
Ira memegang ponsel miliknya sambil terus tersenyum. Dia merasa senang karena mendapat nomor ponsel bosnya itu. Rasanya lebih menyenangkan dari kejutan yang diberikan oleh mommy daddy-nya saat ia berulang tahun.
"Kira-kira kalau sekarang aku telepon Pak Arvin dan bilang kalau aku tersesat, dia akan langsung nyari aku nggak sih?" gumam Ira sambil menatap ke nomor bosnya tersebut. "Aku coba ah. Eh, tapi, kalau Pak Arvin lagi sibuk, bukannya mencariku, pasti dia akan marah dan kesal. Sudahlah, kapan-kapan saja aku hubungi Pak Arvinnya."
Ira memasukkan telepon genggamnya di dalam saku celana yang dia pakai.
"Ternyata pergi sendirian membosankan," keluh Ira. Dia melihat kesekelilingnya berharap bisa bertemu dengan orang yang dia kenal. Namun, kenyataannya tidak satu pun dari orang yang ada di tempat itu yang dikenalnya. "Lebih baik aku balik ke villa lagi aja deh."
Baru saja Ira berbalik dan hendak kembali ke villa, ada seseorang yang memanggil namanya.
"Arga? Kok kamu bisa ada di sini sih?" tanya Ira ketika tahu yang memanggil namanya barusan adalah Arga.
"Aku naik mobillah ke sini," jawab Arga.
"Bukan itu maksud pertanyaanku. Maksudku ada urusan apa sampai kamu berada di sini? Bukankah kamu sedang sibuk dengan restoranmu?"
"Aku sengaja ke sini buat nyari kamu."
"Nyari aku? Ada apa? Apa aku membuat kesalahan sama kamu?"
"Nggak kok, enggak. Kamu nggak ada salah sama aku. Aku mencarimu karena ada yang ingin aku minta."
Ira menatap Arga dengan tatapan penuh tanya. "Minta? Minta apa?" tanya Ira kemudian.
"Aku mau minta nomor ponselmu, boleh?"
"Ouh... nomor ponsel, kirain minta apa gitu."
"Memang kamu kira aku mau minta apa?"
"Tidak. Ku kira kamu mau meminta aku membayar makanan yang aku makan tadi karena aku terlalu banyak makan," jawab Ira. Arga tertawa mendengar jawaban dari Ira tersebut. Dia tidak menyangka jika gadis kaya raya yang ia sukai sejak dulu memiliki sifat sepolos itu.
"Mana mungkin aku memintamu membayar makanan tadi. Aku malah ingin bisa menafkahimu selamanya." Arga berujar.
"Maksudmu?"
"Tentu saja boleh." Ira meminta Arga memberikan telepon genggam miliknya, kemudian dia mulai mengetikan nomor ponselnya ke pada layar ponsel milik pria itu.
"Itu nomorku," ucap Ira sambil menyerahkan kembali telepon genggam milik Arga.
"Terima kasih ya, Qilla," ucap Arga. Ira terlejut saat mendengar Arga memanggilnya dengan Qilla.
"Qilla? Siapa dia?" Ira pura-pura menanyakan nama itu kepada Arga.
"Aku tahu namamu adalah Qilla, anak dari Dion Sebastian dan Mikha Wijaya, cucu dari Rangga Wijaya. Tapi, tenang saja. Aku akan berpura-pura tidak tahu tentang identitasmu," jawab Arga.
Ira menatap Arga. "Apa yang kamu inginkan sebenarnya? Aku yakin kamu sengaja mencariku kan? Apa kamu utusan mommy sama daddy ku?" tanya Ira lagi.
"Bukan. Aku bukan utusan mereka, tapi, aku memang sengaja mencarimu," jawab Arga.
"Untuk?"
"Untuk menagih janjimu waktu kecil." Ira semakin tidak mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh Arga.
"Janji? Janji apa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ira yang semakin penasaran dengan sosok Arga yang sebenarnya.
"Kita pernah bertemu saat usiamu sekitar 6 atau 7 tahun, saat itu.... "
Belum selesai Arga menjelaskan ponsel milik Ira berbunyi.
πΈπΈπΈ
Yuk gaes ikuti GA Mr. Perfect & Miss Careles
ππππ