Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Mau



Malam memang belum terlalu larut, tetapi setelah makan dan minum obat, Queen langsung tidur. Sayangnya seperti malam sebelumnya kali ini pun Queen masih belum bisa tidur dengan nyenyak. Bayang-bayang kejadian di hari itu masih membuatnya trauma.


Queen tiba-tiba terbangun, napasnya terengah seperti habis lari maraton, keringat dingin juga membasahi sekujur tubuhnya. Dia mengusap tubuhnya menggunakan kedua tangan seolah ingin membersihkan dirinya dari noda yang menempel di sana. Saat itulah samar-samar dia mendengar namanya disebut.


Queen bangun dari tempat tidurnya, dia menempelkan telinga di daun pintu untuk memdengarkan hal yang sedang dibicarakan oleh kedua orang tuanya dengan Vano.


"Kamu serius mau menikahi Queen?" tanya Alvin kepada pemuda yang duduk di hadapannya.


"Iya, Om, saya sangat serius," jawab Vano.


"Nak Vano, kami tahu kamu mencintai Queen. Tapi, jika niatmu ingin menikahi Queen hanya karena iba, lebih baik kamu lupakan keinginanmu itu," tutur Nayla.


"Tidak, Tante. Saya benar-benar mencintai Queen, saya ingin membahagiakannya, dan bisa menjaganya seumut hidup," jawab Vano. "Saya juga sudah jelaskan ini kepada Arvin tadi," tambahnya.


"Nak Vano, bukannya kami ingin menolak lamaranmu, tapi... semua ini harus kami tanyakan kepada Queen karena dialah yang akan menjalani ini nantinya. Kami tidak mau memaksanya," jelas Nayla.


"Saya mengerti, Tante. Saya pun tidak ingin Queen menikah dengan saya karena keterpaksaan. Jadi, apa pun jawaban yang ia berikan nantinya saya akan menerimanya," ucap Vano.


"Dan aku menolak lamaranmu, Kak." Queen tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.


"Sayang, duduk sini dulu!" suruh Nayla. "Kita bicarakan ini baik-baik."


"Tidak, Bunda. Aku tidak ingin menikah dengan siapa pun, aku tidak ingin dikasihani," tolak Queen.


"Queen, aku ingin menikahimu bukan karena aku kasihan kepadamu, tapi karena memang aku mencintaimu," ucap Vano. Dia kemudian bangun dari posisinya dan berdiri tepat di depan Queen.


"Kak.... "


"Queen, aku mencintaimu dan aku ingin selamanya berada di sisimu, menjagamu, dan membahagiakanmu," sela Vano.


"Tapi... aku merasa kotor, Kak. Aku merasa tidak pantas untukmu."


"Dengarkan aku, Queen!" Vano membingkai wajah Queen menggunakan kedua telapak tangannya.


"Apa pun yang terjadi padamu di hari itu, aku tidak peduli. Bagiku kamu tetaplah Queen yang sama yang selalu membuat jantungku berdegup dengan kencang, yang senyumnya mampu memporak-porandakan seluruh duniaku. Sampai kapan pun aku akan selalu mencintaimu Queen. Jadi, aku mohon jangan tolak lamaranku!" pinta Vano dengan sungguh.


"Apa Kak Vano masih akan tetap menganggapku sama seandainya aku sudah tidak suci lagi? Hm?"


Vano mengangguk. "Bagiku kamu tetaplah Queen yang aku cintai dari dulu sampai detik ini," jawabnya.


Queen memeluk Vano sambil menangis. Dia tidak pernah menyangka jika cinta Vano terhadapnya begitu besar.


"Kamu maukan menikah denganku?" tanya Vano lagi.


Queen mengeratkan pelukannya kemudian mengangguk. "Iya, Kak. Aku mau menikah denganmu."


Tidak hanya Vano yang bahagia mendengar jawaban dari Queen, kedua orang tua Queen dan Arvin juga ikut bahagia mendengarnya. Mereka berharap trauma Queen akan menghilang sedikit demi sedikit setelah bersama Vano nantinya.