Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Pacar pengertian??



Pagi kembali tiba, sang mentari sudah kembali menampakkan sinarnya. Semua orang sudah memulai aktivitas mereka kembali, pun yang dilakukan oleh Ira dan Arvin. Setelah kedunya ikut mengantarkan Queen kembali ke rombangan, mereka akhirnya kembali ke aktivitas biasanya. Dan Vano, laki-laki itu langsung kembali ke Jakarta setelah ikut mengantarkan Queen.


"Pak, kita-kita jalan-jalan yuk! Mumpung kita udah ada di luar villa!" ajak Ira ketika mereka dalam perjalanan menuju kembali ke villa.


"Memang mau jalan-jalan ke mana?"


"Kemana aja, Pak."


"Bener nih kemana saja?" tanya Arvin lagi.


"Iya kemana aja yang penting tidak kembali ke villa," jawab Ira.


"Kalau begitu baiklah kalau begitu, kita keluar sebentar."


"Yey, akhirnya bisa-bisa jalan-jalan lagi!" Ira berteriak kegirangan.


Ira begitu senang karena setidaknya hari ini dia bisa lepas dari pekerjaan menjadi asisten dari pacarnya itu. Terkadang Ira menjadi kesal saat harus berperan sebagai asisten dari Arvin, pria itu akan mengeluhkan banyak hal tentang pekerjaan yang dia lakukan.


"Pak kenapa kita ke sini?" tanya Ira ketika mobil yang dikendarai pacarnya tersebut masuk ke halaman parkir perpustakaan kota.


"Kamu bilang terserahkan kita mau kemana, jadi tempat inilah yang cocok untuk kita kunjungi saat ini," jawab Arvin.


"Tapi, Pak.... "


"Ujian masuk universitas bukankah sebentar lagi, jadi daripada kita ke tempat yang gak ada manfaatnya buat kamu, mending kita ke sini. Kamu bisa sekalian belajar di sini," jawab Arvin panjang lebar.


Ira hanya bisa mengesah pasrah, padahal dia berharap hari ini selain bisa libur dari pekerjaan , dia juga bisa bersenang-senang dengan sang pacar.


"Ayo turun!" ajak Arvin lagi.


Arvin dan Ira segera turun dari mobil yang mereka tumpangi, setelah itu keduanya berjalan masuk ke perpustakaan tersebut.


"Duduklah di sini, biar aku yang carikan bacaan yang cocok buat kamu." Arvin sedikit memundurkan kursi yang ada dihadapannya dan menyuruh Ira untuk duduk di kursi tersebut.


"Ku kira kita akan menghabiskan waktu berdua di tempat yang romantis kayak di drama-drama yang sering aku lihat, tapi ternyata kita malah menghabiskan waktu di tempat seperti. Gini nih kalau punya pacar yang nggak pekaan dan nggak romantis," keluh Ira dalam hati. Dengan perasaan dongkol, Ira duduk di kursi yang Arvin sediakan.


"Kamu bicara ngomong sesuatu tentang aku?" pertanyaan Arvin sontak membuat Ira sedikit gelagapan, dia tidak menyaka jika kekasihnya itu akan merasakan kalau dirinya sedang membicarkan hal jelek tentangnya meskipun hal itu Ira utarakan dalam hati.


"E... enggak kok, Pak. Bukankah sejak tadi aku diam saja," elak.Ira.


"Aneh, kenapa aku merasa tengkukku sedikit merinding ya. Mungkin ada hantu atau mahluk lain yang sedang membicarakan aku." Arvin menyentuh tengkuknya sendiri. "Kamu duduk di sini dulu ya, aku carikan buku yang cocok yang bisa jadi referensi kamu untuk belajar!"


Arvin meninggalkan Ira di tempat duduk tersebut. Setelah lima belas menit, Arvin kembali ke tempat duduk kekasihnya itu.


"Ini aku sudah pilihkan bacaan yang cocok untuk kamu. Aku yakin jika kamu bisa mempelajari ini semua dengan baik, kamu pasti akan lolos ujian nanti," ucap Arvin sambil meletakkan beberapa buku di hadapan Ira.


"Pak serius aku harus baca semua ini?"


"Serius. Semua buku yang aku bawa ini ada hubungannya tentang kesehatan. Bukankah kamu bilang ingin masuk fakultas kedokteran, jadi bacaan inilah yang cocok untuk kamu baca," jawab Arvin.


"Pak.... "


"Tidak usah berterima kasih, aku tahu kamu pasti terharu karena memilki pacar yang pengertian dan tahu apa yang kamu butuhkan saat ini," Arvin memuji dirinya sendiri.


Ira memperhatiak semua buku bawaan kekasinya, bagaimana bisa Arvin mengatakan kalau dia hanya membawa beberapa buku. Padahal ada lebih dari sepuluh buku yang Arvin letakkan di hadapannya.


"Tidaaaaaakkkkk!"