
Dion dan Mikha segera pulang ke rumah setelah mendengar kabar tentang penculikan putri mereka, Ira. Dion yang seharusnya berada di Surabaya untuk urusan pekerjaan dan Mikha yang juga sedang berada di Semarang untuk pembukaan rumah sakit di ibu kota Jawa Tengah itu langsung memutuskan untuk pulang ke rumah setelah diberitahu oleh asisten rumah tangga, Security, dan calon menantunya bahwa Ira diculik. Keduanya langsung meninggalkan urusan pekerjaan mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Qilla bisa diculik?" tanya Dion dengan emosi kepada seluruh asisten rumah tangga dan security yang bekerja di rumahnya. "Sebenarnya kalian bisa bekerja dengan becus nggak sih?"
Para sisten rumah tangga dan security hanya bisa menunduk. Mereka sangat takut menghadapi kemarahan dari majikannya itu.
"Mas, jangan marah-marah seperti itu. Lebih baik kita tanyakan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi kepada putri kita." Mikha berusaha menenangkan suaminya, meski sebenarnya dia sendiri lebih tidak merasa tenang. Bagaimana pun putrinya pernah mengalami penculikan saat kecil yang masih membuatnya trauma.
"Tarik napas yang panjang dan hembuskan." Mikha menuntun suaminya untuk melakukan hal tersebut. "Bagaimana, Mas? Sudah agak tenang sekarang?" tanya Mikha setelah Sang suami melakukan hal yang ia katakan.
Dion hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.
"Bik Marni ceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dion kepada salah satu asisten rumah tangganya yang bernama Marni.
"Cerita saja, Bik. Jangan takut!" suruh Mikha, dia juga ingin mendengarkan kronologi kejadian tentang penculikan tersebut.
"Begini Tuan, tadi pagi ada beberapa orang yang datang ke rumah mengaku sebagai wartawan. Mereka bilang ingin melakukan wawancara kepada Nona Qilla untuk mengkonfirmasikan sesuatu. Setelah itu saya pun memanggil Nona Qilla. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan kepada Nona Qilla sebelumnya, tetapi tidak lama kemudian Nona Qilla berpamitan untuk ikut bersama mereka. Non Qilla juga meninggalkan hpnya diatas meja. Begitu lah kronologinya, Tuan, Nyonya," jawab Bik Mirna panjang lebar.
"Lalu bagaimana mereka bisa lolos dari pos keamanan? Siapa yang tadi sedang bertugas di pos?" tanya Dion.
"Saya Tuan." Seorang security mengangkat satu tangannya.
"Sebenarnya saya sudah curiga Tuan dan saya juga sudah menghalau mereka untuk tidak pergi. Tapi, Nona Qilla bilang dia ada urusan penting dengan orang-orang itu, kerena itu saya tidak berani menghalangi mereka lagi. Tapi, Tuan, Nona Qilla sempat mengambil hp saya. Mungkin kita bisa tahu keberadaan Nona Qilla dari hp saya," security itu pun menjelaskan.
"Arvin sudah memberitahu soal itu, dia dan Vano sempat menemukan titik lokasi tempat Ira disekap, sayangnya saat mereka datang, Ira sudah ada di lokasi dan hanya ada adik Arvin yang kini sedang mengalami depresi."
"Jadi, adiknya Arvin jugamenjadi korban, Mas?" tanya Mikha.
"Begitulah."
"Mas, kalau begitu kita juga harus menyelamatkan Ira. Bagaimana kalau mereka juga mencelakai Ira, Mas? Cepat cari Ira, Mas, cepat!" Mikha yang sedari tadi berusaha untuk bersikap tenang, akhirnya tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya lagi.
"Iya, Sayang. Ini aku juga sedang berusaha. Aku sudah menyebar anak buahku untuk membantu mencari keberadaan Qilla. Semoga kita bisa secepatnya mendapatkan kabar baik," jawab Dion.
"Mas, apa Mas sudah memeriksa cctv di rumah kita?" tanya Mikha ketika mengingat ada cctv yang terpasang di beberpa sudut rumah.
"Maaf, Nyonya, saya sudah memeriksa rekaman cctv di rumah ini dan sudah meminta polisi untuk mencari tahu siapa mereka. Dan menurut keterangan polisi orang-orang yang mengaku sebagai wartawan yang ada di cctv tersebut adalah DPO. Rata-rata dari mereka terlibat dalam beberapa kasus pembegalan yang terjadi akhir-akhir ini," jelas security yang lain.
Mengetahui jika putrinya kini sedang berada di tangan begal membuat Mikha semakin mencemaskan putrinya. "Qilla Sayang, semoga kamu baik-baik saja, Nak," lirih Mikha. Sebagai seorang ibu dia takut jika sesuatu yang buruk menimpa putrinya.
"Sabarlah, Sayang. Aku pasti akan berusaha untuk menemukan putri kita secepatnya." Kini giliran Dion yang berusaha menenangkan istrinya. Dia menarik Sang Istri ke dalam dekapannya.