
Dengan perasaan takut, Ira masuk ke dalam villa. Dia segera menemui Arvin untuk bertanya tentang siapa orang-orang yang baru saja pergi dari villa ini. Namun sebelum sempat bertanya, Arvin sudah memarahinya karena terlambat kembali ke villa.
"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang? Enak ya bisa jalan-jalan sama Bos restoran berdua," ucap Arvin sinis.
"Kok Pak Arvin tahu kalau aku pergi sama Arga? Pak Arvin ngikutin aku?"
"Cih. Ngapain aku ngikuti kamu. Emang aku gak ada kerjaan," elaknya masih dengan nada angkuh.
"Terus bagaimana Pak Arvin bisa tahu kalau aku pergi sama Arga?"
"Aku hanya asal tebak."
"Asal tebak kok bener, nggak mungkinlah, pasti Pak Arvin ngikuti aku kan? Hayo ngaku!"
"Pede amat kamu. Nih ya kalau kamu cuma jalan-jalan di sekitar villa nggak mungkinkan kamu baru pulang jam segini? Dan barusan aku mendengar ada suara mobil yang sempat berhenti di depan, aku yakin kalau itu suara mobilnya si Bos restoran itu," jelas Arvin yang masih tetap tidak mau megaku kalau dia sempat mengikuti asisten pribadinya tadi.
"Iya, aku ngaku. Kalau tadi aku pergi dengan Arga," jawab Ira yang tidak ingin memperpanjang masalah karena masih ada hal yang lebih penting dari masalah kepergian dirinya dengan Arga. Ira ingin tahu siapa orang-orang berjas hitam yang berpapasan dengannya di depan villa. Ira takut kalau orang-orang itu adalah orang-orang utusan daddy-nya yang diperintahkan untuk mencari dirinya.
"Apa yang kalian lakukan hingga baru pulang jam segini?"
"Aku dan Arga cuma jalan-jalan di sekitar alun-alun doang setelah itu kita makan, udah itu aja," jawab Ira. "Ohya, Pak. Kalau boleh saya tahu orang-orang yang baru keluar tadi siapa ya?"
"Kenapa? Kamu kenal sama mereka?" jawab Arvin yang justru bertanya balik kepada Ira.
"Aku.... " Ira terdiam. Dia memiliki firasat kalau orang-orang tadi memang benar orang suruhan sang daddy.
"Mereka anak buah ayahku."
"Benar mereka anak buah ayahmu?" tanya Ira lagi.
"Benarlah. Memang anak buah siapa lagi? Anak buah orang tuamu? Kan nggak mungkin," jawab Arvin.
"Memangnya kamu juga lagi kabur dari rumah?"
"Bukan kabur sih. Lebih tepatnya aku sedang melakukan healing sambil menyelesaikan pekerjaanku di sini," jawab Arvin. "Kamu sendiri kenapa kabur dari rumah?" tanya Arvin sambil menatap kearah Ira.
"Karena tidak mau dijodohkan."
"Memang kenapa? Kamu sudah punya pacar?"
"Apa orang yang dijodohkan denganmu itu jelek?"
Ira menggeleng juga.
"Terus?"
"Aku hanya ingin menemukan tujuan hidupku. Setelah aku menemukannya aku pasti akan kembali dan akan mulai melanjutkan sekolahku."
"Maksudmu sekarang ini kamu tidak bersekolah?" Kali ini Ira menjawabnya dengan sebuah anggukan.
"Benar-benar lucu!" ucap Arvin sambil tertawa.
"Apanya yang lucu?"
"Kamu menjadikan alasan belum menukan tujuan hidup untuk tidak sekolah. Di zaman sekarang itu aneh."
"Aku tidak menjadikan itu alasan, tapi kan memang benar aku belum menemukan hal yang sebenarnya aku inginkan." Ira masih berusaha membenarkan tindakannya.
"Kamu umur berapa sekarang?"
"Dua puluh tahun."
"Umur segitu itu sudah dikatakan dewasa dan harusnya kamu sudah mulai bisa menentukan jalan terbaik untuk masa depanmu. Dan salah satu hal terpenting adalah dengan bersekolah setinggi-tingginya. Kamu tahu banyak orang diluaran sana yang ingin sekali melanjutkan sekolah mereka. Bahkan mereka rela kerja mati-matian untuk bisa bersekolah. Sementara kamu? Kamu sudah jelas-jelas sudah diberi fasilitas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi malah menjadikan alasan belum menemukan tujuan hidup agar tidak berberkuliah. Itu kan aneh. Bilang saja kalau sebenarnya kamu itu pemalas yang tidak mau berpikir. Dasar otak udang!"
"Apa kamu bilang?" geram Ira.
"Memangnya kata-kata apa yang pantas menggambarkan tentang dirimu?"
"Lihat saja, aku akan buktikan padamu kalau aku bisa diterima di kampus ternama di kota ini."
"Kebetulan. Kamu bisa mulai mendaftar sekarang, bukankah sekarang sudah waktunya penerimaan mahasiswa baru. Aku ingin lihat, apa gadis sepertimu bisa diterima di kampus itu."
"Aku pasti diterima lihat saja!"
Ira dan Arvin saling memberikan tatapan sengitnya.