Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Kita tetap bertemankan?



"Seharusnya kamu tidak perlu lagi menanyakan hal tersebut kepadaku, Ira. Karena tanpa aku jawab pun, kamu pasti sudah tahu kalau aku mencintaimu," jawab Arvin.


"Kalau Bapak mencintaiku Bapak pasti akan berbucara jujur mengenai Hana," lanjut Ira.


Arvin menatap kekesihnya sebentar, kemudian ia kembali menarik napas dan menghembuskannya. Arvin mulai menceritakan segalanya kepada Ira, mulai dari usul ayah bundanya yang ingin menjodohkan dirinya dengan Hana sampai akhirnya dia berterus terang kepada kedua orangtuanya dan menolak perjodohan tersebut. Arvin juga bercerita bagaimana kedua orang tua Hana meminta dirinya untuk berpura-pura menerima perjodohan tersebut selama ujian masuk berlangsung karena tidak ingin Hana putus asa dan tidak mau melanjutkan untuk kuliah. "Menurutmu apa keputusanku untuk berpura-pura menerima perjodohan tersebut itu salah?"


"Aku tahu niat Pak Arvin baik mau berpura-pura menerima perjodohan tersebut. Tapi, Pak, itu sama saja Bapak mempermainkan hati Hana. Apa Bapak tahu seberapa berartinya Bapak untuk dia?"


"Iya aku tahu, aku salah soal itu. Jadi, tolong maafkan aku!"


"Pak, Bapak nggak seharusnya minta maaf sama aku. Bapak harusnya minta maaf sama Hana karena secara tidak langsung Bapak mempermainkan persaannya."


"Jadi, menurutmu aku harus minta maaf padanya?" tanya Arvin.


"Tentu saja." Ira menjawab pertanyaan Arvin sambil menganggukkan kepalanya.


"Kalau dia tidak mau memaafkan aku bagaimana?"


"Yang penting Bapak sudah minta maaf, mau dia maafin Bapak atau enggak itu hak dia."


"Kamu tidak akan meninggalkan aku gara-gara ini kan?"


"Gimana ya, Pak? Soalnya terlepas itu permintaan dari orangtuanya Hana atau bukan yang jelas Bapak sudah menyakiti hati Hana, Jadi.... " Ira memikirkan sesuatu sambil menggantung kalimatnya.


"Ra!"


"Jadi, aku akan temani Bapak untuk meminta maaf sama Hana. Kita temui Hana sama-sama, apa pun keputusan Hana yang jelas aku tidak akan melepaskan Pak Arvin untuk siapa pun termasuk dia," jawab Ira. Arvin bernapas lega setelah mendengar jawaban dari kekasihnya itu.


"Wah ternyata kamu juga sangat mencintaiku ya? Ku kira kamu bakalan menyuruhku untuk memilih Hana dan melupakan dirimu."


"Niatnya sih begitu, tapi, karena Pak Arvin pintar masak makanya aku perrahanin, lumayan kan bisa makan enak gratis," jawab Ira bercanda.


"Ish, dasar!" Keduanya pun kemudian tertawa bersama.


Usai mandi dan berememutuskan untuk pergi ke hotel ke tempat Hana menginap.


***


"Kayaknya sih iya."


Karena tidak begitu yakin dengan jawaban yang diberikan oleh Ira, Arvin mencoba menghubungi nomor Hana.


"Pak Arvin punya nomornya Hana?" tanya Ira sambil memberikan tatapan tajamnya kepada pria yang saat ini memegang ponselnya. "Jangan-jangan, Pak Arvin sering menghubungi dia ya?" Ira menatap curiga.


Arvin mengurungkan niatnya, dia kembali masukkan ponsel di tangannya ke dalam saku celana.


"Lho kok nggak jadi?"


"Kita tunggu saja, siapa tahu sebentar lagi Hana keluar dari kamarnya."


Dan benar saja, beberapa menit kemudian terlihat Hana baru saja ke luar dari dalam lift dengan koper di tangan kanannya.


"Hana," panggil Ira. Dia dan Arvin segera berjalan mendekati Hana.


"Kalian untuk apa ke sini?" tanya Hana. "Mau menertawakan aku?"


"Tidak kok," jawab Ira. Dia memberikan kode kepada Arvin untuk meminta maaf kepada Hana.


"Aku kesini ingin minta maaf kepadamu karena tidak mengatakan status kita perjodohan kita yang sebenarnya hingga membuatmu berharap lebih. Tolong maafkan aku!" ucap Arvin.


"Aku tahu kok ini bukan salahmu, Kak. Kamu hanya menuruti kemauan mama-papaku."


"Jadi, kamu nggak marah sama kita berdua?" tanya Ira.


Hana menggeleng. "Kamukan nggak tahu tentang perjodohanku dengan Kak Arvin dan Kak Arvin juga memang sudah menolakku kan sejak awal. Lalu kenapa aku harus marah sama kalian?" Hana menatap dua orang di hadapannya bergantian. "Lagian cinta nggak bisa dipaksakan bukan."


"Lalu kenapa kamu pergi?"


"Ujian kan udah selesai dan hasilnya bisa kita lihat nanti di website. Ya udah ya, Qil. Aku pamit."


"Han, kita masih tetap bisa berteman seperti dulu kan?" Ira menatap Hana. Hana terdiam cukup lama, tetapi kemudian dia tersenyum dan mengangguk.