
"Dasar Arvin brengsek. Berani-beraninya dia mengataiku otak udang. Lihat saja, aku pasti akan bisa membuktikan sama dia kalau aku bisa diterima di kampus ternama di kota ini." Oceh Ira yang masih kesal dengan perkataan Arvin barusan.
Ira duduk di tepi ranjang sambil mencari informasi tentang jadwal penerimaan mahasiswa baru melalui google dari hapenya. Setelah menemukan informasi yang dicarinya tersebut Ira segera mencatat jadwal dan segala persyaratan yang harus dipenuhi saat mendaftar.
"Bagaimana aku bisa tahu nilai ujian nasianalku kalau aku tidak melihat nilai itu secara langsung. Mana aku nggak bawa lagi pas kabur dari rumah, gimana bisa daftar coba." Ira berbicara pada dirinya sendiri. "Tapi, kalau aku tidak daftar pasti si bos kurang akhlak itu bakalan terus ngatain aku otak udang. Nggak! Pokoknya ini nggak boleh dibiarkan. Bagaimapun caranya aku harus bisa mendaftar dan ikut seleksi di universitas itu. Aku harus keterima dan jadi mahasiswa di kampus itu." Dengan tekad yang kuat, Ira yakin pasti akan ada jalan agar dirinya bisa mendaftar dan bisa diterima di kampus yang menjadi primadona di kota gudeg tersebut.
Setelah hampir lima belas menit Ira berpikir, akhirnya gadis yang memiliki kebiasaan ceroboh itu pun menemukan cara untuk bisa mengetahui nila UAN-nya.
"Lihat saja Pak Arvin, aku akan buktikan kepadamu kalau aku bakalan bisa keterima di kampus yang kredible dan bisa menjadi mahasiswa di sana.
Sambil tersenyum. Ira mulai mencari kontak yang akan ia hubungi dan itu adalah nomor uncle-nya, Tama.
"Uncle bisa bantuin aku nggak?" tanya Ira pada saat teleponnya terhubung ke nomor uncle-nya.
"Ini kenapa nih, tiba-tiba langsung minta bantuan? Salam dulu kek atau basa-basi dulu nanyain kabar," tegur Arya.
"Iya, Uncle, iya. Assalammualaikum." Ralat Ira
"Nah, gitu kan adem dengarnya. Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Kamu mau minta bantuan apa sama Uncle?" tanya Tama dari ujung sana.
"Uncle ada di mana sekarang?"
"Tumben nanyain Uncle ada di mana? Kenapa? Ada apa?" cecar Tama dari ujung sana.
"Bukannya kamu sudah masuk kuliah sejak dua tahun yang lalu?" Setidaknya itulah yang diketahui oleh Tama sebelumnya.
"Maaf, Uncle sebenarnya Qilla nggak pernah kuliah selama ini," jawab Ira.
"Astaga, Qilla. Bagaimana kalau mommy dan daddy-mu tahu soal ini? Mereka bisa marah besar." Tama benar-benar tidak menyangka kalau keponakannya yang terlihat ceroboh dan polos itu bisa melakukan kesalahan yang sangat besar.
"Maafin Qilla, Uncle."
"Harusnya kamu minta maafnya sama mommy daddy kamu, bukan sama Uncle. Astaghfirullah hal 'adzim." Tama sampai me gelus dada mengetahui sikap kurang ajar keponakannya."
"Uncle, marahnya bisa dipending nggak? Saat ini Ira lagi butuh hasil UN, ketimbang amarah dari Uncle. Nanti kalau Uncle sudah ngedapetin hasil UN-ku, Uncle boleh kok marah-marah lagi," pinta Qilla sambil menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Baiklah, kebetulan Uncle baru sampai di Jakarta. Nanti sore Uncle carikan hasil UN kamu, ntar Uncle fotoin." Jawab Tama yang terdengar kesal. Pria yang masih betah menduda itu akhirnya mau membantu Ira.
"Thank you, Uncle. Aku tunggu fotonya ya, Uncle."
"Ingat ya Qilla setelah kamu keterima dan lolos seleksi. Kamu nggak boleh nggak .... "
Belum selesai Tama berbicara Ira malah langsung memutuskan panggilannya. "Dasar keponakan kurang ajar," ucap Tama sambil menggeleng.