Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
DORRR!



Arvin yang sempat terjatuh dari speed boat masih berusaha berusaha berenenag mendekati kapal. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada Ira, terlebih polisi dan anak buah mertuanya tersebut belum datang. Ia harus bisa mengulur waktu sampai mereka semua tiba di sana. Beruntung ada tali yang menjulur dari atas dek kapal ke bawah, tali itu adalah tali yang biasanya dipakai untuk mengikat jangkar. Arvin berusaha meraih tali tersebut agar dia bisa naik keatas dek kapal.


"Jangan mendekat! Aku bilang jangan mendekat!"


Suara teriakan Ira dari atas dek kapal membuat hati Arvin mencelos. Sebelumnya dia tidak bisa menyelamatkan adiknya karena datang terlambat ke lokasi dan kali ini ia tidak mau melakukan hal yang sama. Dia harus bisa menyelamatkan calon istrinya tersebut dari kebengisan Hana.


Akhirnya Arvin berhasil meraih tali yang terlihat menjuntai tadi dengan sekuat tenaga dia berusaha naik ke tas kapal melalui tali tersebut hingga akhirnya dia berhasil. Begitu tiba di dek dimana suara Ira terdengar tadi, dia melihat Ira sedang dilecehkan oleh anak buah Hana.


"Jangan! Jangan mendekat! Hana aku mohon suruh dia berhenti, Hana aku mohon!" pinta Ira dengan ketakutan.


Namun, Hana tidak peduli. Kebengisannya malah makin menjadi. "Cepetan Jack, aku sudah tidak sabar ingin melihat cewek itu menangis darah karena tidak bisa mempertahankan kesuciannya. Aku ingin lihat, apa Kak Arvin masih akan menerimanya seandainya dia masih hidup," ujar Hana. Dia begitu menikmati rasa takut yang saat ini dirasakan oleh Ira.


Jack segera melakukan perintah Hana, dia berusaha menarik baju yang masih menempel di tubuh Ira. Saat itulah Arvin muncul dan langsung menendang tubuh Jack hingga tersungkur.


"Kamu tidak apa-apa, Sayang? Apa ada yang terluka?" tanya Arvin kepada Sang Kekasih. Dia memindai tubuh kekasihnya, selain bajunya yang robek dia melihat ada luka memar dan luka goresan di hampir sekujur tubuh kekasihnya. Bahkan di sudut bibir Ira pun sedikit mengeluarkan darah.


"Apa ini sakit, Sayang?" tanya Arvin sambil menngelap bibir yang terluka itu.


"Tidak... tidak sakit," jawab Ira.


"Maafkan aku, maafkan aku karena terlambat menemukanmu. Andai saja aku bisa datang lebih awal kamu tidak akan mengalami hal seperti ini. Maafkan aku." Arvin tidak tahan melihat tubuh kekasihnya yang penuh dengan luka seperti itu.


"Tidak apa-apa yang penting sekarang kamu sudah berhasil menemukanku, kan?" Ira mengusap air mata yang sempat menetes di pipi Arvin demikian juga sebaliknya, Arvin pun melakukan hal yang sama.


"Pasti kamu ketakutan tadi."


"Sedikit. Tapi sekarang aku sudah tidak takut lagi karena sudah ada kamu disini," jawab Ira.


Arvin segera memeluk tubuh Ira. "Benar, kamu tidak boleh takut karena aku disini untuk melindungimu."


Ira mengangguk, dia membalas pelukan Arvin lalu mendongak dan berkata, "Tadi aku kira kamu.... "


"Gadis bodoh, aku tidak akan mati sebelum memberikan pelajaran kepada orang-orang itu," ujar Arvin.


"Sekarang kamu menyingkirlah dulu, aku akan bereskan mereka satu per satu." Arvin melepas jasnya. Dia menggunkan jasnya tersebut untuk menutupi tubuh Ira. Dia kemudian mendudukakn Ira agak menjauh dari para penjahat itu.


"Duduklah disini!" suruh Arvin dan mendapat anggukan dari Ira.


Arvin kembali menghampiri Jack dan pejahat yang lainnya. Dia segera menghajar mereka satu per satu. Arvin sempat kalah karena jumlah mereka yang tidak seimbang. Beruntung bala bantuan tiba tepat waktu.


"Angkat tangan atau kami tidak akan segan untuk menembak kalian!" suara peringatan dari polisi melalui pengeras suara.


Tahu jumlah mereka kalah dengan jumlah polisi yang datang, Jack dan anak buahnya yang lain memilih mengikuti instruksi polisi untuk mengangkat kedua tangannya.


"Nona Hana, kamu juga angkat tanganmu!" suruh polisi itu kepada Hana sambil menodongkan senjata api ke arah wanita psycopat tersebut. Tanpa banyak bicara Hana pun mengangkat kedua tangannya.


Sebagian polisi sudah berhasil naik ke atas kapal, demikian juga Dion. Dia pun turun dari helikopter dan naik ke atas kapal. Dan berhasil mengamankan seluruh penjahat itu.


"Sayang, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Dion, dia langsung memeluk tubuh putrinya erat.


"Aku tidak apa-apa Daddy," jawab Ira.


"Arvin bagaimana dengan dirimu?" Dion juga menanyakan keadaan calon menantunya


"Aku hanya sedikit lelah, Om," jawab Dion. "Tapi, lelahku ini akan langsung hilang kalau Om membiarkan putri Om ini menciumku."


"Dasar anak kurang ajar!" umpat Dion sambil berpura-pura hendak melayangkan pukulan ke arah Arvin.


"Ampun, Om. Ampun," ucap Arvin sambil berpura-pura menutup kepalanya. Dia dan Ira kemudian tertawa bersama-sama.


Arvin, Ira, dan Dion cukup lega karena akhirnya semua hal menyeramkan itu berhasil dilalui dengan baik. Meski sangat disayangkan karena kejadian itu harus menelan dua korban yaitu Queen dan mamanya Hana.


Meskipun belum jelas apa yang sebenarnya terjadi pada Queen di hari itu, semua berharap Queen akan sembuh dan kembali ceria seperti sebelumnya.


"Sebaiknya kita bertiga naik helikopter saja agar cepat sampai di rumah," kata Dion.


"Baik, Daddy."


"Baik, Om."


Jawab Ira dan Arvin bersamaan.


Dion terlebih dulu naik ke atas heli diikuti oleh Ira, pada saat itulah Hana tiba-tiba merebut pistol polisi yang ada di sebelahnya dan mengacungkannya ke arah Qilla.


"Qilla!" teriak Hana. Qilla menoleh, matanya membulat ketika melihat Hana tiba-tiba menarik pelatuk dari pistol tersebut.


DORRR!