
Di kamar Queen....
Keadaan Queen fisik Queen sudah berangsur membaik, tetapi tidak psikisnya. Gadis itu masih sering terdiam sambil duduk di dekat jendela kamarnya, tatapannya kosong seolah tidak ada lagi hal yang membuatnya tertarik di luaran sana.
"Queen, ini aku bawakan makanan untuk kamu. Sekarang sudah saatnya kamu makan setelah itu minum obat ya supaya kondisi tubuh kamu segera membaik," ujar Vano. Sahabat dari Arvin itu datang dengan membawa nampan berisi makanan di tangannya.
Queen masih diam tidak menjawab.
"Lihatlah, semua makanan ini adalah makanan kesukaan kamu, ini semua spesial bunda buatin buat kamu," ucap Vano lagi.
"Kak, apa para penjahat itu sudah ditangkap?" tanya Queen.
"Sudah, semua sudah ditangkap tanpa terkecuali. Jadi sekarang kamu bisa tenang," jawab Vano.
"Lalu bagaimana dengan Kak Ira? Apa Kak Arvin berhasil membebaskan dia?" tanya Queen lagi.
"Sudah," jawab Vano. "Queen kemungkinan kamu juga akan dimintai keterangan oleh polisi sebagai saksi. Jika kamu merasa belum siap, katakan saja nanti aku akan cari cara agar kamu bisa menunda itu jika kamu mau."
"Aku sudah baik kok, Kak," jawab Queen.
"Ya sudah, besok aku dan Arvin akan menemanimu ke kantor pilisi untuk memberikan keterangan. Sekarang lebih baik makan semua makanan ini dulu, setelah itu minum obat!" suruh Vano.
Queen mengangguk, dia kemudian duduk di salah satu sofa yang ada di dalam kamarnya.
"Mau makan sendiri atau mau aku suapin?" Vano menawarkan.
"Kak," panggil Queen setelah satu sendok makanan masuk ke dalam mulutnya.
"Ada apa? Apa kamu tidak suka dengan makanannya?" tanya Vano.
"Bukan itu."
"Lalu?"
Queen menatap Vano sebentar lalu menarik napas dan membuangnya. "Kenapa Kakak, Kak Arvin, ayah, dan juga bunda tidak menanyakan apa yang terjadi padaku kemarin? Apa kalian tidak ingin mengetahuinya?"
Pertanyaan Queen tentu saja membuat Vano menatap kearahnya. "Tentu saja kami ingin mengetahui semua hal yang terjadi kepadamu kemarin. Tapi, kami tidak ingin memaksamu. Kami yakin saat kamu ingin menceritakannya kepada kami, kamu pasti akan menceritakan semuanya. Sebaliknya, jika kamu tidak ingin kami mengetahui apa pun yang menimpamu kami tidak akan pernah memaksa. Yang jelas, apa pun yang terjadi padamu kami tetap menyayangimu Queen," jawab Vano dengan mata berkaca-kaca.
"Apa pun itu?" tanya Queen lagi sambil menatap kedua bola mata Vano.
"Apa pun itu," jawab Vano.
"Meski... aku tidak sama seperti dulu lagi?" tanya Queen.
Untuk sesaat Vano terdiam, hati mencelos mendengar pertanyaan itu. Bukan karena dia tidak bisa menerima apa pun yang terjadi kepada Queen kemarin, hanya saja hatinya ikut merasakan sakit jika memang hal buruk itu benar terjadi kepada wanita yang disayanginya.
"Bagiku kamu tetap sama, jadi tetaplah tersenyum karena duniaku akan terasa hampa tanpa melihat senyum di wajahmu itu," jawab Vano dengan suara bergetar menahan segala rasa yang berkecamuk di dalam dada. Dia ingin marah, tapi pada siapa? Otak dari segala kejadian kemarin sudah meninggal ditembak polisi. Seandainya dia menjemput Queen tepat waktu kemarin hal buruk itu pasti tidak akan terjadi pada wanitanya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Arvin yang berdiri di balik pintu kamar adiknya. Hatinya terluka, dia merasa gagal menjadi seorang kakak karena tidak bisa menyelamatkan adiknya sesegera mungkin kemarin. Seandainya dia bisa lebih cepat datang, Queen pasti akan baik-baik saja.