw kenapa makanannya belum datang ya?" Ira melihat ke arah pintu berharap makanan pesanannya segera datang.
"Bener juga sih. Baiklah aku akan manggil kamu Arga," jawab Ira.
Tidak lama dua orang wanita datang sambil membawa makanan yang Arga pesan.
"Wah, Ga. Banyak banget. Perasaan Pak Arvin tidak memesan makanan sebanyak ini," ujar Ira saat melihat makanan yang datang melebihi makanan yang dipesan oleh Arvin.
"Aku sengaja memesan makanan kesukaanmu juga," jawab Arga sambil menunjukkan senyum terbaiknya.
"Memangnya kamu tahu makanan kesukaanku?" tanya Ira antusias.
"Tahu dong. Mungkin kamu lupa kalau kita pernah.... "
"Ngobrolnya nanti saja! Aku sudah lapar. Lagian setelah ini aku dan Ira harus menghadiri rapat lagi. Jadi, sebaiknya kita langsung makan terus pergi dari sini," sela Arvin.
"Pak, memang kita ada rapat lagi? Dengan siapa? Kok tadi Bapak nggak ngasih tahu aku?" tanya Ira sambil menatap bosnya itu.
"Sudah aku kasih tahu, kamunya saja yang nggak denger. Makanya kalau punya kuping itu gunakan dengan baik," jawab Arvin dengan nada ketus.
"Masa sih? Perasaan tadi nggak bilang apa-apa," gumam Ira.
"Ehem." Arvin berdehem.
"Iya, Pak, kita makan sekarang," ucap Ira.
Ketiganya pun memulai makanan yang ada di hadapan mereka. Arvin merasa tidak suka melihat Arga yang terlihat berusaha untuk mencari perhatian dari Ira. Laki-laki itu terlihat sok akrab dan memberikan perhatian kepada Ira. Bahkan tidak segan, Arga menyuapi Ira untuk mencicipi makanan kesukaannya.