Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Senjata sakral



Tubuh Arvin menegang mendapat pelukan dari sang kekasih, tidak hanya itu, ada bagian lain yang juga ikut menegang dan itu membuat Arvin semakin panik.


"Aduh, kalau begini, bisa gawat. Aku harus melepaskan diri dari Ira sekarang" batin Arvin, dia berusaha untuk menahan diri agar bagian tubuhnya yang lain tidak semakin menegang.


"Maaf, Ra, aku beneran harus pergi sekarang."


"Tapi, Bapak mau pergi ke mana?"


"Maaf, Ra. Aku nggak bisa jawab. Pokoknya aku harus pergi sekarang juga," jawab Arvin. Dia melepaskan tangan Ira dan segera pergi meninggalkan kekasihnya tersebut.


"Pak, Pak Arvin mau kemana? Pak!" tanya Ira dengan sedikit berteriak. Namun, Arvin langsung pergi tanpa memberikan jawaban kepadanya.


"Apa Pak Arvin benar-benar ilfil setelah melihat kamarku?" tanya Ira pada dirinya sendiri. Dengan langkah gontai Ira kembali masuk ke kamarnya.


"Apa sekarang aku sudah menjadi mantan dari Pak Arvin?" Kembali Ira bertanya pada dirinya sendiri. Dia menghembuskan napas beratnya.


"Kanapa nasib cintaku tragis sekali, baru juga jadian beberapa hari, kenapa sekarang jadi mantan? Dan ini gara-gara kamar yang berantakan," keluh Ira. Dia kembali menghela napasnya. Ira tidak tahu lagi harus berbuat apa setelah ini. Jika dia menjadi mantan Arvin, kemana dia harus pergi setelah ini. Ira pun mengambil telepon genggam miliknya dari dalam laci.


"Lebih baik aku telepon Queen dan bertanya apa yang bisa aku lakukan untuk membuat Pak Arvin nggak jadi mutusin aku?"


Ira segera menghubungi nomor calon adik iparnya itu.


***


Disisi lain, Arvin memilih kembali ke hotel yang pernah dia sewa beberapa waktu yang lalu. Dia perlu menenangkan diri untuk menghilangkan pikiran liar yang singgah di otaknya beberapa waktu yang lalu. Terlebih, sekarang dia pun harus menidurkan adik kecilnya yang menegang gara-gara mendapat pelukan dari Ira.


"Sial! Gara-gara dua benda laknat itu, aku jadi harus bersusah payah menjernihkan otakku. Ah, mana sekarang aku juga harus menidurkan senjata sakralku lagi. Ternyata berat kalau orang yang belum memiliki pasangan sah, tiba-tiba menginginkan hal itu," ucap Arvin. Dia bediri di bawah shower yang menyala.


"Masa aku harus main pakai sabun buat menidurkan ini? Pokoknya begitu, Ira lulus dan diterima menjadi mahasiswa aku harus langsung melamarnya. Jadi, kalau aku seperti ini, aku nggak perlu susah payah mengguyur tubuhku di bawah shower seperti ini," keluh Arvin.


Arvin terus berdiri di bawah guyuran air dari shower. Butuh waktu yang lama bagi Arvin untuk membuat senjata miliknya yang sudah menegang tersebut tertidur kembali. Dan akhirnya semua kembali normal setelah hampir dua jam ia berada di sana.


Arvin segera mengambil pakaian ganti yang baru saja diantar oleh service room ke kamarnya. Saat itulah ponsel miliknya berdering.


"Hallo," jawab Arvin begitu dia menekan tombol hijau di layar ponselnya.


"Di hotel. Ada apa?"


"Kakak beneren putus sama Kak Ira?"


"Gimana-gimana?" tanya Arvin bingung.


"Kak, aku serius. Kakak beneran putus sama Kak Ira? Kenapa, Kak? Bukankah Kakak menolak perjodohan itu karena Kak Ira? Kenapa sekarang Kakak malah mutusin dia?" cecar Queen.


Arvin masih tidak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh adiknya.


"Tunggu-tunggu, siapa yang putus? Terus kamu dapat berita hoax itu dari mana?"


"Jadi, Kakak nggak mutusin Kak Ira gara-gara kamar Kak Ira berantakan?"


"Hah? Kenapa kamu berpikiran begitu?"


"Karena itu yang dipikirkan oleh Kak Ira sekarang. Dia pikir Kakak menghilang karena Kakak ilfil sama dia," jelas Queen.


"Kenapa dia sampai berpikir begitu? Aku tahu ini pasti ulahmu," tebak Arvin.


"Hehehe, iya, Kak. Waktu itu aku pernah cerita ke Kak Ira soal Kak Arvin yang mutusin mantan Kak Arvin gara-gara kamarnya berantakan," jawab Queen membenarkan.


"Ira pengecualian."


"Ya udah buruan Kakak pulang ke villa sebelum Kak Ira pergi meninggalkan villa!" suruh Arvin.


"Apa?! Ira pergi?"


"Cepat Kak buruan kembali villa!" suruh Queen.


Arvin segera memutus sambungan teleponnya, gegas dia meninggalkan hotel tersebut dan kembali ke villa.