
Arvin sudah berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta setelah salat subuh. Meskipun sudah sangat mengantuk, hampir semalaman ia tidak bisa memejamkan matanya, pikirannya selalu tertuju pada wanitanya. Dia sangat takut jika Ira marah kepadanya gara-gara artikel yang memuat berita tentang dirinya dengan Nadin, lalu meminta putus. Iya, meski Ira bukan wanita sempurna seperti yang ia idamkan selama ini tetapi dialah satu-satunya wanita yang mampu memberikannya warna dan mengobati luka akan sakitnya hati kerena perselingkuhan. Semalam dia juga sudah berusaha menghubungi nomer telepon genggam milik Ira, sayangnya nomor kekasihnya tersebut tidak dapat dihubungi.
"Sebenarnya siapa sih pembuat berita hoax itu? Apa itu dari pihak production house yang membiayai film terbaru Nadin? Mereka sengaja menggunakan momen itu sebagai strategi marketing mereka?" batin Arvin. Selama di dalam pesawat, Arvin terus memikirkan siapa gerangan orang yang dengan sengaja memunculkan berita tersebut.
"Kejadian aku menolong Nadin sudah berlalu hampir dua bulan, tapi kenapa baru muncul sekarang? Sepertinya memang benar ini bagian dari merketing lounching film terbaru Nadin." Kembali Arvin membatin.
Arvin kejadian dua bulan yang lalu saat dirinya dan Vano selesai meeting di sebuah restoran. Dia ingat, ketika hendak meninggalkan restoran, tanpa sengaja dia dan Vano melihat Nadin sedang bertengkar dengan seorang laki-laki. Awalnya Arvin tidak mau ikut mencampuri urusan mantan kekasihnya tersebut, namun saat melihat laki-laki yang bertengkar dengan Nadin itu mulai berbuat kasar dan mulai menyentuh tubuh wanita itu, Arvin tidak bisa tinggal diam. Apalagi, Nadin terlihat tidak nyaman dan ketakutan. Bukan karena dia masih menyimpan rasa terhadap mantannya tersebut, tetapi lebih kepada rasa kemanusiaan, apalagi dia memiliki adik perempuan. Jika seseorang berbuat kurang ajar dengan adik perempuannya, Arvin pasti tidak akan bisa menerimanya. Dia pasti akan menghajar pria brengsek itu dan akan menyalahkan orang-orang yang berada di sekitar adiknya, jika tidak ada yang mau menolong.
"Foto yang ada di artikel itu jelas bukan foto yang diambil dari cctv, itu seperti foto yang sengaja diambil dari sebuah kamera yang sengaja diarahkan ke kami. Kalau diingat-ingat waktu itu hanya ada aku, Nadin, dan pria yang berbuat kurang ajar terhadap Nadin karena waktu itu Vano sudah pergi." Arvin mencoba mengingat kembali kejadian di hari tersebut. "Tunggu! Aku ingat ada satu orang lagi yang ada di restoran tersebut. Sepertinya aku pernah melihat orang itu, tapi dimana?" kembali Arvin berpikir. Rasanya belum puas jika dia belum mendapatkan jawaban siapa pelaku yang membuat artikel hoax tersebut.
Setelah kurang lebih satu jam sepuluh menit, akhirnya pesawat yang Arvin tumpangi tiba di Bandara Adisutjipto, darisana Arvin langsung menuju ke kosan tempat Ira tinggal.
Arvin ke tempat kosan kekasihnya menggunakan taksi online. Ia langsung turun ketika tiba di salah satu kosan yang ada di sekitar sebuah kampus ternama di kota gudeg tersebut. Kosan tempat Ira tinggal adalah kosan khusus wanita, jadi untuk menemui kekasihnya tersebut Arvin harus meminta izin kepada pemilik kosan. Tanpa perlu membuat banyak alasan sang pemilik kosan langsung memberikan izin Arvin untuk menemui Ira di kamarnya apalagi ini bukan pertama kalinya Arvin datang ke tempat tersebut.
Tok tok tok.
Arvin mengetuk salah satu pintu kosan. Setrlah beberapa kali ketukan barulah pintu yang ada di depannya terbuka. Tidak ada suara yang mengiringi saat pemilik kamar tersebut membuka pintu. Hanya sebuah tatapan tajam yang menyambut kedatangan Arvin di sana.
Iya, tanpa harus bertanya Arvin tahu kalau saat ini sang kekasih sedang marah kepadanya. Ia yakin kalau Ira pasti sudah membaca artikel yang memuat tentang beritanya.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Ira, wanita itu hanya berjalan mendekat kearah Arvin dengan memberikan tatapan tajam yang seolah ingin menerkamnya.
Gleg. Arvin menelan ludahnya dengan bersusah payah. Bukan karena dia salah, tetapi Arvin takut jika kekasih hatinya tersebut sudah termakan berita yang tertulis di artikel.
"Aku tahu kamu pasti sudah membaca artikel itu, tapi aku mohon percayalah, apa yang tertukis disana tidaklah benar."
Mulut Ira masih terkunci rapat dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Arvin. Dia menatap Arvin dari atas hingga bawah seperti sedang meneliti sesuatu.
"Mata Pak Arvin ada lingkaran hitamnya, apa Pak Arvin kurang tidur?"
What? Jadi Ira memberikan tajam itu karena melihat lingkaran hitam di matanya.
🌺🌺🌺
Gais, anu... e... ayo dong kasih semangatbotor dengan like, komen, kasih gift, dan vote sebanyak-banyaknya.
#Otor_ngelunjak