
Mengingat jika dia masih membutuhkan keterangan Hendarso untuk mengetahui keberadaan Ira, perlahan Arvin mulai melepaskan cengkramannya.
Uhuk... uhuk... uhuk.
"Kalian berdua ngomong apa sih? Kenapa kalian tiba-tiba datang menghajarku seperti ini?" tanya Hendarso dengan raut wajah kebingungan.
"Sekarang katakan dimana Ira! Mungkin aku akan sedikit berbelas kasih jika kamu mau mengatakan keberadaannya!" Arvin memaksa Hendarso untuk membuka mulut.
"Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Siapa itu Ira?" tanya Hendarso bingung.
"Jangan berpura-pura atau aku akan mematahkan lehermu!" sentak Arvin.
"Sudah ku katakan aku tidak tahu maksud perkataan kalian barusan itu apa? Memangnya apa yang harus aku beritahu?" Hendorso masih kekeh mengatakan jika ia tidak mengetahui apa pun.
"Plat mobil dengan nomor B 121 AN adalah milikmu, kan?" kini giliran Vano yang bertanya.
"Iya, itu memang nomor mobilku."
Mendengar jawaban Hendarso membuat Arvin kembali naik pitam, kali ini dia mencengkram kerah leher Hendaraso. "Jadi benar kalau kau adalah orang dibalik peristiwa penculikan itu?!" geramnya.
"Apa maksudmu?" tanya Hendarso sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Arvin.
"Aku melihat mobil itu keluar dari arah gedung kosong tempat adikku disekap. Jadi lebih baik kau mengaku saja dan katakan dimana Ira sekarang!" ucap Arya dengan segala amarahnya.
"Sudah kubilang bukan aku pelakunya."
Semakin Hendarso mengelak, semakin Arvin memperkuat cengkraman tangannya.
"Ar, hentikan! Dia bisa mati!" Vano berusaha membuat Arvin melepaskan cengkramannya.
"Mob... mobil itu sudah dibeli seseorang... se... seminggu yang lalu," jawab Hendarso dengan terbata karena dia hampir kehabisan oksigen.
"Siapa pembeli mobil itu dan kenapa kamu menjual mobilmu tersebut?" tanya Vano.
"Aku tidak tahu orangnya karena aku tidak bertanya. Apalagi aku membutuhkan banyak uang karena kalah judi," jelas Hendarso. "Kalau kalian tidak percaya kalian bisa memeriksanya sendiri!"
"Ar, sepertinya dia tidak berbohong," ucap Vano.
"Apa kamu ingat ciri-ciri orang yang membeli mobilmu?" kembali Arvin bertanya.
"Aku tidak tahu persis wajahnya karena dia memakai masker dan kacamata hitam. Hanya saja aku sempat melihat tato kupu-kupu di lengan kanannya," jawab Hendarso lagi. "Aku sudah menjawab pertanyaan kalian, kan? Sekarang pergilah! Kalian merusak kesenanganku saja."
"Ayo, Ar. Sebaiknya kita pergi dari sini!"
Vano segera membawa sahabatnya itu keluar meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal Arvin dan Vano, Hendarso menelpon seseorang. "Aku sudah melakukan hal sesuai dengan perintahmu sekarang hapus video itu!" ucap Hendarso kepada seseorang di ujung sana.
"Kamu tenang saja, aku akan segera menghapus video cabulmu itu. Sekarang kau bebas!" jawab seseorang diujung sana.
Di sebuah ruangan besar seseorang duduk di kursi goyang dengan menumpukan kaki. Dia begitu senang karena pelan, tapi pasti dia akan bisa membalas sakit hatinya kepada Arvin dan Ira.
"Kalian berdua akan rasakan pembalasanku! Kalian pikir aku orang bodoh yang bisa begitu begitu saja kalian permalukan?" gumam orang itu sambil menyeringai.
***
Sementara itu Ira yang masih disekap di sebuah ruangan menolak makanan yang diberikan oleh penjahat itu. Dia hanya ingin bisa keluar dari sana untuk mengetahui keadaan Queen.
"Queen bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja, kan? Maafkan Kakak karena telah membuatmu celaka. Maafkan Kakak, Queen," lirih Ira. Dia terus menyesali kecerobohannya.