
Arga dan Ira keluar dari mobil begitu mereka tiba di tempat tujuan. Hari sudah menunjukkan pukul empat sore dan penjual yang biasa berjualan di alun-alun Jogjakarta mulai membuka lapak dagangan mereka.
"Kita keliling alun-alun dulu atau mau langsung makan?" tanya Arga kepada Ira.
"Keliling dulu deh sebentar setelah itu makan," jawab Ira dengan sumringah.
Ira dan Arga berjalan mengelilingi alun-alun. Menjelang petang, justru alun-alun tersebut semakin dipadati pengunjung.
"Eh, mereka sedang ngapain?" tanya Ira ketika melihat ada sepasang muda mudi sedang berjalan dengan mata tertutup.
"Mereka mau menyeberang diantara dua pohon beringin kembar itu. Kalau orang sini bilang sih masangin," jelas Arga.
"Masangin itu apa?" tanya Ira yang masih belum mengerti maksud dari masangin.
"Mitosnya sih kalau ada pasangan yang gagal melewati pohon beringin kembar itu, maka biasanya mereka akan putus," jawab Arga lagi. "Mau mencobanya denganku?" Arga menawarkan diri.
"Kita kan bukan pasangan kekasih buat apa mencoba permainan itu."
"Tapi, gak ada salahnya juga kan kalau kita mencobanya?"
Ira memikirkan perkataan Arga barusan. "Iya juga sih. Baiklah, ayo kita mencoba permainan itu."
Arga dan Ira akhirnya ikut memainkan permainan tersebut. Mereka menutup mata mereka dan mulai berjalan menuju ke pohon beringin kembar yang ada di hadapan mereka. Namun, anehnya keduanya malah sama-sama berjalan menjauhi pohon beringin tersebut.
"Yah, sepertinya kita emang gak jodoh," keluh Arga. Padahal dia berharap bisa melewati pohon itu bersama Ira.
Mendengar pernyataan Arga, malah membuat Ira tertawa. Dia yang memang tidak percaya mitos hanya menganggap hal yang baru saja mereka lakukan adalah sebuah permainan.
"Sudah, ah. Yuk kita cari masjid buat salat. Setelah itu baru kita kulineran!" ajak Ira.
Arga dan Ira pergi ke masjid yang tidak begitu jauh dari sana, keduanya segera menunaikan kewajiban mereka kepada Sang Pencipta.
***
"Ada apa?" tanya Arga ketika melihat Ira melamun di depan masjid setelah keduanya selesai salat.
"Ya udah, ayok! Tapi, kamu beneran nggak apa-apa kan?" tanya Arya memastikan.
"Iya, nggak apa-apa."
Ira dan Arga segera mencari tempat untuk mereka makan. Keduanya kemudian memutuskan untuk makan di tempat penjual makanan khusus makanan Jogja. Selesai makan keduanya langsung meninggalkan alun-alun.
Sepanjang perjalanan, Ira lebih banyak diam. Dia tidak sebawel waktu berangkat tadi siang.
"Beneran, Ra, kamu nggak kenapa-napa?" tanya Arga lagi. Dia tidak percaya kalau tidak ada yang sedang Ira pikirkan saat ini.
"Ga, menurutmu gimana ya perasaan mommy dan daddy saat tahu kalau ternyata aku tidak melanjutkan kuliahku?" tanya Ira dengan tatapan kosong ke arah depan.
"Yang jelas, mereka pasti kecewa. Karena putri mereka sudah berani membohongi mereka selama dua tahun. Bayangkan saja, dua tahun bukan waktu yang sebentar. Dan pasti mereka memiliki harapan besar kepadamu sebagai anak sulung dari Keluarga Sebastian."
"Ternyata tidak hanya ceroboh, aku juga sudah durhaka dengan kedua orang tuaku," ucap Ira. Ada banyak penyesalan yang terpampang di wajahnya.
"Kalau kamu menyesal minta maaflah. Aku takin kedua orang tuamu pasti mau memaafkanmu. Dari pada nanti malah tahu dari orang lain."
"Kamu benar. Setelah pulang ke Jakarta nanti, aku akan langsung meminta maaf sama mommy dan daddy. Tapi, sebelum itu aku ingin mencari sesuatu yang sebenarnya aku inginkan. Aku ingin saat aku betul-betul kuliah nanti, aku kuliah di bidang yang aku suka, bukan yang mereka suka."
"Semoga kamu segera menemukan hal yang kamu cari," sahut Arga.
"Amin."
Mobil yang dikendarai oleh Arga akhirnya berhenti ketika tiba di depan villa milik Arvin. Ira segera turun dari mobil milik Arga setelah mengucapkan terima kasih kepada pemuda itu.
"Lain kali aku masih bisa mengajakmu jalan-jalankan, Ira?" tanya Arga sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Tentu saja bisa. Tapi, kalau aku pas nggak ada pekerjaan ya."
"Sip. Thank you untuk hari. See you." Setelah mengatakan itu, Arga langsung melajukan mobilnya meninggalkan area villa milik Arvin.
Ira berjalan masuk ke dalam villa tersebut. Namun, saat sampai di depan pintu dia terkejut saat berpapasan dengan gerombolan laki-laki berjas hitam.