
Tok-tok-tok!
Seorang berpakaian seragam keamanan datang. Dia sedikit membungkukkan badan sebagai bentuk hormat kepada Sang Tuan Rumah, Dion.
"Ada apa?" tanya Dion kepada orang itu.
"Maaf, Tuan. Di luar ada Den Arga, ingin bertemu dengan.Anda," jawab orang itu memberitahu.
"Suruh saja dia masuk," ucap Dion.
"Baik, Tuan." Security itu pun kembali membungkukkan badannya dan meninggalkan tempat tersebut.
Tidak lama kemudian pemuda berkulit putih berwajah tampan, yang dulu hampir menjadi pasangan Qilla itu berdiri di depan Dion dan Mikha.
"Maaf, Om, Tante. Kalau kedatangan saya mengganggu. Saya kesini cuma ingin mengkonfirmasi tentang slentingan berita yang beberapa saat yang lalu yang baru saya dengar."
"Konfirmasi tentang apa? Katakan saja!" tanya Dion.
"Saya dengar kalau... kalau Qilla diculik, apa itu benar, Om?" tanya Arga dengan raut wajah cemas. Meski dia tidak jadi bertunangan dengan Ira karena ternyata Ira lebih mencintai orang lain, tetapi Arga tetap mengkhawatirkan gadis itu.
"Benar, Ga. Dan sampai sekarang, kami belum tahu siapa penculiknya," sesal Dion.
"Tapi, Om, kenapa Qilla diculik? Apa ini ada hubungannya dengan saingan bisnis Om atau yang lainnya?"
"Entahlah, saya juga belum ada gambaran," jawab Dion. "Si Arvin juga belum memberikan kabar apa pun lagi setelah memberitahu kalau Qilla diculik. Dia dan asistennya sedang mencari keberadaan penculik itu," tambah Dion. Dia menarik napas panjang kemudian menghembusknnya.
"Om, bolehkah saya ikut mencari keberadaan Qilla sekarang?" tanya Arga dengan hati-hati. Pemuda itu takut jika Dion akan tersinggung. "Tapi, kalau Om tidak mengizinkan, tidak apa-apa, saya tidak akan memaksa," tambah Arga.
"Tentu saja boleh, Arga. Semakin banyak orang yang mencari keberadaan Qilla maka akan semakin besar kemungkinan Qilla cepat ditemukan," jawab Dion.
"Iya, Ga. Terima kasih untuk bantuannya," ujar Dion.
Arga mulai melangkah untuk meninggalkan tempat terssbut. Namun, dia menghentikan langkahnya saat mendengar Mikha mengatakan sesuatu kepada suaminya.
"Mas, bukankah di kalung putri kita ada chips untuk mendeteksi keberadaannya. Kenapa kita pakai itu untuk mencari keberadaan dia sekarang." Mikha tiba-tiba ingat dengan kalung permata biru yang mereka berikan kepada Qilla di ulang tahun yang ke 15 tahun. Kalung dengan desain khusus yang sengaja mereka pasangkan chips berukuran sangat kecil di permata itu.
"Kamu benar. Tapi, apa putri kita sedang memakai kalung itu sekarang?" tanya Dion.
"Aku juga tidak tahu, Mas. Tapi, biasanya, Qilla selalu memakai kalung itu. Mudah-mudahan kali ini pun ia memakai kalung tersebut," jawab Mikha.
Dion segera menyuruh anak buahnya untuk memeriksanya. Jika memang Qilla sedang memakai kalung itu, kali ini mereka pasti akan segera tahu keberadaannya sekarang.
"Berhasil Tuan, kita berhasil menemukan titik kalaung itu berada," ujar anak buah Dion.
"Dimana?" tanya Dion.
"Titik itu berada 20km dari sini."
"Kamu yakin?" tanya Dion memastikan.
"Yakin, Tuan," jawab orang itu.
"Baiklah, kirim lokasi itu ke hp saya. Saya juga akan memberikannya kepada Arvin, agar dia juga bisa langsung menyusul ke sana!" titah Dion.
"Baik." Orang tersebut segara mengirimkan titik lokasi yang diduga sebagai tempat Qilla disekap dan titik itu segera diteruskan ke nomor Arvin.