Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Nasehat Queen



Malam sudah semakin larut, semua sudah masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat, pun yang dilakukan oleh keempat orang yang tadi ribut di depan televisi. Malam itu Arviin terpaksa harus tidur dengan sekretaris pribadinya, Vano, dan Ira tidura bersama Queen, adik perempuan satu-satunya dari Arvin.


Melihat kamar Ira yang berantakan semakin menambahkan keheran Queen tentang kakak kandungnya tersebut. Bagaimana tidak, dulu Arvin pernah putus dengan seorang cewek hanya karena ilfill melihat kamar pacarnya dulu berantakan.


"Kak ini kamar Kakak?" tanya Queen sambil melihat sekeliling tempat itu.


"Iyalah, memang ada kamar lain selain kamar ini dan kamar Pak Arvin?" Ira justru menjawab pertanyaan calon adik iparnya tersebut dengan pertanyaan.


"Kak Arvin pernah masuk ke tempat ini nggak, Kak?"


"Belum sih. Memang kenapa?"


"Pantesan." Sekarang Queen mengerti kenapa kakaknya masih bertahan dengan Ira.


"Pantesan apanya?"


"Ya pantesan Kak Arvin masih bertahan sama Kak Ira," jawab Queen.


"Ih, kok ngomongnya gitu sih? Aku dan Pak Arvin kan baru pacaran dua hari, masa kamu doain biar putus?" protes Ira.


"Bukan doain biar cepet putus, Kak. Tapi, dulu Kak Arvin permah mutusin cewek gara-gara lihat kamar cewek itu berantakan lho, Kak. Makanya mulai sekarang Kakak harus lebih menjaga kamar kakak biar gak berantakan. Memang di rumah Kak Ira nggak pernah ngeberesin kamar Kakak?"


"Beresin sih, tapi tetap saja yang lebih banyak andil ngebersihin kamar aku ya pembantu di rumah," jawab Ira.


"Memangnya kakak mau manggil pembantu kakak ke sini buat beresin kamar kakak?"


"Makanya Kakak harus belajar beresin kamar kakak sendiri sebelum kak Arvin melihat kamar kakak yang seperti ini. Kakak nggak maukan, jadi deretan cewek yang masuk dalam daftar mantan Kak Arvin?"


"Ya, nggak maulah, masa baru dua hari aku berstatus pacar Pak Arvin harus langsung berubah jadi mantan sih. Baiklah, mulai besok aku akan beresin kamarku biar kelihatan rapih. lagi"


"Baguslah kalau Kak Ira mau berusaha. Btw Kakak barusan bilang kalau Kakak kabur dari rumah kan? Kalau boleh tahu kenapa Kakak sampai kabur dari rumah kakak?"


"Aku kabur karena mau dijodohin sama orang yang nggak aku kenal sama orang tuaku. Memangnya ini zaman Siti Nurbaya apa, pakai dijodoh-jodohin segala," keluh Ira.


"Memangnya kalau Kak Ira dijodohinnya sama orang yang kakak kenal, Kak Ira bakalan mau?"


"Nggak juga sih. Kan meski kenal kalau kita nggak cinta mana bisa kita hidup bersama." Ira membaringkan tubuhnya di atas kasur. "Udah ah, Queen, aku ngantuk. Bukannya besok kamu harus kembali ke hotel untuk bergabung dengan rombonganmu? Awas jangan sampai kesiangan, ntar yang ada kamu ditinggal sama rombongan sekolahmu."


Queen ikut berbaring di sebelah calon kakak iparnya.


"Kak, sebelum pacaran sama Kak Arvin kakak sudah pernah pacaran belum?"


"Kenapa kamu tanya soal itu?"


"Enggak sih, cuma pengen tahu saja."


"Udah, Queen. Aku ngantuk. Kalau kamu masih mau ngobrol besok pagi aja ya sebelum kamu balik ke rombongan." Setelah mengatakan hal itu Ira langsung memejamkan matanya.


"Beneran tidur lagi, padahalkan aku masih kepingin ngobrol." Queen menghela napasnya saat melihat Ira sudah tertidur pulas.