
"Aku berharap kamu bisa lulus ujian ini dengan nilai yang memuaskan karena saat itu tiba, aku akan datang untuk melamarmu sesuai dengan janjiku." Mendengar hal itu Ira langsung memeluk kekasihnya dari samping.
"Sayang, jangan begini. Nanti kalau nabrak gimana?"
"Biarin. Aku masih pengen meluk Bapak."
Arvin hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ira yang kadang seperti anak kecil.
"I love you, Pak Arvin."
"Love you too, Ira." Arvin mengecup pucuk kepala sang kekasih hati.
"Pak, aku boleh senderan kan?"
"Tentu saja."
Ira memejamkan matanya sambil menyenderkan kepalanya di bahu Arvin.
Arvin menghela napasnya, ada sesuatu yang membuatnya kepikiran akan hubungannya dengan Ira. Dia ingat perkataan Queen saat dirinya mengantar adiknya tersebut kembali ke rombongan.
Beberapa hari sebelumnya....
"Kak, Kakak harus segera ngomong ke Bunda dan ayah kalau Kakak nggak mau dijodohin sama mereka karena Kakak sudah punya penggantinya Kak Nadin. Jangan sampai mereka masih mengira Kakak belum move on dari Kak Nadin dan melanjutkan perjodohan Kakak dengan anak dari temannya ayah." Queen memperingatkan kepada kakaknya agar segera mengenalkan pacarnya itu kepada kedua orang tua mereka.
"Nanti setelah Ira berhasil lolos ujian, aku bakalan bilang ke ayah sama Bunda," jawab Arvin santai.
"Jangan lama-lama, Kak. Soalnya calon kakak yang ini udah sering main ke rumah. Jangan sampai ayah dan Bunda jadi enggan buat nolak dia."
"Yang Queen katakan bener, Ar. Lo harus secepatnya ngenalin cewek lo itu ke ortu lo!" Vano ikutan berbicara. "Kecuali jika elo masih ragu sama pacar lo yang sekarang," tambahnya.
"Kak, Kak Ira itu meski ceroboh dan nggak tahu apa-apa, tapi aku lihat dia baik kok. Dan yang aku lihat juga sebenarnya Kak Ira itu cerdas, cuma kadang dia malas aja. Aku yakin, saat Kak Arvin mau ngebimbing dia, dia bakalan jadi anak yang rajin dan bisa memilih serta memilah hal apa saja yang bisa dia lakukan dan hal apa saja yang harus dia pikirkan terlebih dulu sebelum melakukannya." Queen kembali bersuara. Helaan napas keluar dari dari mulut Arvin.
"Jangan-jangan Kak Arvin masih ragu ya sama perasaan Kakak ke Kak Ira karena sifat dia yang jauh dari standar Kakak selama ini," tebak Ira.
"Bukan. Aku yakin terhadap perasaanku padanya, hanya saja.... "
"Sebenarnya dia juga sudah dijodohkan. Dan orang tuanya baru akan membatalkan perjodohan tersebut kalau Ira lolos seleksi itu dan benar-benar keterima jadi mahasiswa," jawab Arvin. "Makanya, aku sangat berharap kalau Ira beneran bisa lolos, jadi satu masalah kami sudah bisa teratasi," lanjutnya.
"Terus Kak Arvin nggak percaya kalau Kak Ira bakalan lolos dan keterima jadi mahasiswa?"
"Jujur iya, apalagi melihat sikap malasnya. Makanya aku tidak mau berharap lebih dari hubungan ini," jawab Arvin.
"Terus, kalau Kak Ira berhasil lolos, tetapi ayah dan bunda sudah menyuruh kakak melanjutkan perjodohan tersebut, apa yang mau kakak lakukan? Menerima perjodohan itu demi ayah dan bunda, terus ningggalin Kak Ira begitu?"
Arvin terdiam.
"Itu namanya Kakak egois. Seharusnya Kakak bicara jujur sama Kak Ira tentang semuanya. Atau Kakak langsung bicara sama ayah dan bunda kalau Kakak menolak perjodohan itu."
Arvin kembali terdiam.
"Kak, saran aku bicara sama ayah dan bunda sekarang dan bilang kalau kakak menolak perjodohan itu. Sebelum mereka ngomong yes soal perjodohan tersebut," tambah Queen.
Dan kenyataannya, omongan Queen beberapa hari yang lalu itu menjadi kenyataan. Pagi tadi Alvin dan Nayla menyuruh putranya untuk pulang ke rumah untuk diperkenalkan secara langsung dengan calon tunangannya. Dengan menggunakan pesawat, Arvin langsung menemui kedua orang tuanya di Jakarta untuk menolak perjodohan tersebut. Tetapi, orang tua dari calon Arvin menyuruh Arvin untuk berpura-pura menerima perjodohan itu, setidaknya sampai ujian seleksi penerimaan mahasiswa itu selesai.
"Kami mohon Nak Arvin. Saat ini putriku sedang mengikuti ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru, jika dia tahu kalau perjodohannya gagal, dia pasti tidak akan ada semangat untuk mengejar cita-citanya tersebut. Jadi, biarkan semuanya seperti ini dulu sampai ujian itu selesai!" pinta orang tua dari perempuan yang Arvin sendiri tidak mau tahu siapa dia.
"Om, Tante, tapi, aku tidak.... "
"Kami mohon. Anak kami sudah berusaha mengubah penampilannya demi kamu. Dia mau melanjutkan kuliahnya juga demi kamu. Jika tahu dia sudah ditolak. Maka dia pasti tidak akan mau ikut ujian tersebut."
"Nak, bantulah dia setidaknya sampai ujian putrinya selesai!" Jika sang bunda sudah berbicara begitu, Arvin tidak bisa menolaknya.
"Baiklah, tapi, hanya sampai ujian itu selesai. Setelah itu, kalian harus jujur kepada putri kalian kalau saya menolak perjodohan ini," ucap Arvin.
"Iya, Nak. Pasti."
Setelah mendapatkan kepastian tersebut, Arvin kembali ke Jogja dengan pesawat pribadinya. Dia langsung menuju ke tempat ujian kekasihnya.