Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Teman lama Ira



"Sudah sampai ya?" tanya Ira begitu Arvin memarkirkan mobil bak terbuka yang mereka tumpangi.


"Kita makan dulu ya sebelum kembali ke villa. Kebetulan perutku sudah lapar. Aku belum makan sejak keluar dari villa pagi tadi," ucap Arvin.


"Memang Bapak meeting dimana sih? Bukankah biasanya kalau Bapak meeting itu di restoran?" tanya Ira, dia merasa heran dengan ucapan kekasihnya barusan.


"E... itu tadi karena terlalu pagi restorannya belum buka sayang, makanya aku belum makan," jawab Arvin dengan hati-hati.


"Pak, Bapak tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari aku kan?" tanya Ira. Dia menatap kekasihnya dengan seksama.


Gleg. Arvin menelan ludahnya dengan bersusah payah.


"Sebenarnya..... "


Arvin tidak jadi melanjutkan perkataannya ketika terdengar dering telepon dari telepon genggamnya. "Sebentar ya. Aku jawab dulu. Kamu bisa duduk dulu di sana." Arvin meminta ijin kepada Ira untuk menjawab telepon terlebih dulu. Dia juga menyuruh kekasihnya tersebut untuk duduk di salah satu kursi kosong yang ada di restoran tersebut.


"Nomor siapa ini?" gumam Arvin saat melihat ada nomor asing yang menelponnya. Dia segera menarik tombol hijau untuk menjawab telepon tersebut.


"Hallo, siapa ini?" tanya Arvin tanpa basa basi.


"Hollo, ini nomornya Mas Arvin kan?"


Kening Arvin mengkerut mendengar ada yang memanggilnya dengan sebutan mas. Arvin kembali menatap nomor yang menelponnya tersebut.


"Perasaan ini bukan nomor dari orang yang ku kenal," batin Arvin.


"Maaf, ini siapa ya? Dan dari mana kamu tahu nomor telepon pribadi saya?" tanya Arvin. Arvin memiliki dua nomor telepon, satu nomor untuk rekan bisnis dan satu nomor lagi, hanya untuk orang-orang terdekatnya saja dan kali ini orang yang menelponnya tersebut menelpon Arvin ke nomor yang hanya diketahui oleh keluarga, kerabat, dan teman-teman dekatnya saja.


"E... Mas ini aku, aku orang yang dijodohkan sama Arvin."


Sudah Arvin duga kalau yang menelponnya pasti dia. Tetapi, siapa yang memberikan nomor telepon pribadinya kepada wanita itu.


"Ada apa menelponku?" nada bicara Arvin berubah ketus. Dia tidak suka ada orang yang mengganggu kebersamaannya dengan Ira.


"Mas, aku dengar dari orang tua Mas Arvin, Mas Arvin lagi ada di Jogja ya sekarang?"


"Iya."


"Bisa nggak, Mas, kalau kita ketemu? Kebetulan aku baru selesai ujian nih."


"Tapi, Mas.... "


Arvin langsung memutus pembicaraan, dia langsung menekan tombol merah pada layar ponselnya.


"Sial! Siapa yang ngasih nomorku sama dia," maki Arvin. "Awas saja kalau itu Queen atau Vano!"


"Ada apa dengan Queen dan Vano, Pak?" suara Ira dari arah belakang membuat Arvin hampir menjatuhkan telepon genggam di tangannya.


"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Arvin.


"Baru saja. Pak Arvin lama jawab teleponnya makanya aku susul kemari deh," jawab Ira. "Btw kenapa dengan Queen dan Vano?"


"Tidak. Aku hanya tidak suka mereka memberikan nomor pribadiku sama orang lain," jawab Arvin.


"Ouh... ya udah. Kita makan saja dulu yuk, katanya lapar!" ajak Ira.


"Kamu benar."


Arvin dan Ira kembali masuk ke dalam restoran. Mereka memesan beberapa menu makanan kesuakaan Ira. Arvin ingin memberikan kekasihnya itu kebahagiaan karena berhasil melewati hari pertama ujian.


"Ohya, Pak, tadi saat ikut ujian aku bertemu teman lamaku waktu SMA."


"Ohya? Seneng dong."


"Tentu saja seneng. Tapi, aku beneran kagum sama dia. Dia bener-bener sudah banyak berubah sekarang. Dulu dia itu cupu, sering pakai kacamata tebal saat di sekolah, dia juga sering tuh dandan ala-ala pemain telenovela yang dikepang dua itu lho. Dan sekarang, sumpah dia keren banget, cantik, anggun, mantan Pak Arvin aja kalah," puji Ira.


"Mau secantik apapun dia, bagiku yang paling cantik dan ngegemesin itu cuma Ira. Meski kadang ceroboh dan sering bikin ulah, tapi, hanya dialah satu-satunya wanita yang mampu membuat hatiku bergetar," jawab Arvin santai.


Kedua pipi Ira berubah warna menjadi merah muda. "Pak Arvin bisa saja," ucap Ira.


"Sudah, kalau lagi makan jangan kebanyakan ngobrol. Kata orang tua jaman dulu, nanti makanannya dimakan sama setan."


Ira tertawa mendengar perkataan Arvin barusan. "Tapi, beneran deh Pak, temanku itu beda banget sama yang dulu. Nih, kalau Pak Arvin gak percaya."


Ira menunjukan foto teman lamanya pas SMA dengan foto yang baru saja dia ambil saat makan bersamanya tadi.


Awalnya, Arvin hanya melirik foto tersebut. Namun, saat mengetahui siapa orang yang berada didalam foto tersebut, Arvin yang saat itu sedang mengunyang langsung tersedak.