
"Sial! Kenapa dia sudah datang sebelum aku pergi sih?" Arvin mengumpat dalam hati.
"Dari mana kamu tahu aku ada di sini?" tanya Arvin dengan wajah tanpa ekspresi.
Wanita yang baru saja datang itu langsung memeluk Arvin dan memperdulikan pertanyaan dari Arvin barusan.
"Din, tolong lepaskan aku!" suruh Arvin, kali ini sikapnya lebih dingin dari sebelumnya.
"Tidak! Aku tahu kamu hanya marah padaku, kamu tidak benar-benar membenciku," ucap Nadin dengan pede-nya.
"Apa maksudmu?"
"Kamu ke Jogja karena kamu tahu aku ada pekerjaan di Jogja juga kan?" tanya Nadin sambil tersenyum.
"Jadi, kemarin itu menejernya si Nadin beneran sedang mengurus pekerjaan Nadin di sini?" batin Arvin.
"Kalau aku tahu dia ada pekerjaan di kota ini, aku tidak akan datang ke sini," sesal Arvin yang lagi-lagi hanya dikatakan dalam hati.
"Ar, aku tahu kamu masih mencintaiku. Aku janji, aku tidak akan melakukan hal apa pun lagi yang tidak kamu sukai. Aku janji tidak akan lagi mengkhianatimu," ucap Nadin dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya.
Arvin menjauhkan tubuh Nadin dari dirinya, dia berjalan mendekat ke arah Ira kemudian merangkul bahunya.
"Sepertinya kamu sudah salah paham, Din. Seperti yang pernah aku katakan padamu sebelumnya bahwa perasaanku padamu sudah hilang tepat di hari yang sama saat aku memergokimu berselingkuh. Jadi, terimalah itu."
"Ar, aku tahu kamu bohong. Aku tahu kamu masih mencintaiku."
"Kau tidak lihat siapa gadis yang sekarang sedang bersamaku?" Kali ini Arvin menjadikan Ira sebagai tameng.
"Aku tahu, kamu sengaja mengatakan itu agar kamu bisa menghindariku kan?"
"Kamu salah! Aku di sini memang sengaja menghabiskan waktu untuk berdua dengannya di sini di kota ini," jawab Arvin.
"Tidak! Aku sangat yakin kalau kamu masih mencintaiku."
"Kamu bohongkan? Kamu sengaja mengatakan itu agar aku tidak mengharapkanmu lagi kan? Kamu salah, Ar. Aku akan tetap berusaha untuk mendapatkanmu kembali." Nadin masih kekeh dengan keyakinannya bahwa Arvin masih mencintainya.
"Terserah jika kamu tidak percaya. Yang jelas sekarang ini dia adalah kekasihku dan kami sudah tinggal bersama," ucap Arvin yang memperkenalkan Ira sebagai kekasih barunya.
"Pak kenapa Bapak harus bilang kalau kita sudah tinggal bersama sih?" protes Ira dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Arvin.
"Sudah diam saja!" suruh Arvin dengan suara yang sama pelannya.
"Kamu bohong kan, Ar?" sekali lagi Nadin bertanya. "Aku tahu kamu hanya menjadikan wanita itu pelarianmu, iyakan?"
Keributan itu menjadi perhatian dari beberapa pengunjung restoran.
"Kalau wanita ini tidak pergi juga, bisa-bisa akan semakin banyak orang yang memperhatikan kami," batin Ira ketika mengetahui mereka mulai menjadi pusat perhatian pengunjung restoran mewah itu.
"Mbak Nadin. Mbak Nadin masih memiliki harga dirikan?" tanya Ira sambil menatap Nadin.
"Apa maksudmu?"
"Kalau Mbak Nadin masih memiliki harga diri, Mbak Nadin tidak akan memaksakan diri hingga seperti ini." Nadin menatap Ira.
"Mbak sudah dengarkan dari pacarku ini kalau dia sudah tidak memiliki perasaan apa pun kepada Mbak Nadin, tetapi kenapa Mbak Nadin masih memaksakan diri? Bukankah itu terlalu lucu?" ejek Ira.
Nadin mengepalkan tangannya.
"Pergilah, Mbak. Jangan pernah mengganggu pacarku lagi!"
Nadin dan Ira sama-sama memberikan tatapan tajamnya. Mereka seolah benar-benar sedang memperebutkan satu laki-laki.
"Din, lebih baik kita pergi dari sini!" bisik menejernya, dia menarik artisnya itu agar meninggalkan restoran.