Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Benda misterius



Usai makan Arvin langsung mengajak Ira untuk kembali ke villa, bukan tanpa sebab, Arvin melakukan hal tersebut. Dia ingin agar sang kekasih bisa belajar lagi untuk mengahdapi ujian di hari berikutnya, namun hal itu justru membuat ira kesal. Sepanjang perjalanan menuju villa, gadis bernama Aqilla Ashira Putri Sebastian tersebut diam seribu bahasa. Dia sama sekali tidak menanggapi semua perkataan Arvin.


"Sayang, kok ditekuk gitu sih mukanya?" tanya Arvin begitu mereka tiba di dalam villa.


"Pak, aku tuh masih pingin menghabiskan wktu berdua sama bapak di luar. Eh, Pak Arvin malah ngajak balik kan kesel," jawab Ira.


"Sayang, ingat ujianmu kali ini bukan hanya soal kamu diterima atau enggak.di universitas. Tetapi, ini sudah menyangkut kehidupanmu ke depan." Arvin mencoba membujuk kekasihnya tersebut untuk tidak marah dan mengerti akan tindakan yang dia lakukan saat ini.


"Tapi, Pak, ini tuh masih siang. Aku masih belajar nanti malam," jawab Ira yang masih merasa kesal. Dia langsung masuk ke dalan kamarnya.


"Iya, aku tahu. Tapi, kita bisa menghabiskan waktu bersama lagi setelah ujian itu selesai. Ingat ujian itu cuma seminggu. Jika kamu berhasil, kamu bisa lepas dari perjodohan itu dan kita bisa bersama. Tetapi sebaliknya, jika kita gagal, baik kamu dan aku tidak akan bisa merubah keputusan kedua orangtuamu," ucap Arvin. Dia berjalan mengikuti Ira dari belakang.


Namun, Arvin begitu terkejut saat Ira tiba-tiba mengunci pintu kamarnya ketika dirinya hampir saja melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamat tersebut.


"Ira, kamu beneran marah gara-gara persoalan ini?" tanya Arvin sambil mengetuk pintu.


Sementara itu di dalam kamar, Ira justru terlihat panik karena melihat kamarnya yang berantakan.


"Bagaimana ini? Kalau Pak Arvin masuk ke kamar dan melihat kamarku berantakan kayak kapal pecah, bisa-bisa dia mutusin aku lagi," gumam Ira. Dia teringat perkataan calon adik iparnya tempo hari. Katanya Arvin akan ilfil ketika melihat kamar seorang wanita berantakan.


Ada beberapa sampah bekas coklat yang tersebar di lantai kamarnya. Ada juga dua piring kotor yang lupa ia cuci tadi pagi. Beberapa kertas juga terlihat berhamburan diseluruh kamarnya, dan diatas ranjang tempat tidurnya ada beberapa baju kotor yang lupa ia letakkan pada ketanjang khusus baju karena dia bangun kesiangan.


"Ternyata kamarku sangat berantakan," ucap Ira setelah mengamati kamarnya. "Aku harus segera membereskannya."


"Ra, buka pintunya! Kita perlu bicara!" Arvin masih terus memanggil nama Ira dari luar pintu.


"Sebentar," teriak Ira.


"Ra, plis, berpikirlah lebih dewasa. Kamu jangan lagi berbuat semaumu." Arvin masih terus mengetuk pintu kamar tersebut dari luar.


Tanpa mendengar ketukan dan panggilan, arvin dari luar,Ira bergegas membersihkan kamarnya. Gadis berumur dua puluh tahun tersebut langsung memungut kertas bekas coklat dan memasukkannya kedalan tempat sampah kecil yang memang disedikan di kamar itu.


Ira juga mengambil baju yang berserakan di atas tempat tidur dan meletakkannya kembali ketempatnya masing-masing. Pada saat itulah Arvin yang tidak sabar menunggu sang kekasih membuka pintu, terpaksa membukanya dengan kunci kunci cadngan yang ada di tangannya.


"Ira, kena..... "


Arvin tidak melanjutkan perkataannya. Dia terkejut dengan kondisi kamar milik kekasihnya itu. Beberapa kali dia mengedipkan mata berharap kalau memang yang dia lihat salah, terlebih ketika dia melihat dua benda yang ada di tangan kekasihnya. Ira mengikuti arah pandngan Arvin, dia ikut menatap benda yang saat ini dipegang. Mata Ira membulat melihat benda yang ada di tangannya.