
"Cepat naik!" Hana terus menarik tangan Ira agar naik ke atas kapal.
"Lepaskan aku!" Ira tetap berusaha memberontak.
"Jo, Jack, bantu aku membawa cewek sialan ini naik ke atas kapal!" suruh Hana kepada anak buahnya Jo dan Jack.
Jo dan Jack segera menarik paksa Ira, kekuatan yang tak seimbang membuat Ira akhirnya pasrah dan ikut naik ke atas kapal.
"Jalan!" perintah Hana kepada nahkoda. Dia tidak akan membiarkan polisi atau siapa pun berhasil membebaskan Ira. Ira harus disingkirkan karena dialah orang yang membuatnya kehilangan Sang pujaan hati. Jika Ira tidak hadir di kehidupan Arvin, Hana yakin dia bisa membuat Arvin jatuh cinta kepadanya. Apalagi jika saingannya adalah Nadin, artis yang sekarang sudah tidak laku itu.
"Ira," panggil Arvin dari tepi pelabuhan.
"Pak Arvin, Pak Arvin tolong aku!" teriak Ira dari atas kapal yang mulai bergerak meninggalkan pelabuhan.
"Hana, kembali! Jangan bawa Ira pergi bebaskan dia!" teriak Arvin lagi. Arvin mencari sesuatu yang bisa membawanya mendekati kapal besar yang sudah berjalan menjauhi pelabuhan. Akhirnya dia berhasil meminjam speed boat dari orang yang berada di sekitar itu. Dengan kecepatan penuh, Arvin berusaha mengejar kapal yang membawa Ira pergi.
Dan akhirnya Arvin speed boat yang Arvin kendarai berhasil mendekati kapal. Namun, untuk menghalau agar Arvin tidak bisa naik ke dek kapal, bekali-kali Hana menyuruh nahkoda untuk sengaja membenturkan bodi kapal dengan speed boat sehingga membuat Arvin jatuh dari speed boat.
"Pak Arvin," teriak Ira ketika melihat Arvin jatuh dari speed boat. "Hana... Hana suruh anak buahmu untuk mengehentikan kapal ini. Kamu lihat kan, Pak Arvin jatuh. Kamu harus segera menolongnya. Hana... Hana cepat selamatkan Pak Arvin aku mohon!" pinta Ira. Dia sangat takut jika terjadi sesuatu pada calon suaminya tersebut.
"Hana, kamu bilang kalau kamu mencintai Pak Arvin, kan? Tapi, kenapa kamu tidak mau menolongnya dan membiarkannya jatuh? Pak Arvin bisa mati, Hana. Aku mohon cepat suruh orang cari dia," pinta Ira sambil menangis.
Bukannya menolong, Hana justru tertawa dengan suara yang menggelegar.
"Hahahaha, akhirnya kamu mati, Kak. Akhirnya kamu mati," teriak Hana seperti orang gila. Kadang dia menunjukan ekspresi sedih, kadang menunjukkan ekspresi puas, dan kadang dia menunjukkan ekspresi yang tidak diketahui maknanya.
"Hana, bukankah kamu bilang kalau kamu mencintai Pak Arvin? Tapi kenapa kamu tidak mau menolongnya? Kenapa Hana?"
"Aku sudah bilang padamu kan? Jika aku tidak bisa memilikinya, maka kamu pun tidak boleh memilikinya," jawab Hana. "Tapi, tetap saja ini kurang asik. Karena kamu belum aku beri pelajaran."
"Apa yang mau kamu lakukan kepadaku?" tanya Ira ketika melihat tatapan aneh dari Hana.
"Akhir-akhir ini film blue semakin diminati semua kalangan. Bagaimana kalau aku juga membuat film itu, tetapi kamu sebagai aktrisnya. Pasti akan sangat seru," ujar Hana sambil menyeringai.
"Kenapa? Takut?"
Ira menelan ludahnya. Jujur dia memang sangat takut. Apalagi tidak ada orang yang bisa menyelamatkannya dari tindakan buruk yang sedang Hana rencanakan saat ini. Apalagi, Arvin yang seharusnya datang menolongnya juga sudah terjatuh di laut dan tidak diketahui bagaimana nasibnya.
"Jo, Jack, siapkan kamera besar!" suruh Hana.
"Tapi, dimana kita bisa menemukan kamera yang besar yang sesuai dengan keinginan Anda Nona?" tanya Jo.
"Cari di lantai paling bawah kapal ini, saat memeriksa kapal tadi aku melihatnya," jawab Hana.
"Baik." Penjahat yang bernama Jo segera pergi dari sana untuk mengambil kamera yang dimaksud.
"Jack, apa kamu bersedia menjadi aktornya?" Hana bertanya kepada Jack.
Jack memperhatikan tubuh Qilla dari atas hingga bawah. "Boleh juga, apalagi tubuh wanita ini begitu mempesona," jawab Jack.
"Oke. Kalau begitu kamu bersiaplah. Begitu kamera siap. Kamu bisa langsung melakukannya," ujar Hana lagi.
"Jangan lakukan itu Hana! Aku mohon jangan! Ingatlah pesan orang tuamu tadi, mereka ingin kamu menghentikan perbuatan bodohmu ini," ucap Ira.
Untuk sesaat Hana terdiam, wajah kedua orang tuanya berputar di kepalanya. "Mama... bagaimana keadaanmu sekarang, Ma?" lirih Hana dengan raut wajah sedih. Namun, beberapa detik kemudian raut wajah itu kembali berubah bengis. Dia kembali tertawa terbahak-terbahak. "Aku tidak peduli dengan mereka karena mereka.lebih membelamu tadi," jawabnya kemudian.
"Bos ini kameranya!" Jack kembali dengan kamera di tangan.
"Jack, kamu siapkan?" tanya Hana.
"Tentu saja siap, Bos," jawab Kack.
"Jo, nyalakan kameranya!" suruh Hana kepada Jo. Jo segera menyalakan kamera yang baru saja dibawanya.
"Tidak! Jangan! Hana sadarlah! Tolong jangan!" Setiap Jack melangkah maju kearahnya, Ira terus melangkah mundur.