Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Pulang sekarang!



Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh Ira tiba juga yaitu hari dimana ia bisa segera mengetahui hasil dari kerja kerasnya beberapa waktu lalu. Dengan mengucap Bismillah Ira mulai menyalakan laptop yang ada di depannya. Dia kemudian masuk ke laman mirror perguruan tinggi tujuan dan mengikuti langkah-langkah selanjutnya untuk melihat apakah dirinya berhasil atau gagal dalam ujian masuk tersebut. Meski awalnya ia deg-degan saat membuka laman tersebut, namun akhirnya dia bisa bernapas lega saat melihat namanya tercatat sebagai salah satu peserta yang lolos dalam ujian.


"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa keterima juga," ucap Ira. Dia bersyukur karena kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil. Namun sayangnya, kebahagiaan tersebut masih terasa kurang lengkap karena Arvin tidak ada di sisinya. Laki-laki yang masih berstatus sebagai pacarnya itu mendadak ada pekerjaan di luar kota yang memaksanya harus meninggalkan Ira di kota Jogja.


"Pak Arvin pasti senang karena akhirnya aku bisa lulus ujian ini. Apa aku telepon dia ya sekarang ya untuk ngasih kabar ini?" pikir Ira. Dia mengambil benda pipih yang miliknya dari saku. Ira kemudian menekan tombol call untuk menghubungi kekasihnya tersebut.


"Tersambung, tapi kenapa nggak dijawab sih?" gumam Ira. "Apa dia sesibuk itu sampai nggak bisa jawab teleponku?"


Akhirnya Ira mengakhiri panggilannya setelah puluhan kali panggilannya tidak dijawab oleh sang Arvin.


"Sudahlah, mungkin dia benaran sibuk," gumam Ira lagi. Dia menaruh benda pipih di tangannya itu kembali ke atas meja. Meski Ira bahagia karena sudah berhasil di terima di universitas yang dia inginkan, tetapi rasanya masih ada yang kurang karena sang kekasih belum memberinya ucapan selamat.


"Katanya mau melamarku jika aku berhasil keterima jadi mahasiswa, tapi apa kenyataannya? Jangankan ngelamar, ngucapin selamat aja enggak," keluh Ira sambil menghela napas. Beberapa menit kemudian ada panggilan masuk di telepon genggam miliknya tersebut. Tanpa pikir panjang Ira langsung menekan tombol hijau pada layar ponselnya.


"Pak, kenapa baru telepon? Kamu tahukan Pak aku sudah menunggu telepon dari Bapak sejak tadi," ucap Ira tanpa melihat siapa orang yang menelponnya.


"Qilla, ini daddy."


Ira terkejut ketika mendengar suara sang ayah dari seberang sana. Karena takut salah mendengar, Ira melihat ke layar telepon genggamnya untuk melihat nomor yang sedang menghubunginya saat ini dan benar saja, nomor tersebut memang nomor telepon daddy-nya.


"Daddy... dari mana Daddy tahu nomor ponselku?" tanya Ira.


"Tapi.... "


"Tidak ada kata tapi, kamu sudah cukup lama kabur dari rumah dan sekarang sudah waktunya kamu untuk pulang. Apa kamu pikir daddy tidak tahu dimana kamu tinggal selama ini. Pulang sekarang juga atau selamanya daddy tidak akan mengizinkanmu keluar dari rumah lagi. Ingat! Daddy bisa menyuruh orang untuk membawamu pulang dengan paksa!" suruh Dion tanpa memberi kesempatan Ira untuk menjelaskan apalagi membantah. Setelah mengatakan hal tersebut, Dion langsung memutuskan panggilannya.


"Kenapa daddy tiba-tiba menyuruhku pulang sih. Padahal sampai sekarang aku belum bisa menghubungi nomor Pak Arvin." Ira menghela napasnya. Sekali lagi dia mencoba menghubungi nomor Arvin lagi, namun lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan karena panggilannya tidak juga dijawab.


"Dasar Pak Arvin, kenapa susah banget sih dihubungi," keluh Ira.


"Ya sudah deh, lebih baik aku kirim pesan saja siapa tahu setelah dia tidak lagi sibuk, dia akan langsung menelponku." Ira langsung menulis pesan untuk pacarnya tersebut.


[Pak, hari ini aku harus kembali ke Jakarta. Aku harap Bapak segera menghubungiku saat Bapak tidak lagi sibuk. Ingat, aku menunggu janji Bapak - Ira]


Meski pesan tersebut sudah terkirim sepertinya Arvin belum membaca pesan darinya tersebut. Lagi-lagi, Ira menghela napasnya. Rasanya begitu berat meninggalkan villa yang menjadi tempat tinggalnya beberapa minggu ini.


"Sudahlah, lebih baik aku mulai berkemas. Semoga sebelum pesawatku lepas landas Pak Arvin sudah membaca pesanku," batin Ira.


Ira mulai mengemasi barang-barang bawaannya. Dia harus segera ke bandara karena jadwal penerbangannya dua jam lagi.