Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Lupa janji



"Serius Pak, saya harus naik itu?" tanya Ira memastikan.


"Seriuslah. Memang kamu mau naik apalagi?"


"Yah, Pak. Tahu Bapak bawa itu, mending tadi aku naik taksi aja," ucap Ira yang menyesal karena sudah mengikuti ucapan kekasihnya. Bagaimana tidak, dalam khayalannya, dia dan Arvin bakalan naik mobil sport ala-ala konten kreator terkenal yang pendapatan per bulannya bisa mencapai ratusan milyar dengan koleksi mobil mewahnya lebih dari sepuluh biji sampai dibutain garasi khusus, atau crazy rich-crazy rich terkenal yang lagi viral karen uangnya hasil nipu. Meski Ira tidak berharap sang pacar memiliki semua itu dari hasil nipu juga sih. Tetapi seenggaknya mereka bisa menghabiskan waktu berdua mereka dengan mobil yang layak enggak seperti sekarang ini yang harus naik mobil bak terbuka.


Iya, mobil yang dipinjam Arvin dari penjaga villa adalah mobil bak terbuka yang bagian belakangnya sudah disulap menjadi tempat jualan tahu bulat, karena selain berprofesi sebagai penjaga viila Pak penjaga villa tersebut memiliki profesi lain yaitu penjual tahu bulat yang terkenal dengan jargonnya "Tahu bulat, digoreng dadakan lima ratusan, gurih-gurih nyoi."


"Aduh, Pak. Kenapa pinjemnya mobil kek gini sih? Kan Bapak bisa pinjem di rental mobil," ucap Ira sambil menutupi sebagian wajahnya menggunakan telapak tangannya. Maklum saja kondisi tempat itu yang masih ramai membuat keduanya menjadi pusat perhatian.


"Nggak sempet, Ira. Tadi itu setelah meeting aku buru-buru pulang. Dan ternyata mobil yang ku sewa kemarin bannya bocor. Untung saja aku ketemu Pak penjaga villa yang lagi belanja, jadi sekalian aja aku sewa mobil bak terbukanya ini," jelas Arvin. "Sudah. Nggak usah malu. Yang pentingkan kita bisa jalan berdua sayang."


Satu tangan Arvin menggenggam tangan kekasihnya dan satu tangannya lagi memegang kemudi.


Jika dupikirkan, hal yang dikatakan Arvin ada benarnya juga. Yang penting mereka bisa menghabiskan waktu bersama-sama sekarang.


"Ohya, Sayang gimana ujian hari pertamamu?"


"Alhamdulillah, Pak. Aku bisa mengerjakannya dengan baik. Semoga saja nanti hasilnya juga baik sih," jawab Ira. "Doain aku ya, Pak."


"Pasti. Aku berharap kamu bisa meraih mimpimu untuk menjadi seorang dokter."


"Mimpi yang lainnya?"


Ira mengangguk.


"Mimpi apa memangnya?" tanya Arvin yang penasaran dengan mimpi yang lain yang dimaksud kekasihnya tersebut.


"Mimpi itu lho, Pak.... " Ira tidak melanjutkan perkataannya. Dia hanya tersenyum sambil menunduk malu.


"Mimpi yang mana sih?" tanya Arvin lagi.


"Beneran Bapak gak ingat?" kali ini Ira bertanya sambil menatap mata kekasihnya.


"Ira. Bagaimana aku bisa ingat kalau kamu nggak ngasih tahu. Apalagi kepalaku udah pusing mikirin pekerjaan," keluh Arvin.


"Ya udah deh kalau gak ingat." Wajah Ira terlihat ditekut. Dia langsung melepaskan gengaman tangan kekasihnya dan memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ira merasa kesal karena ternyata hanya dirinya yang ingat dengan janji yang Arvin katakan.


"Sayang kok dilepas sih genggaman tangan aku? kamu marah?" tanya Arvin.


"Nggak. Aku nggak marah kok. Kita nggak lagi nyeberang, jadi ngapain pakai gandengan tangan segala," jawab Ira sekenanya. Dia masih tetap memalingkan wajahnya. Namun, senyum kembali terlukis di bibir Ira kala mendengar ucapan Arvin yang berikutnya.