
"Nah, kalau begini kamu bisa mandi dengan nyaman," ujar Arvin setelah melepas aksesoris di rambut istrinya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa aku salah?" tanya Arvin bingung.
"Tidak. Aku kira tadi Pak Arvin mau.... " Ira memilih tidak melanjutkan perkataannya. Tadinya ia pikir suaminya akan melakukan sesuatu terhadapnya barusan. Tapi, ternyata pikirannya salah. Arvin ternyata membantunya melepaskan hiasan di kepala.
"Sayang, aku tahu kamu capek. Jadi, aku nggak akan melakukan apa pun terhadapmu malam ini," ujar Arvin. Dia kemudian mendekatkan kepalanya ke telinga Ira sambil berbisik, "Tapi, tidak untuk besok malam. Besok malam aku tidak akan melepaskanmu."
Blush!
Wajah Ira merona mendengar itu. "Ih, Pak Arvin ngomong apa sih?" ucap Ira dengan wajah malu-malu.
"Sudah sekarang mandi, sesuai janjiku habis kamu mandi aku akan memijit kakimu biar nggak pegal," tutur Arvin lembut. "Aku keluar sekarang ya? Kalau kamu butuh bantuan, tinggal panggil saja aku. Aku ada di luar."
Ira mengangguk. Sebelum keluar dari kamar mandi, Arvin mencium kening istrinya terlebih dulu.
***
Di kamar lain....
Vano yang sudah berganti pakaian segera mendekat ke arah Queen ketika melihat wanita itu sedang duduk di tepi ranjang sambil melamun.
"Ada apa? Kenapa melamun?" tanya Arvin.
"Tidak apa-apa," jawab Queen.
"Sudah mandi?"
"Sudah," jawab Queen. Wanita itu terlihat meremas tangannya sendiri.
"Kamu benar-benar tidak apa-apa Queen?" tanya Vano memastikan.
Queen menggeleng.
"Apa aku sudah boleh menyentuhmu?" tanya Vano meminta izin.
"Queen kamu tidak apa-apakan?" tanya Vano. Dia mencemaskan keadaan istrinya tersebut.
"Kak... Aku.... "
"Tidak apa-apa, jika kamu belum siap jangan memaksakan diri. Hm?" ujar Vano.
"Aku... aku minta maaf, Kak. Aku nggak... aku nggak bermaksud.... " Queen tidak melanjutkan kata-katanya dia hanya menangis sambil menutup wajahnya.
"Queen, jangan menangis. Aku sudah bilang kan, aku tidak akan pernah menyentuhmu selama kamu belum siap. Aku menikahimu untuk bisa menjagamu dan membuatmu merasa nyaman. Jika kamu tidak nyaman saat aku sentuh, aku tidak akan menyentuhmu. Jadi, jangan takut ya." Dengan sabar Vano berusaha untuk menenangkan istrinya tersebut.
"Queen," panggil Vano.
Queen menyingkirkan tangan yang ia gunakan untuk meutup wajahnya. Dia kemudian menatap Vano seolah sedang bertanya benarkah laki-laki itu tidak merasa keberatan dengan tingkahnya sekarang?
"Besok kita psikiater lagi, kita hilangkan traumamu itu pelan-pelan. Oke?"
Queen kembali mengangguk.
"Sekarang tidurlah! Jika kamu merasa tidak nyaman aku tidur di sini, aku akan tidur di kamar lain," ucap Vano lagi.
"Aku tidak masalah soal itu, Kak. Tubuhku hanya bereaksi dengan sentuhan. Jika Kakak hanya tidur diam di sebelahku, aku tidak akan merasakan apa pun," tutur Queen.
Quee mengambil guling dan meletakkan diantar dirinya dan Vano.
"Kakak tidak keberatan kan kalau kita tidur pakai pembatas ini?" tanya Queen kepada suaminya.
"Aku tidak keberatan kok," jawab Vano sambil tersenyum.
"Terima kasih ya, Kak. Terima kasih sudah mau memahami kondisiku. Aku berjanji akan berusaha untuk secepatnya menghilangkan trauma itu," ungkap Queen.
"Iya, Sayang. Sekarang tidurlah! Aku tahu kamu pasti capek berdiri seharian!"
Queen mengangguk. Sepasang pengantin baru itu akhirnya merebahkan diri di atas tempat tidur tersebut dengan guling di tengah-tengah mereka.