
Hoek... hoek....
Arvin memuntahkan semua isi yang ada di dalam perutnya. Perutnya seperti diaduk-aduk dan diatas kepalanya seperti ada banyak kupu-kupu yang beterbangan. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya dan tentu saja hal itu membuat Ira cemas.
Ira menyuruh kekasihnya tersebut untuk duduk. Dia segera membeli teh hangat dan diberikannya kepada Sang Kekasih.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ira cemas. "Kenapa tidak bilang kalau kamu mabuk?"
"Kamu begitu menikmati semua permainan itu, mana tega aku bilang kalau aku mau muntah," jawab Arvin.
"Minum ini dulu!" Ira membantu Arvin untuk meminum teh hangat di tangannya. "Sekarang bagaimana? Sudah baikkan?" tanyanya.
"Lumayan," jawab Arvin.
"Ya sudah sekarang kita pulang saja, aku tidak mau kamu sakit gara-gara menuruti keinginanku," tutur Ira.
"Katanya kamu mau jajan dulu. Aku sudah mengiyakan keinginanmu untuk menemanimu bermain tiga permainan, sekarang tinggal jajannya. Aku sudah menjanjikan itu dan pasti akan aku tepati. Kita pulang setelah kamu membeli jajanan yang kamu mau." Arvin bukan tipe orang yang selalu mengingkari janji. Dia akan selalu berusaha menepati segala hal yang sudah diucapkannya.
"Tapi... kamu kan sedang tidak enak badan, kita pulang saja, yuk!" paksa Ira. Ia tak mau melihat Sang Calon Suami kesusahan karena dirinya.
Arvin meraih tangan Ira. "Aku sudah tidak apa-apa. Sekarang kita beli jajanan yang kamu mau," ucap Arvin.
"Tapi.... "
"Ayo kita jalan lagi!" ajak Arvin sambil bangun dari tempat duduknya. Ira tersenyum kemudian memeluk lengan calon suaminya itu. Keduanya berjalan mencari jajanan yang diinginkan oleh Ira.
"Yakin kamu mau beli itu?" tanya Arvin saat Sang Kekasih menunjuk anak kecil yang sedang memakan harum manis dan berondong.
"Yakin," jawab Ira.
"Jajanan anak kecil? Memangnya kamu nggak malu?" sela Ira yang seolah sudah hapal dengan hal yang akan dikatakan oleh calon suaminya tersebut. "Sayang, kamu udah janji lho mau beliin jajanan yang aku mau. Masa aku mau itu aja kamu nggak mau beliin." Ira berpura-pura memasang wajah cemberutnya.
"Iya, baiklah aku beliin," jawab Arvin.
"Kok kayak nggak ikhlas gitu sih jawabnya?" protes Ira. "Kalau emang gak ikhlas gak usah deh, biar kapan-kapan aku minta sama Arga saja buat beliin., aku yakin kalau aku minta sama dia jangankan cuma minta 1 harum manis dan berondong, seluruh harum manis dan berondonh yang dijual di pasar malam ini pun pasti bakalan dia beli untukku," lanjut Ira sambil melirik kekasihnya.
"Aku ikhlas kok Sayang, beneran deh, ikhlas banget," ucap Arvin. "Ya udah kamu cari tempat duduk yang nyaman dulu. Aku akan belikan harum manis dan berondong yang kamu mau."
Ira tersenyum senang karena akhirnya Arvin mau melakukan hal yang ia minta. Sambil menunggu Arvin, Ira memilih memainkan hpnya sambil memotret segala hal yang ada di sana.
Lima menit, sepuluh menit, setengah jam, bahkan hingga satu jam Arvin belum juga kembali dan hal tersebut tentu saja membuat Ira khawatir.
"Kenapa cuma beli harum manis dan beronding saja lama sih?" batin Ira. Rasanya kakinya sudah pegal karena kelamaan beridiri. "Jangan-jangan Pak Arvin kesasar lagi."
Takut Sang kekasih benar-benar kesasar di pasar malam, Ira segera menelpon nomor kekasihnya tersebut. Sayangnya hanya jawaban dari operator yang ia dengar.
"Aduh Pak Arvin kemana sih?" gumam Ira cemas. "Apa dia muntah lagi? Tapi, masa beli harum manis muntah sih, kan nggak mungkin." Ira terus menebak hal apa yang terjadi dengan sang calon suami.
Ira merasa heran ketika banyak orang yang menatap ke arahnya.
"Kenapa mereka natap aku? Apa aku melakukan sesuatu?" batin Ira bingung. Dia baru sadar bahwa ternyata orang-orang itu tidak sedang menatapnya ketika ia mendengar seorang anak kecil yang sedang mengatakan sesuatu kepada ibunya.
"Ma, apa yang sedang dilakukan oleh Om itu?" tanya anak kecil itu sambil menunjuk ke belakang Ira.
Ira mengikuti arah yang ditunjuk oleh anak tersebut. Dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat hal yang dilakukan oleh calon suaminya. Berkali-kali Ira mengedipkan mata berharap, jika yang ia lihat adalah salah.
"Pak Arvin, apa maksudnya ini?" tanya Ira bingung.