Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Salah sangka



Setelah mendengar ceramah Dion yang panjang kali lebar, Arvin segera pulang ke rumahnya. Dari pembicaraan antara dia dan calon mertuanya tersebut akhirnya diputuskan jika pernikahan mereka harus segera dipercepat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Arvin memang menginginkan pernikahannya dan Ira segera dipercepat karena memang segala hal yang menyangkut wanitanya itu selalu membuat dia tidak tahan. Tetapi, bukan begini caranya. Gara-gara Ira tidak bisa menjaga ucapannya, dia dinilai negatif oleh calon mertuanya tersebut. Padahal sejak mereka bertunangan, mereka tidak lagi melakukan hal seperti yang Ira katakan barusan.


Iya, sudah tiga tahun sejak mereka resmi bertunangan, Arvin berusaha untuk menahan diri agar tidak lagi melakukan itu. Bukan karena bibir Ira tidak menarik lagi bagi Arvin, bukan. Bibir itu selalu menarik baginya dan selalu membangkitkan hasrat kelaki-lakiannya. Namun, komitmen Arvin untuk tidak melakukan hal-hal diluar batas, membuatnya selalu manahan diri saat keinginan untuk mencecap manisnya bibir itu datang. Arvin tidak mau gara-gara kenikmatan sesaat membuat Ira harus kehilangan masa depan karena hamil diluar nikah. Dia ingin agar jika kelak saat mereka memiliki anak, anak mereka lahir dalam ikatan suci bernama pernikahan.


"Kenapa pulang-pulang mukanya kok ditekuk gitu? Bukannya kamu habis nganterin Ira?" tanya Nayla ketika melihat wajah putranya masam. "Harusnya happy dong."


Arvin hanya melirik bundanya sebentar kemudian menghela napas panjang.


"Ada apa? Cerita sama bunda!" Nayla duduk di sebelah Arvin.


"Om Dion, nyuruh kita secepatnya ngelamar Ira. Beliau ingin pernikahan kami digelar secepatnya."


"Alhamdullilah. Akhirnya calon mertuamu itu bisa berubah pikiran juga. Bunda bahagia kamu akan segera menikah. Apalagi umurmu juga sudah cukup untuk itu." Nayla bahagia mendengar jawaban dari putranya tersebut.


"Tunggu! Kenapa tiba-tiba calon mertuamu itu menyuruh kalian untuk secepatnya menikah? Apa jangan-jangan kalian melakukan hal diluar batas dan sekarang ini Ira sedang hamil anakmu?" Nayla menatap putranya penuh kecurigaan. "Astaghfirullah hal adzim, Arvin. Kamu tega sekali mempermalukan ayah dan bundamu. Ayah dan Bunda nggak pernah ngajarin kamu untuk melakukan hal-hal diluar batas. Kenapa kamu melakukan itu, Nak?"


Perkataan Nayla membuat seisi rumah keluar dari kamar mereka.


"Ada apa, Nay?"


"Ada apa sih, Bunda? Kenapa Bunda teriak?"


tanya Alvin dan Queen secara bersamaan. Mereka terkejut saat mendengar teriakan Nayla. Demikian juga Vano, dia yang kebetulan berada di kamar tamu juga ikut keluar dari kamarnya untuk mebyaksikan ada keributan apa.


"Ya, Allah, Mas, anakmu. Dia sudah mempermalukan kita," jawab Nayla sambil menangis.


"Mempermalukan apa, Sayang?" tanya Alvin kepada sang istri.


"Bunda, memangnya Kak Arvin melakukan apa sampai membuat kalian malu?" Queen yang bingung ikut bertanya.


"Dia sudah menghamili anak orang, Mas."


Tidak hanya Alvin yang terkejut mendengar jawaban dari Nayla, Queen dan Vano pun ikut terkejut mendengarnya. Queen bahkan sampai menutup mulut menggunakan telapak tangannya.


"Astaghfirullah, Arvin! Tega sekali kamu mempermalukan keluarga kita? Kenapa kamu bisa bertindak diluar batas. Harusnya kamu jaga calon istrimu baik-baik, bukan malah merusaknya!" omel Alvin.


"Kak, apa itu benar? Siapa wanita yang sudah Kakak hamili? Kakak tega sekali. Bagaimana jika itu terjadi padaku? Kakak pasti juga nggak akan bisa menerimanya kan?" Queen ikut berbicara.


"Kalau Vano berani kurang ajar sama kamu, aku pasti akan patahkan kedua tangan dan kakinya," jawab Arvin sambil menatap Vano.


"Ih, Kak Arvin apaan sih? Apa hubungannya sama Kak Vano? Yang sedang kita bicarakan ini Kakak." Protes Queen.


"Kenapa jadi gue? Kan kita lagi membicarakan lo, Vin," sahut Vano.


"Gue bicara serius. Kalau ada yang berani nyentuh adik gue, gue pastikan dia nggak akan selamat."


Nayla mencubit tangan putranya.


"Aw, sakit Bund," ringis Arvin.


"Makanya jangan ngomong sembarangan tentang adikmu dan Vano!" tegur Nayla.


"Kan Arvin bener, Bund. Kalau tuh kutu kupret berani macem-macem sama si Queen kudu Arvin hajar lah."


Kembali Nayla mencubit tangan putranya.


"Makanya kalau ngomong itu dijaga. Kita itu sedang membicarakan kamu. Kenapa jadi ngebahas Queen dan Vano."


"Kenapa enggak? Bukannya mereka berdua itu saling mencintai. Cuma mereka berdua masih gengsi aja buat ngungkapinnya," jawab Arvin.


Nayla dan Alvin menatap Vano dan Queen bergantian.


"Bener itu?" tanya Nayla.


Vano dan Queen yang tidak siap menjadi tersangka dihadapan Alvin dan Nayla terlihat gelagapan dan salah tingkah. Keduanya tidak pernah berpikir akan mendapatkan pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba.


"Queen.... " Queen bingun harus memberikan jawaban seperti apa kepada kedua orang tuanya.


"Ayo jawab!" suruh Nayla.


"Maaf, Om, Tante. Queen tidak salah. Aku yang telah lancang karena berani mencintai dia," jawab Vano.


Queen yang tidak mengira jika Vano akan mengakui perasaannya di depan kedua orang tuanya itu pun menatap pria itu seksama. Dia terpesona dengan tindakan Vano yang berani dengan jujur perasaannya.


"Kak Vano cinta sama aku? Sejak kapan? Kenapa aku enggak tahu?" tanya Queen sambil menatap sahabat dari kakaknya tersebut.


"Dia itu sudah naksir sama kamu sejak kamu SMP. Dianya aja yang nggak punya nyali buat deketin kamu secara terang-terangan." Justru Arvin yang memberikan jawaban dari pertanyaan adiknya.


"Apa benar itu, Kak?" kembali Queen bertanya kepada Vano.


Vano mengangguk. "Itu benar. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai mencintaimu. Tapi, aku baru menyadarinya saat kamu duduk di bangku SMP," jelas Vano.


"Kenapa Kakak nggak bilang dari dulu? Pasti hati Kak Vano sakit saat aku menanyakan pendapat Kak Vano terhadap beberapa pria yang mendekati aku." Queen menatap Vano penuh penyesalan. Dia sadar pasti laki-laki itu merasakan hatinya terluka, namun tetap berusaha tersenyum di hadapannya.


"Itu nggak masalah. Asal kamu bahagia, mati pun aku rela, Queen," jawab Vano.


"Tunggu! Tunggu! Kenapa kita malah ngebahas soal perasan Vano terhadap Queen? Bukan itu yang ingin Bunda bicarakan pada kalian." Nayla mulai meluruskan kembali hal yang menjadi topik yang ingin ia bicarakan.


"Vano, Queen, soal perasaan kalian kita bahas nanti. Sekarang kita akan ngebahas soal kakakmu dulu." Alvin kemudian memberikan tatapan sinis kepada putranya.


"Apa benar yang dikatakan oleh bundamu kalau kamu sudah menghamili anak orang?"


"Ayah, bukan itu maksudnya. Tapi.... "


"Arvin, jika kamu memang salah mengaku saja. Kami memang kecewa sama perbuatan kamu. Tapi, kami akan berusaha memaklumi itu. Meski sejujurnya kami sedih karena kamu sudah tega mencoreng nama keluarga," sela Nayla.


"Bunda, tapi aku tidak pernah.... "


"Besok kita ke rumah Dion, kita minta maaf sama dia atas kelakuan anak kita. Sekalian kita bicarakan pernikahan mereka." Kembali Alvin berbicara. Sama halnya dengan Nayla, Alvin juga tidak memberikan kesempatan kepada putranya untuk menjelaskan.


"Arvin, sekarang pergilah ke kamarmu! Renungkan kesalahanmu! Besok kita sama-sama menghadap Dion!" suruh Alvin.


"Ayah aku.... "


"Queen, Vano kembali ke kamar kalian! Setelah pernikahan Arvin, kita akan bicarkan hubungan kalian ke depan!" suruh Alvin kepada Queen dan Vano. Tanpa berbicara apa pun lagi, Queen dan Vano kembali ke kamar mereka masing-masing.


"Ayo sayang kita juga kembali ke kamar, ini sudah malam!" ajak Alvin. Dia merangkul istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Baru aku mau menjelaskan, kenapa malah pada pergi?" ujar Arvin.