Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Adik Durhaka



Kali ini Arvin sengaja menyewa mobil dari rental agar dia bisa menggunakannya sewaktu-waktu. Dengan kecepatan tinggi Arvin menjalankan mobilnya menuju ke villa. Pikirannya kalut, takut kalau dia tidak sempat menghentikan kekasihnya itu pergi dari villa.


"Bodoh. Kenapa harus pergi ke hotel segala sih? Tapi, kalau tadi aku nggak menghindari Ira, aku takut kalau aku malah kebablasan. Ah, serba salah kalau begini," gumam Arvin sambil mengendarai mobilnya.


Arvin segera memarkirkan mobilnya ketika tiba di depan villa dengan setengah berlari dia masuk ke dalam villa dan mencari keberadaan sang kekasih.


"Ira, Ira, kamu dimana?" Arvin terus memanggil nama Ira sambil mengetuk pintu kamar kekasihnya tersebut.


"Ra, kamu di dalam kan?" kembali Arvin mengetuk pintu kamar kekasihnya. "Ira," panggil Arvin lagi.


Tak kunjung mendapatkan jawaban dari sang kekasih, Arvin pun membuka pintu kamar yang ada di depannya. Dia segera masuk ke dalam kamar itu untuk memeriksa kamar tersebut.


Arvin baru bisa bernapas lega saat dia melihat masih ada baju Ira di dalam lemari.


"Syukurlah, kamu tidak pergi," ucap Arvin. Dia kembali menutup pintu lemari milik Ira. Dengan perasaan yang sudah mulai tenang, Arvin mengayunkan kakinya keluar dari kamar tersebut. Namun, beberapa detik kemudian ia menghentikan langkahnya karena tiba-tiba ia teringat akan sesuatu.


"Tapi, bagaimana kalau Ira pergi tanpa membawa pakaiannya?" gumam Arvin lagi. Dia mencoba menghubungi nomor kekasihnya tersebut.


"Kenapa tidak tersambung?" lagi-lagi Arvin berbicara pada dirinya sendiri. "Gawat kalau Iea beneran ngira aku mutusin dia gimana?" Kebingunan kembali melanda hati Arvin. Sudah puluhan kali Arvin mencoba menghubungi nomor kekasihnya, tetapi, selalu saja operator yang menjawab. Akhirnya Arvin memutuskan untuk mencari keberadaan kekasihnya tersebut.


Arvin kembali keluar dari villa, baru selangkah dia meninggalkan villa tersebut sang kekasih hati sudah muncul dihadapan Arvin.


"Ira dari mana saja kamu?"


"Aku baru membeli makanan," jawab Ira sambil menunjukkan kresek di tangan kanannya.


"Kau tahu kukira kamu beneran pergi dari villa karena menganganggap aku ilfil sama kamu."


"Tadinya sih memang aku mau pergi dari villa karena mengira Pak Arvin begitu. Tapi, setelah aku berbicara dengan Queen, aku mengurungkan niatku."


Arvin menyipitkan matanya menatap Ira.


"Tapi, Queen bilang kalau kamu.... " Sadar kalau adiknya sedang mengerjainya Arvin tidak melanjutkan kalimatnya.


"Dasar adik durhaka, awas saja kamu karena sudah berani mengerjai kakakmu sendiri," gumam Arvin.


"Pak Arvin bicara apa barusan?"


"Ah tidak," jawab Arvin, pada saat itulah sebuah pesan masuk ke telepon genggamnya dan itu adalah pesan dari Queen.


[Akhirnya aku bisa ngerjain kakak juga]


[Ternyata cinta bisa membuat orang nggak bisa berpikir jauh]


[Aku semakin yakin, kalau kali ini kakakku yang perfect ini benar-benar sudah menemukan tambatan hatinya yang baru]


Arvin tersenyum melihat pesan yang dikirim oleh adiknya itu. "Memangnya aku main-main dengan perasaanku. Dasar bocil!" lirih Arvin.


"Pak. Pak Arvin nggak kesambet kan?" tanya Ira saat melihat sang pujaan hati tersenyum sendiri.


"Tidak." Arvin kembali memasang wajah seriusnya.


"Ohya, Pak, tadi kenapa Pak Arvin tiba-tiba pergi?"


"Anu itu.... "


"Kenapa, Pak? Biasanya meski ada pekerjaan mendadak Pak Arvin nggak pernah mengabaikan panggilanku. Terus kenapa Bapak tadi pergi dan mengabaikan aku?" cecar Ira yang meminta penjelasan dari kekasihnya itu.


Gleg. Arvin kebingungan untuk memberikan jawaban kepada sang kekasih.