Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Bukan nyumpahin



"Akhirnya aku menemukan jurusan yang ingin aku pilih," jawab Ira.


"Sungguh? Apa itu?"


"Aku ingin menjadi seorang dokter, aku ingin bisa menyelamatkan nyawa orang," jawab Ira bersemangat.


Arvin tersenyum mendengarnya. Dia ikut senang karena Ira sudah menemukan hal yang diinginkannya. Sekarang tugas Arvin adalah memastikan agar Ira bisa diterima di universitas yang diinginkannya.


"Tapi.... "


"Kenapa lagi?" tanya Arvin ketika melihat Ira yang kembali tidak bersemangat lagi.


"Apa aku benar-benar bisa menjadi seorang dokter?"


"Bisa. Aku yakin kamu bisa."


"Sudah hampir dua tahun otakku tidak pernah aku gunakan untuk untuk berpikir. Mungkin banyak pelajaran waktu sekolah dulu yang sudah aku lupakan, menurutmu apa aku akan bisa keterima?"


"Kalau begitu belajar lagi. Buktinya barusan kamu kan yang mempunyai refleks cepet sama ibu-ibu yang pingsan tadi. Bahkan kamu tahu kalau orang itu kena serangan jantung."


"Itu karena aku sering ikut mommy ke rumah sakit dulu. Aku sering memperhatikan mommy saat menangani pasiennya. Mungkin karena itu kali aku jadi tahu kalau ibu tadi mungkin terkena serangan jantung. Tapi untuk materi pelajarannya aku kan sudah lupa." Ira kembali tidak bersemangat.


"Belum apa-apa sudah nyerah. Bilang saja kalau kamu nggak mau sedikit berusaha pakai sok-sokan lupa pelajaran lagi. Dasar pemalas!"


"Aku bukan sok-sokan, Pak. Kan emang aku lupa sama pelajaran waktu SMA dulu." Ira berusaha membenarkan alasannya.


"Itu bukan alasan."


"Tapi, bagaimana aku belajar kalau nggak ada buku?" tanya Ira lagi.


Arvin menepikan mobil yang dikendarainya. Dia sedikit menyerongkan posisi duduknya untuk menatap Ira.


"Buku-buku sekolah kamu dulu masih ada kan?"


Ira mengangguk. "Ada, tapi di rumah. Bagaimana aku bisa belajar?"


"Kamu punya hape?"


"Punya mata?"


"Punyalah, makanya aku bisa melihat wajah menyebalkan Bapak," jawab Ira yang sudah mulai sewot.


"Otakmu masih berfungsikan? Dia juga masih utuh di kepalakan? Nggak sedang gegar otak atau yang lainnya?" Pertanyaan Arvin malah semakin membuat Ira kesal.


"Bapak nyumpahin aku gegar otak?"


"Siapa yang nyumpahin? Aku kan tanya. Bedakan ya antara kalimat tanya sama nyumpahin."


Ira mendengkus.


"Terus apa korelasinya antara hape dan otak, sama aku bisa keterima jadi mahasiswa kedokteran?" jawab Ira.


"Ya ada-lah. Kamu bilang buku pelajaranmu ada di rumah, kamu kan bisa mencari materi pelajaran lewat internet, selain itu kamu juga bisa pinjam buku di perpustakaan kota. Intinya selama otakmu berfungsi dan masih baik-baik saja, kamu masih bisa mencari materi lewat apa aja. Jadi, jangan gunakan alasan bukumu ada di rumah buat nggak berusaha!" Arvin mengatakan itu sambil menatap mata Ira. "Kan emang dari awal kamu ke Jogja nggak bawa buku."


Ira masih diam sambil menatap Arvin kesal.


"Kecuali kalau memang otakmu itu otak udang," tambah Arvin.


"Kenapa sih Pak Arvin selalu menyebalkan begini?"


"Aku cuma bersikap baik sama orang yang punya otak dan otaknya itu digunain."


"Kalau bukan karena kamu bosku sudah aku timpuk pakai sendal," gumam Ira.


"Kamu bilang apa barusan?"


"Nggak ada. Udah jalan lagi, kita pulang sekarang dari pada aku selalu emosi ada di sebelah Bapak," jawab Ira. Dia memalingkan wajahnya dari Arvin.


Arvin menyalakan mesin mobilnya. Namun, saat dia hendak menginjak gas, dia melihat safety belt milik Ira belum dipasang dengan benar. Arvin lebih mencondongkan tubuhnya lagi ke arah Ira untuk membenarkan safety belt tersebut saat itulah Ira kembali menoleh ke arah Arvin dan membuat bibir mereka tanpa sengaja bersentuhan.


Keduanya seketika terdiam. Bola mata keduanya kembali beradu. Ira ingin marah dengan kejadian barusan, tetapi reaksi tubuhnya lain. Dia menginginkan lebih selain hanya bersentuhan.


"Pak.... " Ira membiarkan matanya terbuka meskipun Arvin sudah memiringkan wajahnya seperti ingin melanjutkan ciuman tersebut. Dia tidak mau berharap atau membayangkan Arvin akan menciumnya karena Ira tidak mau kecewa seperti kejadian sebelumnya.