
Begitu masuk kedalam villa, Ira langsung duduk di meja makan, kebetulan Arvin baru saja membeli makanan dari luar.
"Pak, aku boleh makan ini kan?" tanya Ira begitu selesai menaruh nasi dan lauk ke dalam piringnya sendiri.
Arvin melihat ke arah piring yang dipegang oleh asistennya itu. "Misalkan aku gak ngebolehin kamu makan, apa kamu akan ngembaliin makanan itu?" Bukannya menjawab Arvin malah balik bertanya.
"Gak juga sih, Pak. Aku bakalan tetep maksa supaya bisa makan ini," jawab Ira disertai senyum khasnya. "Lagian emang Bapak bisa ngabisin makanan sebanyak itu?" lanjut Ira.
"Sudahlah, gak usah banyak bicara lagi. Kita makan aja. Aku yakin kamu juga sudah lapar kan?"
Ira tersenyum senang. "Makasih, Pak Arvin yang baik hati."
Tanpa basa-basi lagi, Ira langsung menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri. Arvin yang melihat itu hanya bisa menggeleng.
Akhirnya hari itu bisa mereka lalui dengan tenang. Keduanya beristirahat di kamar masing-masing saat malam menjelang.
*
Malam itu langit Jogja tampak gelap, tidak ada bintang atau pun bulan yang terlihat.
"Sepertinya akan hujan," batin Ira sambil menatap langit melalui kaca jendela kamarnya. "Semoga saja gak mati lampu," ucap Ira penuh harap. Selama ini Ira tidak pernah tidur dalam kondisi lampu dimatikan. Dia selalu tidur dengan lampu yang menyala. Baru saja dia berhenti berbicara, hujan langsung turun disertai angin yang kencang, dan kilatan cahaya petir, serta suara petir yang menggelegar.
Karena takut akan mati lampu, Ira pun naik ke lantai dua untuk menemui Arvin.
"Pak. Pak Arvin!" panggil Ira sambil mengetuk pintu kamar bosnya.
"Ada apa?" sahut Arvin dari dalam kamar.
"Pak, buka pintunya dong!" suruh Ira.
Tidak lama terdengar suara pintu dibuka. "Ada apa?" tanya Arvin dari balik pintu yang baru dibuka tersebut.
"Ira, ini sudah malam. Emang kamu sudah buat kontrak kerjasama yang diminta oleh Pak Tama tadi siang?"
"Justru karena aku belum buat. Pak Arvin mau ya temenin aku?"
"Aku ngantuk. Kamu buat aja sendiri, besok baru aku koreksi," jawab Arvin, dia sudah sangat mengantuk dan ingin secepatnya merebahkan dirinya di kasur. Saat Arvin hendak menutup pintu kembali Ira menahan pintu itu dengan tangannya.
"Ada apa lagi?" tanya Arvin.
"Pak, plis temenin aku ngobrol ya. Aku janji kalau hujan, petir, dan anginnya sudah reda Pak Arvin boleh deh tidur lagi," pinta Ira.
Arvin menaikkan alisnya.
"Pak sebenarnya aku takut kalau mati lampu. Selama ini aku gak pernah tidur dengan lampu padam. Aku selalu tidur dengan lampu tetap menyala."
"Terus?"
"Biasanya, kalau ada hujan yang disertai petir dan angin yang kenceng, lampu pasti mati. Jadi, temani aku ya, Pak Arvin. Bapak tenang saja, Bapak boleh tetep tidur kok di sofa, aku gak akan ganggu Bapak tidur. Aku hanya butuh teman saja," ucap Ira dengan hati-hati. Dia tidak mau Arvin memiliki pikiran negatif tentang dirinya.
"Tapi kan lampunya belum mati. Udah nanti kalau lampu mati, baru aku temenin kamu ngobrol di ruang tengah." Arvin hendak menutup pintu kamarnya kembali, namun lagi-lagi ditahan oleh Ira.
"Aku mohon, Pak!" Ira memasang wajah memelasnya sebagai senjata terakhir.
"Ira, plis ya. Aku ngantuk. Nanti saja kalau nanti beneran mati lampu aku temenin kamu ngobrol. Sekarang kan lampunya belum mati, jadi kamu gak perlu takut." Arvin menyingkirkan tangan Ira yang menahan pintu kamarnya untuk ditutup.
"Tap.... " Belum selesai Ira berbicara, Arvin sudah menutup pintunya. Tepat pada saat itulah, petir kembali terdengar dan bersamaan dengan itu lampu pun padam.
"Pak Arvin." Teriak Ira dari luar pintu sambil menutup kedua telinganya sambil memejamkan mata.