
Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam sepuluh menit dengan menggunakan pesawat, Ira dan dua pengawal yang dikirim oleh Dion tiba di Bandara Soekarno Hatta. Begitu tiba di sana sudah ada beberapa pengawal lain yang sudah menunggu Ira di pintu keluar.
"Haish. Daddy benar-benar ya. Dia pasti takut aku kabur lagi," gumam Ira begitu melihat ada pengawal yang lain yang sudah menunggunya.
Ira kembali mengambil telepon genggam dari dalam tasnya dan berharap sudah ada balasan dari sang kekasih tercinta, sayangnya tidak ada balasan apa pun di benda pipih yang ia pegang saat ini.
"Apa dia begitu sibuk sampai belum bisa membalas semua pesanku ya," batin Ira.
"Nona silakan masuk!" suruh pria yang sejak awal sudah mengikuti Ira dari Jogja ketika mereka berada di luar bandara dengan sebuah mobil sport warna merah yang berhenti di depan mereka. Pengawal tersebut membukakan pintu mobil dan menyuruh Ira untuk masuk kedalam mobil itu.
Ira hanya bisa mengesah pasrah, sekarang tidak ada lagi kesempatan baginya untuk kabur.
"Nona, Tuan besar sudah menunggu Anda di rumah." Lagi-lagi pengawal itu memperingatkan.
"Iya, ini juga aku mau masuk," jawab Ira. Dia kemudian masuk ke dalam mobil yang memang sudah disediakan untuk menjemputnya tersebut meski dengan wajah cemberut. Ira kembali memasukkan telepon genggam di tangannya ke dalam tas. Ira kemudian memperhatikan padatnya jalanan ibu kota melalui kaca mobil.
"Ohya, aku boleh beli minuman tidak ya? Aku haus?" tanya Ira kepada pengawal yang duduk di jok depan di samping aopir.
"Ini Nona." Pengawal yang duduk di depan Ira tersebut memberikan sebotol air mineral kepada Ira.
"Aku sedang tidak ingin minum air mineral, aku mau minuman yang ada rasanya," jawab Ira. Dia sengaja mencari alasan agar bisa keluar dari mobil tersebut.
"Memangnya Nona mau minuman yang seperti apa?"
"Apa aja yang penting ada rasanya," jawab Ira.
Pengawal tersebut kemudian memberikan Ira teh botol, minuman bersoda, dan juga botol minuman dengan berbagai rasa buah. "Ini Nona silakan dipilih!"
"Sepertinya kamu niat banget menyediakan semua minuman ini," gerutu Ira sambil mengambil salah satu botol minuman dengan rasa leci. Ira kemudian membuka tutup botol minuman tersebut dan meneguk hampir separuh dari isi di dalam botol.
"Eh, tunggu!"
"Ada apa Nona?"
"Ini bukan jalan memuju ke rumah kan? Sebenarnya kalian mau bawa aku ke mana?" tanya Ira ketika menyadari jalan yang ia lewati sekarang bukan jalan menuju ke kediaman orang tuanya.
"Iya, Nona. Memang ini bukan jalan ke rumah Tuan Besar," jawab pengawal itu dengan santai.
"Kalau kita nggak sedang menuju ke rumah, memangnya kita mau kemana? Kamu nggak berencana menculikku kan?" Ira bertanya sambil menatap curiga. Penculikan yang pernah menimpanya semasa kecil setidaknya masih membuat Ira bersikap was-was saat ada orang yang membawanya pergi ke tempat yang tidak sesuai dengan tujuan yang ia ketahui sebelumnya.
"Tidak, Nona. Ini memang perintah dari Tuan besar. Tuan Besar memang memerintah kami untuk membawa Anda ke hotel," jawab pengawal tersebut dengab nada santai.
Kembali Ira menatap orang suruhan ayahnya tersebut dari raut wajahnya Ira tahu pengawalnya itu sedang tidak berbohong.
"Kalau boleh aku tahu memang ada acara apa di hotel?" tanya Ira lagi.
"Maaf, Nona, kami tidak tahu karena kami hanya diperintahkan untuk membawa Anda ke sana."
Ira akhirnya memilih untuk diam karena sebesar apa pun rasa penasaran yang ia rasakan, tetap tidak akan bisa memaksa pengawalnya untuk membuka mulut. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, dia kembali mengambil telepon genggam dari dalam tasnya.
"Aneh, kenapa sampai sekarang Pak Arvin belum membalas pesanku sih," gumam Ira sambil menatap layar hape di tangannya.
"Sudah sampai Nona, silakan turun!" seru pengawal tersebut ketika mobil yang merekq tumpangi tiba di depan sebuah hotel mewah di kawasan Jakarta pusat.
Di sepanjang pintu masuk hotel ada papan berhiaskan bunga dengan tulisan engagement Aqilla.
"Apa maksudnya ini? Aku ingin bertemu dengan daddy sekarang!" Ira panik ketika tahu sang ayah sudah mengatur pesta pertunangan untuknya.
"Maaf, Nona. Tuan Dion bilang, Anda bisa berbicara dengannya setelah Anda mengganti baju Anda dengan gaun yang sudah Tuan Besar sediakan."
"Tapi.... "
"Tuan bilang, jika Anda berani kabur lagi kali ini, maka Tuan akan mengurung Anda selamanya di dalam rumah dan tidak akan membiarkan Anda untuk mengejar cita-cita Anda," sela pengawal itu lagi. "Ohya, Tuan juga menyuruh saya mengambil telepon genggam mikik Anda."
Pengawal itu meminta Ira untuk menyerahkan telepon genggamnya.
"Daddy benar-benar keterlaluan. Masa dia memaksakan kehendaknya begini. Aku mungkin tidak akan bisa kabur dari sini sekarang, tapi lihat saja aku pasti akan menolak pertunangan itu di depan semua orang," batin Ira. Meski dengan berat hati, Ira menyerahkan telepon genggam miliknya kepada pengawal tersebut.
Ira kemudian diantar ke salah satu kamar hotel untuk berhias dan mengganti bajunya. Di ruangan tersebut sudah ada fashion stylist dan make up artis yang memang disuruh untuk membantunya berhias dan mengganti pakaian.
Hanya tiga puluh lima menit, Ira sudah terlihat sangat cantik dengan dres panjang berwarna hijau toska. Dia kemudian dibawa ke ball room ke tempat pesta pertunangannya akan diselenggarakan.
"Sayang, kamu cantik sekali, Nak," puji Mikha ketika melihat kehadiran putrinya di ball room tersebut.
"My, Qilla kan sudah menolak perjodohan itu kenapa Mommy dan daddy masih melakukan ini sama Qilla sih? Qilla udah gede, Qilla berhak menentukan kebahagiaan untuk Qilla sendiri," protes Ira kepada ibunya.
"Sayang, mommy dan daddy melakukan ini untuk kebaikanmu, Nak," jawab Mikha dengan lembut.
"Kebaikanku? My, aku sudah punya orang yang aku cintai. Aku nggak mau melakukan pertunangan ini." Ira bersikeras menolak pertunangan yang sudah diatur oleh kedua orang tuanya tersebut.
"Qilla, kamu tidak punya hak untuk menolak pertunangan ini. Kesalahanmu sudah cukup besar, kamu sudah membohongi kedua orangtuamu selama dua tahun ini. Selama ini kamu bilang kalau kamu sudah berkuliah di UI, tapi buktinya apa, kamu membohongi kami. Kamu sama sekali tidak terdaftar sebagai mahasiswa jangankan di universitas favorit tersebut, kamu bahkan tidak terdaftar di semua universitas di Jakarta," sahut Dion.
"Aku tahu, aku salah soal itu. Aku minta maaf Daddy, Mommy. Tapi, kali ini aku tidak bohong, aku sudah keterima menjadi salah satu mahasiswa di universitas di Jogja, kalau Daddy dan Mommy tidak percaya akan aku tunjukan buktinya." Ira berusaha memberi penjelasan.
"Apapun yang akan kamu tunjukan, kamu tetap tidak bisa menolak pertunangan ini."
"Tapi, kenapa Daddy?"
"Karena ini sudah janji daddy sama dia."
"Tapi.... "
"Turuti saja perkataan kami!" suruh Dion tanpa memberi kesempatan kepada Qilla untuk menjawab.
Ira menghela napas panjangnya, dia benar-benar tidak bisa melakukan apapun lagi untuk menggalkan pertunangannya kali ini.
"Pak Arvin, mungkin kita memang tidak berjodoh, Pak. Semoga bapak bahagia meskipun tanpa aku nanti," batin Ira.
"Calon tunanganmu sudah berdiri di belakangmu, Nak. Dia sedang menatap ke arahmu sekarang," ujar Mikha.
Kembali Ira menghela napasnya, rasanya dia masih begitu berat karena harus menerima pertunangan ini.
"Apa bisa kita mulai tukar cincinnya?"