
Berita tentang rencana pernikahan Arvin dan Ira tersebar luas hingga ke penjuru kota. Tidak sedikit orang yang ikut mendoakan agar persiapan pernikahan keduanya lancar hingga hari yang sudah ditetapkan. Namun, tidak demikian dengan seseorang yang satu ini. Dia melempar vas bunga ke televisi dimana sedang dikupas secara tuntas segala persiapan pesta pernikahan Akbar antara Keluarga Sebastian dan Keluarga Narendra.
"Tidak akan aku biarkan rencana pernikahan itu berhasil, lihat saja. Aku akan membuat segala hal yang sudah kalian susun itu gagal!" Orang itu mencengkeram gelas di tangannya dengang kuat hingga membuat gelas itu pecah dan mengakibatkan telapak tangannya terluka.
"Anda tidak apa-apa?" tanya pelayan yang sejak tadi berdiri tidak jauh darinya.
Orang itu hanya mengibaskan tangan dan menyuruh pelayan itu untuk meninggalkannya.
***
"Pak Arvin!" teriak Ira dari ujung telepon, Arvin sedikit menjauhkan telinga dari telepon tersebut.
"Ada apa Ira?" tanya Arvin dengan lembut.
"Aku bosan, sampai kapan aku harus berdiam diri di rumah?" tanya Ira dengan nada kesal.
Menjelang hari pernikahan Ira tidak diizinkan keluar dari rumah. Dia diharuskan tetap di dalam rumah karena hal tersebut sudah merupakan tradisi. Akan tetapi bagi seorang Ira, berdiam diri di dalam rumah bukanlah hal yang ia senangi. Ira yang terbiasa bermain dengan teman, bekerja, dan bertemu dengan beberapa disaat koas, membuatnya merasa sedikit tersiksa.
"Sayang, setelah menikah kamu baru boleh keluar dari rumah, bersabarlah!" bujuk Arvin.
"Kalau begitu kenapa kita tidak menikah sekarang saja sih, Pak? Kalau kita cepat menikah, aku bisa cepat keluar dari rumah," jawab Ira.
"Ra, memangnya kita sedang main rumah-rumahan seperti anak kecil yang kalau kita menikah tinggal mengucapkan ijab qabul terus selesai? Enggak, kan? Keluarga kita adalah keluarga besar, keluarga kita dikenal banyak orang, ada banyak kolega, teman sejawat, dan bahkan karyawan kita yang harus kita undang. Memang kamu mau, kita hanya menikah di KUA tanpa pesta dan tanpa mengundang banyak orang?"
"Tidak mau sih, tapi aku bosan."
"Kalau kamu bosan, coba kamu main game online, baca buku, atau kerjakan apa pun untuk membunuh rasa bosanmu tersebut."
Arvin tertawa, dia paham betul bagaimana ketakutan para penghuni rumah. Jangankan mengetahui nama bumbu atau bahan makanan lainnya, membedakan antara gula dan garam saja masih kesulitan.
"Ih, Pak Arvin kok ketawa sih?" Dari suaranya Arvin tahu kalau kekasihnya tersebut sedang merajuk.
"Iya-iya aku gak tertawa lagi," jawab Arvin. "Jika kamu bosan kenapa kamu tidak menyuruh teman-temanmu untuk datang ke rumah? Suruh saja mereka main ke rumahmu!" Arvin mengungkapkan idenya.
"Boleh aku menyuruh Qeen datang ke rumah juga?"
"Kenapa harus Queen?"
"Adikmu itu selalu punya cerita yang lucu dan nggak ngebosenin." Ira menjawab pertanyaan dari calon suaminya itu dengan jujur.
"Ya sudah nanti pulang sekolah, aku suruh Queen ke rumahmu."
"Makasih Sayang. Aku makin cinta deh sama kamu," ucap Ira.
Sekalo lagi Arvin tertawa.
"Aku tutup teleponnya sekarang ya? Jangan lupa suruh Queen datang ke rumah. Bye Sayang. Emuach." Ira langsung menutup teleponnya.
"Dasar, Ira!" Arvin menggeleng sambil menatap ponsel di tangannya. Namun, beberapa detik kemudian dia sadar akan sesuatu.
NB: Beberapa bab lagi cerita ini akan menuju ending, terima kasih buat pembaca yang masih setia mengikuti. Meski jarang up date.