
"Kok nggak dihabisin makanannya?" tanya Vano saat melihat Queen meletakkan sendok dan garpu yang ada di tangannya di atas piring.
"Aku sudah kenyang, Kak," jawab Queen.
"Ya sudah kalau kamu memang sudah kenyang, tapi jangan langsung tidur. Nggak baik kalau habis makan langsung tidur," ujar Vano. Dia kemudian merapikan piring bekas tempat makan Queen tersebut dan membawanya ke luar dari kamar.
Saat itulah Vano melihat Arvin yang sedang berada di balik pintu.
"Ar, kenapa kamu nggak masuk?" tanya Vano. "Kalau ada hal yang mau kamu bicarakan sama Queen masuk saja! Dia sudah lebih tenang sekarang dan bisa diajak berbicara."
"Aku tahu. Sejak tadi aku sudah ada disini mendengarkan pembicaraan kalian," jawab Arvin. Dia kemudian menghela napas panjangnya.
"Mau bicara denganku?" tanya Vano, dia tahu kalau ada yang ingin dibicarakan oleh Kakak dari Queen tersebut.
Arvin mengangguk. "Aku tunggu kamu di teras belakang saja," jawabnya.
"Oke, aku taruh ini dulu ke dapur." Vano menunjukan piring kotor di tangannya.
Arvin terlebih dulu pergi ke teras belakang. Tidak lama kemudian, Vano pun datang. Dia melihat sahabatnya tersebut duduk sambil menyalakan rokok.
"Tumben ngerokok? Ingat, Vin, baik adik dan pacar kamu tidak suka dengan laki-laki perokok," ujar Vano.
"Aku tahu. Tapi, aku hanya butuh sesuatu yang bisa mengalihkan rasa bersalahku kepada adikku. Sebagai Kakak aku merasa gagal karena tidak bisa melindungi adikku," ucap Arvin. Karena tidak terbiasa merokok, Arvin terus saja batuk.
"Buang ini!" Vano merebut batang rokok yang ada di sela jari Arvin lalu membuangnya ke tanah. Dia menginjak rokok tersebut agar mati. "Kamu bukan dukun atau paranormal yang bisa memprediksi kejadian apa yang akan terjadi di masa depan, jadi jangan terus menyalahkan diri sendiri," jawab Vano.
Vano menghela napas panjangnya. Iya, Arvin benar, dia juga terus menyalahkan dirinya sendiri. Ada banyak kata seandainya yang terus berlarian di dalam kepalanya. Tapi, ia sadar jika semua kata seandainya itu tidak dapat merubah hal yang sudah terjadi. Jadi, yang bisa dia lakukan adalah menerimanya, meski itu sulit.
"Ar."
"Hm?"
"Aku ingin menikahi Queen."
Jawaban Vano membuat Arvin menatap ke arah sahabat sekaligus sisten pribadinya itu.
"Kamu serius? Maksudku... kamu melakukan ini bukan karena kamu iba dengan hal yang menimpa Queen saat ini, kan? Karena jika itu alasannya aku tidak setuju dan aku yakin Queen juga tidak akan mau," tanya Arvin.
"Kamu tahu sendiri, kan, kalau sejak adikmu SMP aku sudah jatuh cinta dengannya. Dan rasanya menunggu hingga dia cukup umur itu lama sekali. Tadinya aku mau malamarnya setelah dia lulus kuliah, tapi gara-gara kejadian itu, membuatku ingin selalu berada disisinya agar bisa menjaganya setiap saat. Aku tidak mau hal seperti ini terjadi lagi pada Queen," jelas Vano.
"Tapi, Van. Kita memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Queen di hari itu. Tapi... jika dugaan dokter kemarin benar, apa kamu masih mau menerima adikku itu? Aku tidak mau kelak kamu atau keluargamu memandang rendah adikku gara-gara kejadian ini," ucap Arvin. Sebagai Kakak dia tidak mau adiknya direndahkan dikemudian hari.
"Selamanya aku tidak akan melakukan itu. Apa pun yang terjadi padanya, tidak akan pernah merubah pandanganku tentang Queen. Dia tatap menjadi wanita terhormat di mataku," jawab Vano tegas.
"Jika kamu sudah yakin, aku pasti akan mendukungmu. Nanti utarakan saja keinginanmu tersebut kepada Ayah dan Bunda." Arvin menepuk pundak Vano sebagai bentuk dukungannya.
"Terima kasih, Ar," ucap Vano sambil tersenyum.