Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Jawabanku tergantung dari jawaban Bapak



langit yang tadinya gelap berubah terang karena matahari sudah memperlihatkan sinarnya. Kokok ayam dan kicauan burung juga sudah mulai terdengar dan saling bertautan.


Ira mulai menggeliatkan tubuhnya dan membuka kedua matanya secara perlahan. Pantulan sinar matahari yang masuk melalui celah gorden membuat Ira terpaksa menghalau sinar tersebut menggunakan telapak tangan. Setelah kesadarannya mulai penuh, ia kemudian bangun dari posisinya.


"Pak Arvin." Panggil Ira saat melihat kekasihnya tersebut tertidur di lantai dengan kepala yang bersandar pada bibir tempat tidur. Ira mencoba kembali mengingat kejadian yang terjadi semalam. Iya, Ira ingat kalau dirinya menyuruh Arvin untuk bernyanyi dan berjoget sampai dirinya tertidur.


"Apa Pak Arvin benar-benar melakukan itu semalam?" pikir Ira dalam hati. Dia sendiri tidak ingat kejadian yang terjadi setelah dirinya memberi hukuman tersebut kepada Arvin karena ia langsung tertidur pulas.


"Pak, Pak Arvin." Dengan hati-hati Ira mencoba membangunkan kekasihnya tersebut. "Pak Arvin, Pak. Bangun!" Panggil Ira sekali lagi.


"Jam berapa ini?" tanya Arvin ketika ia mulai membuka matanya.


"Jam setengah enam."


"Astaghfirullah hal adzim. Kenapa kamu baru bangunin aku sih, Sayang?"


"Aku juga baru bangun."


"Ya udah cepetan ke kamar mandi!" suruh Arvin.


"Untuk apa, Pak?" tanya Ira bingung. "Awas lho Pak jangan berpikiran yang macam-macam! Meski aku belum menjadi wanita muslim yang taat sepenuhnya. Tapi, aku masih tahu batasan saat bergaul lho, Pak." Ira menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.


"Ish, dasar kamu ini. Siapa yang berpikiran macam-macam, otakmu tuh yang punya pikiran macam-macam!" Arvin memukul kening sang kekasih menggunakan ujung jari telunjuknya.


"Terus ngapain Pak Arvin nyuruh aku ke kamar mandi?"


"Astaga, Ira. Ini sudah siang dan aku yakin kamu belum salat subuh juga kan? Makanya buruan ke kamar mandi buat wudhu terus kita lakukan kewajiban kita kepada Sang Khalik," jawab Arvin. Meski dia bukan ahli agama setidaknya selama Arvin tidak pernah meninggalkan ibadah wajib tersebut. Pun sama halnya dengan Ira, meski dia bukan termasuk wanita muslimah yang taat, tetapi ia tidak pernah meninggalkan hal yang wajib.


Buru-buru kedua orang itu lari ke kamar mandi masing-masing untuk berwudhu, setelah itu keduanya langsung menunaikan kewajiban mereka. Dan sekarang kedua orang itu sudah duduk di ruang tamu.


"Pak Arvin nggak kerja?" tanya Ira kepada kekasihnya tersebut.


"Kerja. Tapi sebentar lagi."


"Ohya, Pak Arvin belum menjelaskan kepadaku soal perkataan Hana kemarin lho. Pak Arvin nggak lupa kan?"


"Kamu mau aku menceritakan dari mana?"


"Ya terserah Bapak yang pasti kalau Bapak ternyata udah membohongi aku, maka saat itu juga kita putus," jawab Ira.


"Kamu ini, belum juga aku menjelaskan semuanya sudah ngancam putus." Arvin mencebik.


"Pak, ingat ya dalam sebuah hubungan itu kejujuran adalah yang nomer satu. Saat kita memutuskan untuk berpacaran harus ada beberapa komitmen yang harus kita pegang, salah satunya ya itu kejujuran."


"Komitmen?" Arvin berpura-pura memikirkan sesuatu. "Perasaan saat itu kita mutusin buat pacaran cuma karena kita ingin bercium an kan?"


"Ish. Kenapa yang Pak Arvin inget itu sih? Apa pun alasan awal kita berpacaran, Pak Arvin sekarang dalah pacarku, jadi Pak Arvin harus jujur!"


"Meskipun nantinya itu bakal membuat hubungan kita merenggang?" tanya Arvin lagi.


"Maksud Pak Arvin?"


"Aku mau tanya sama kamu, seandainya semua yang Hana katakan tadi benar apa yang akab kamu lakukan?"


"Aku.... "


"Apa kamu akan melepaskan aku untuk Hana?"


Ira terdiam. Dia mengira Arvin akan langsung mengatakan kepadanya kalau semua yang sahabat lamanya itu katakan tidak benar.


"Ira."


"Bapak mencintaiku tidak?"


"Kenapa?" Arvin balik tanya.


"Karena jawabanku tergantung dari jawaban Bapak." Ira menatap bola mata milik Arvin.