Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Film di laptop



Drama tentang kesalahpahaman Ira akhirnya bisa terlewati dengan baik. Arvin yang merupakan korban kesalahpahaman tersebut justru harus mengeluarkan uang seratus ribu rupiah sebagai ganti uang transport kepada Bapak penjaga villa yang wajahnya mirip suami dari penyanyi dangdut yang memiliki bisnis karaoke di seluruh Indonesia. Sayangnya, nasib Bapak penjaga villa tidak semujur suami artis itu. Pernah Pak penjaga villa ikut-ikutan berinvestasi, namun nyatanya dia malah menjadi korban penipuan investasi bodong yang saat ini sedang marak terjadi dan untungnya dia hanya ikut berinvestasi lima puluh ribu rupiah. Dan uang tersebut adalah uang jatah makan siangnya selama seminggu.


Setelah mengantarkan Bapak penjaga villa sampai ke depan pintu, Ira kembali lagi ke ruang kerja bosnya. Gadis berambut panjang yang sering menguncir rambutnya tersebut berdiri di depan Arvin sambil menundukan kepalanya.


"Kenapa kamu menunduk? Takut aku marahin?" tanya Arvin kepada asisten cerobohnya itu.


Ira menggeleng.


"Terus?"


"Aku takut Bapak meminta ganti rugi karena aku sudah membuat Bapak mengeluarkan uang seratus ribu buat Bapak tadi," jawab Ira.


"Untung kamu ingetin aku soal itu. Baiklah, aku akan catat uang barusan sebagai hutangmu," ucap Arvin.


"Yah, Pak. Masa Pak Arvin tega sih minta ganti rugi sama pegawai kecil seperti aku," keluh Ira.


"Baiklah, lupakan saja kejadian barusan. Sekarang kamu buat kontrak itu. Ini contoh surat kontraknya dan ini jenis kerjasama yang perusahaanku dan perusahaan Pak Tama sepakati. Kamu pelajari itu dengan baik, baru setelah itu kamu buat surat kontraknya. Pastikan semuanya seperti contoh!" Arvin menunjukkan layar laptopnya kepada Ira.


"Kamu bisa membuatnya di sini. Ingat, jangan sampai salah!" kembali Arvin mengingatkan asistennya itu. Dia tidak mau Ira membuat kesalahan saat membuatnya.


Ira mendekat ke meja Arvin dan melihat kearah layar laptop yang bosnya itu tunjukan.


"Pak, Bapak nggak salah aku harus mempelajari ini?" tanya Ira setelah melihat layar laptop milik bosnya itu.


"Tidaklah, memang kena.... " Arvin tidak melanjutkan perkataannya ketika sadar ternyata yang dia buka bukan dokumen pekerjaan melainkan koleksi film yang sering dia tonton sebagai pengobat stres kala dia sedang pusing menghadapi pekerjaan. Arvin segera menutup layar laptopnya.


"Barusan itu film kan, Pak?" tanya Ira.


"Bukan. Kamu salah lihat," elak Arvin.


"Benarkah?" Ira memicingkan matanya menatap bosnya itu.


"Tentu saja benar. Memangnya apa yang kamu lihat?"


"Hei jangan sembarangan ya, aku nggak suka nonton film begituan."


"Nggak suka bukan berarti gak pernah nonton kan, Pak?"


"Masa sih itu film mesum? Perasaan aku tidak meminta Vano mengirim film seperti itu." Arvin berbicara dalam dalam hati.


Ira yang penasaran berusaha mengintip layar laptop milik bosnya itu.


"Hei, lagi ngapain kamu?" tanya Arvin yang berusaha untuk menahan layar laptopnya itu agar Ira tidak bisa melihatnya.


"Aku semakin curiga, kalau Bapak bener-bener seneng nonton film begituan. Ngaku aja deh, Pak!"


"Jangan ngomong sembarangan ya!"


"Terus kenapa Pak Arvin nggak ngizinin aku buat lihat itu?" Ira menunjuk laptop yang berusaha ditutupi oleh Arvin.


"E... itu apa namanya, aku baru ingat kalau contoh surat itu sudah aku hapus dari laptop," jawab Arvin.


"Benarkah?"


"Tentu saja. Sudah sana, kamu bisa pergi dari sini. Urusan surat kontrak itu nanti akan aku buat sendiri!" Arvin terpaksa harus menyuruh asistennya itu untuk pergi. Dia ingin memastikan kalau film yang Vano kirim bukan film mesum seperti yang dikatakan oleh Ira.


"Baiklah. Aku pamit ya, Pak," ucap Ira. Dia melangkah keluar dari ruang kerja bosnya.


Arvin bernapas lega saat melihat Ira sudah keluar dari ruangan tersebut. Arvin segera membuka layar laptopnya untuk meyakinkan diri bahwa bukan film mesum yang dikirim Vano untuk dirinya.


"Wah, Pak Arvin. Ternyata Pak Arvin nonton film seperti itu?"


Suara Ira dari arah pintu membuat mata Arvin membulat.