Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Kondisi Queen



"Apa yang sudah kalian lakukan pada Queen?! Apa?!" teriak Ira begitu lakban yang menutup mulutnya dibuka.


"Anak buahku hanya sedikit bersenang-senang dengan gadis itu," jawab penjahat yang bernama Jack.


"Sebenarnya siapa orang berjubah itu? Kenapa dia tega melakukan hal ini kepada aku dan Queen? Apa salah kami?" Meskipun kedua tangannya masih terikat, Ira tetap berusaha memukul pria itu. Hatinya begitu pedih membayangkan sesuatu yang buruk terjadi kepada calon adik iparnya.


"Queen... maafkan kakak karena tidak bisa menolongmu. Tolong maafkan kakak Queen," lirih Ira, tubuhnya luruh ke lantai. Ira yang saat itu sudah berada di tempat penyekapan.yang baru sudah tidak memiliki tenaga apa pun lagi. Bukan hanya tenaganya yang terkuras, akan tetapi psikisnya pun ikut merasa lelah. Ira tidak sanggup membayangkan kondisi calon adik iparnya itu sekarang. Jika saja ia tidak membawa alat komunikasi itu mungkin hal buruk itu tidak akan terjadi pada calon adik iparnya. Perasaan menyesal dan rasa bersalah yang begitu besar kini hinggap di relung hatinya yang paling dalam.


"Ayo kita keluar! Bos menyuruh kita untuk membiarkan gadis itu beristirahat!" suruh Jack kepada anak buahnya yang lain. "Tapi, ingat kali ini jangan sampai kita kecolongan lagi. Jangan beri dia celah untuk memberitahu keberadaannya kepada orang lain!" Jack mengingatkan anggota yang lain.


"Beres," jawab penjahat lainnya. Jack dan yang lainnya keluar dari ruang penyekapan dan membiarkan Ira seorang diri sana. Mereka menaruh dua orang untuk berjaga di depan pintu.


Sepeninggal mereka, Ira duduk sambil menekuk lutut. Ia menenggelamkan kepalanya diatas kedua lututnya tersebut.


"Kenapa aku seceroboh ini? Kenapa aku tidak bisa bersikap lebih hati-hati? Pada akhirnya apa pun yang terjadi pada Queen sekarang adalah karena kecerobohanku." Ira terus menyalahkan dirinya sendiri. Dia tidak tahu bagaimana dia akan menghadapi Arvin ketika mereka bertemu nanti.


Sementara itu di kediaman Keluarga Narendra, Alvin dan Nayla menunggu dengan cemas hasil pemeriksaan dari dokter. Hati orang tua mana yang tidak hancur ketika melihat kondisi putri tercintanya dalam keadaan berantakan? Apalagi, Queen selalu berteriak ketika ada orang yang mendekatinya. Satu-satu orang yang membuatnya tidak takut hanya Arvin.


"Dokter bagaimana keadaan putri kami?" tanya Nayla ketika melihat dokter keluar dari kamar Queen.


"Mas." Nayla memeluk suaminya, dia benar-benar tidak sanggup menerima kenyataan jika benar telah terjadi hal buruk kepada putrinya.


"Sabarlah, Nay. Semoga Queen tidak apa-apa." Alvin berusaha menenangkan istrinya, meski tak dapat dipungkiri jika sebenarnya ia pun memiliki kekhawatiran yang sama.


"Ar, bagaimana kondisi adikmu?" tanya Nayla begitu melihat putra pertamanya keluar dari kamar Queen.


"Bunda, Ayah, saat ini Queen sudah bisa tidur. Saat dia bangun nanti, jangan tanyakan apa pun kepadanya soal kejadian hari ini. Biarkan dia yang bercerita sendiri nantinya," jawab Arvin. Dia berusaha untuk tetap terlihat tegar dihadapan keluarganya.


Nayla mengangguk, dia kembali menangis sambil memeluk suaminya. Melihat situasi ini membuat Arvin merasa tidak berguna, bukan hanya sebagai kakak bahkan sebagai seorang kekasih sampai sekarang pun dia belum bisa menemukan keberadaan sang kekasih.


"Ar, akhirnya aku tahu siapa pemilik plat kendaraan itu," ucap Vano yang baru saja datang.


"Siapa?" tanya Arvin dengan tidak sabar.


"Dia.... "