
Diam-diam saat meletakkan hp nya di atas meja, Ira mengirimkan sebuah pesan kepada Arvin yang berisi tulisan S.O.S dengan menyertakan foto calon adik iparnya, Queen. Ia berharap Arvin paham dengan maksud dari pesan yang ia kirimkan.
"Nona, Anda mau kemana dengan orang-orang ini?" tanya penjaga yang berjaga di depan pintu gerbang.
"Saya mau pergi sebentar dengan mereka, Pak. Nanti kalau mami dan dedi tanya bilang saja kalau saya ada urusan kampus di luar," jawab Ira, dia tidak mau membuat orang-orang yang sedang bersamanya curiga.
"Tapi, Non.... "
Ira menggenggam tangan penjaga tersebut. "Tidak apa-apa, Pak. Nanti saya akan hubungi dady sendiri," ucapnya sambil tersenyum.
Penjaga tersebut sempat membulatkan matanya. Namun, dia segera tersenyum sambil menyuruh penjaga yang lain untuk membiarkan Nona Mudanya tersebut pergi bersama orang-orang itu.
Ira segera masuk ke mobil milik orang-orang tadi, mobil itu pun kemudian melaju meninggalkan kediaman Keluarga Sebastian.
Salah satu dari beberapa orang yang mengaku sebagai wartawan itu menengok ke belakang untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun yang mengikuti mobil mereka.
"Tidak ada yang mengikuti kita, kan?" tanya salah satu dari mereka yang bertugas menjadi supir.
"Tidak, ada. Sepertinya mereka percaya dengan alasan nona muda ini," jawab yang lainnya.
Ira menyembunyikan sesuatu yang ia ambil dari tangan penjaga rumahnya ke dalam pinggang. Dia berharap tidak ada dari mereka yang curiga dengan tindak tanduknya tersebut.
"Sekarang kalian bisa katakan padaku dimana Queen sekarang dan siapa orang yang telah menyuruh kalian untuk membawaku!" suruh Ira.
"Calon adik ipar Anda dalam kondisi aman, Anda tak perlu khawatir," jawab yang lainnya. "Tapi, siapa orang yang menyuruh kami tidak bisa kami katakan sekarang," lanjutnya.
"Black hubungi si Jo, biarkan cewek ini melihat dan berbicara dengan gadis itu!" suruh orang yang duduk di jok sebelah supir.
Orang yang dipanggil Black itu segera melakukan hal yang diperintahkan oleh temannya. Setelah tersambung orang yang dipanggil Jack itu menempelkan teleponnya ke telinga Ira agar Ira bisa berbicara dengan orang Queen.
"Hallo Queen, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Ira dengan cepat.
"Kak Ira, siapa mereka? Kenapa mereka membawaku ke sini?" suara Queen terdengar dari ujung sana.
"Kakak juga tidak tahu siapa mereka, tapi, kamu jangan khawatir ya kakak pasti akan berusaha untuk menyelamatkanmu," ujar Ira. "Mereka tidak melukaimu, kan? Mereka memperlakukanmu dengan baik, kan?"
"Iya, Kak. Aku tidak apa-apa. Selain tanganku yang diikat, mereka masih bersikap baik terhadapku," jawab Queen. "Apa Kak Arvin tahu tentang keadaan Kakak?"
"Tidak. Aku tidak ada kesempatan untuk memberitahunya."
"Black," panggil orang yang tadi. Dengan menggunakan isyarat dia menyuruh untuk mengakhiri panggilan itu.
Orang yang dipanggil Black itu segera menekan tombol merah di layar hpnya.
"Tutup matanya! Bos menyuruh kita membawanya ke lokasi sekarang!" suruh orang tadi.
Black yang duduk di sebelah Ira segera mengikat kain hitam untuk menutupi mata Ira.
"Semoga saja Pak Arvin segera mengerti dengan maksud isi," batin Ira. Dia berharap dia bisa segera dipertemukan dengan Queen agar dirinya bisa memberitahu anak buah dadynya tentang keberadaannya.